
"Ele, tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja ti amore (cintaku)." James berbisik pelan pada Elenora sambil mengecup lembut puncak rambut di kepala Elenora yang tubuhnya masih menggigil.
Cladia yang melihat bagaimana kondisi Elenora, tanpa sadar kedua tangannya langsung memegang lengan Ornado, yang langsung menepuk-nepuk lembut punggung tangan Cladia yang sedang berada di lengannya.
Diantara banyak orang yang ada di sana, Ornado tahu kalau Cladia adalah orang yang paling mengerti dengan kondisi Elenora, karena dia sendiri pernah mengalami trauma seperti itu.
Bahkan Ornado tahu, bahwa sampai sekarang pun, Cladia belum 100 persen pulih dari traumanya itu, dan Ornado harus menjaga Cladia dengan sebaik mungkin.
"James, lakukan bagianmu dengan baik, semua orang yang malam itu mencoba untuk melukai Elenora info lengkap tentang siapa mereka dan keberadaan mereka semua ada di situ." Ornado berkata sambil melihat ke arah Elenora yang terlihat sudah mulai tenang, dan menjauhkan kembali tubuhnya dari James, karena kaget dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Ornado.
Karena jika apa yang diucapkan Ornado benar, maka James akan segera tahu bahwa Serafina menjadi otak dari kejadian itu, hal itu tentu saja membuat Elennora khawatir James akan sangat marah begitu mengetahui kebenaran menyakitkan itu.
Tapi apa mau dikata, Elenora mana berani menentang Ornado yang seringkali membuat orang tidak berkutik hanya dengan tatapan matanya yang tajam.
"Terimakasih untuk semuanya Ad. Aku akan pastikan mereka semua akan mendapatkan ganjaran yang setimpal." James berkata sambil mengepalkan salah satu tangannya yang tidak sedang memeluk Elenora.
"Dan di sana, di lembar terakhir, ada info siapa dalang di balik semuanya itu. Untuk dia, terserah apakah kamu mau membicarakannya sekarang di depan semua orang yang ada di sini, atau kalian berdua sepakat untuk tidak mengungkit masalah itu." Perkataan Ornado membuat James membuka lembaran terakhir yang ada di dalam map berwarna hijau itu.
Di sana tertulis lengkap bukti print percakapan antara Serafina dan salah satu preman yang mengepalai yang lain.
Dan juga bukti transfer uang yang dilakukan Serafina ke rekening salah satu preman itu sebanyak 2 kali.
Tanggal transaksi yang pertama menunjukkan tanggal dua hari sebelum kejadian malam itu, dan tanggal transaksi kedua, menunjukkan tanggal yang sama dengan kejadian, dengan waktunya selisih dua jam setelah James menghajar mereka dan membawa Elenora menjauh dari sana.
Kepalan di tangan James tampak semakin erat dengan nafasnya yang memburu, disertai kulit wajahnya yang memerah karena menahan amarah begitu melihat dengan jelas bukti-bukti bahwa yang sudah berusaha mencelakai istrinya adalah Serafina, kakak kandungnya sendiri.
"James...." Elenora berkata pelan sambil memegang pergelangan tangan James, begitu James terlihat begitu marah setelah mengetahui siapa dalam di balik peristiwa itu.
Melihat bagaimana emosinya James, mereka yang ada di sana, yang belum mengerti duduk masalahnya langsung memandang ke arah James dengan tatapan penasaran.
"James, katakan siapa yang sudah berani-beraninya merencanakan perbuatan keji itu pada Elenora! Jika aku bertemu dengannya, aku tidak segan-segan akan emmatahkan kedua tangan dan kakinya!" Ayah Elenora bertanya dengan nada penuh dengan emosi.
"Ehem...." Ornado langsung berdehem dengan suara sedikit keras begitu mendengar perkataan dari papa Elenora.
Sedang Elenora, begitu mendengar perkataan papanya, langsung menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan tatapan mata memohonnya kepada James yang sedang menatap ke arahnya.
"Ele...." James berkata pelan ke arah Elenora yang bibirnya terlihat bergetar dengan mata memohonnya ke arah James yang menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku ti amore, tapi aku tidak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi. Siapapun dia, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." James berbisik pelan ke arah Elenora yang masih terlihat terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau dia membenciku James...." Elenora berbisik pelan dengan suara terdengar parau dan bibir bergetar.
"Percayalah padaku, dia harus membayar perbuatannya agar dia jera, dan tidak ada korban lain di masa depan. Lagipula, dia harus belajar untuk tidak menjadi orang yang egois dan menganggap dirinya yang terbaik dan boleh melakukan apapun yang dia suka tanpa ada yang bisa mencegahnya. Percayalah padaku, kita bisa memutuskan yang terbaik untuk membuatnya bertanggungjawab tentang itu." James berkata pelan, sebelum akhirnya memandang ke arah para orangtua mereka berdua.
James menahan nafasnya beberapa saat sebelum akhirnya benar-benar memutuskan untuk mengatakan siapa sebenarnya yang sudah ingin mencelakai Elenora dengan begitu kejam.
"Maaf harus mengatakan kebenaran yang menyakitkan ini. Tapi seseorang yang ternyata menginginkan Elenora celaka adalah orang yang seharusnya menyanyangi Elenora...."
"Katakan James! Biar aku bisa menemui dan menghajar orang kurangajar itu!" Papa Elenora berkata dengan nada terdengar tidak sabar.
"Serafina... yah... orang itu adalah Serafina. Dalang dibalik peristiwa itu. Orang yang sudah membayar para preman itu untuk mencelakai Elenora." Mereka yang sebelumnya tidak tahu tentang hal itu langsung terdiam dengan wajah tercekat begitu mendengar perkataan James.
Mama Elenora yang mendengar itu, matanya melotot, dan tak lama kemudian matanya meneteskan airmata, tidak menyangka bahwa putri sulungnya sudah bertindak sedemikian kejam kepada adik kandungnya.
Dan jika saja boleh jujur, mama Elenora benar-benar tidak tahu alasan apa yang mendasari Serafina bisa bertindak sekejam itu pada adik kandungnya sendiri.
“Serafina… tega-teganya dia melakukan hal itu pada adik kandungnya sendiri.” Papa Elenora bergumam pelan dengan wajah sangat kecewa, dan sikap tidak percaya
Papa Elenora langsung menghenyakkan tubuhnya di sandaran kursi yang didudukinya begitu mendengar tentang kebenaran yang baru saja dikatakan oleh James.
Rasa marah, frustasi, kecewa, tidak percaya, dan juga kesal pada dirinya sendiri, karena merasa gagal sebagai orangtua, memenuhi dada papa Elenora.