My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
HAMIL LAGI?



Seperti yang dilakukan oleh Ornado, Alvero segera mengangkat tubuh Deanda dalam gendongannya, dan membawanya menyusul Ornado.


“Aduh… bagaimana ini? Sebaiknya kita ikuti mereka.” Evelyn berkata sambil mengajak Freya yang masih melongo dengan wajah bingung, menyusul kedua laki-laki tampan yang sedang menggendong istrinya.


“Dave, ayo kita susul mereka.” Dengan sikap tidak tenang Laurel berkata kepada Dave yang tampak baru saja menarik nfas panjang.


“Oke mo cuisle, tapi kamu tidak perlu sepanik itu. Semuanya akan baik-baik saja. Rumah sakit kita sudah biasa kan menghadapi hal seperti ini.” Dave berkata sambil menenangkan Laurel yang terlihat panik.


“Tapi ini Deanda dan Cladia, mereka… Akhh….” Laurel tidak menyelesaikan kata-katanya dan justru meringis sambil memegang perutnya.


“Kenapa mo cuisle?” Dengan wajah panik, Dave memandang ke arah Laurel.


“Sepertinya… anak kita ingin segera menyusul mereka berdua….”


“Ap… apa…. Apa maksudnya? Mo cuisle, jangan bercanda…” Wajah Dave langsung terlihat panik dengan keringat dingin yang tiba-tiba muncul di keningnya, membuat Laurel ingin tertawa di tengah rasa sakit yang sedang dirasakannya.


Dave yang selama ini dikenal diam, dan tenang, tiba-tiba menjadi panik begitu mendengar Laurel mengatakan bahwa dia juga akan melahirkan, padahal dia sendiri adalah seorang dokter.


Bahkan tanpa berpikir panjang, Dave justru berlari ke arah tangga rumah kacanya, bermaksud mengambil koper berisi pakaian bayi yang sudah disiapkan beberapa waktu sebelumnya, meninggalkan Laurel yang memegan perutnya sambil tangannya berpegangan pada pintu rumahnya.


“Mr Shaw… bantu aku… lupakan dulu yang lain…” Dengan suara terputus-putus, Laurel memanggil Dave yang seolah baru sadar dengan kondisi Laurel, segera berlari kencang ke arah istrinya itu.


“Ah… maaf mo cuisle. Aku akan segera membawamu ke ruang bersalin.” Dengan gerakan terburu-buru, Dave langsung menggendong Laurel, membawanya keluar dari rumah kaca dengan sedikit berlari, membuat Laurel harus menahan nafas karena takut jika saja Dave menjatuhkannya karena tersandung atau terpeleset.


# # # # # # #


“Mateo Xanderson.”


“Xavier Adalvino.”


“Aine Alexa Shaw.”


Baik Ornado, Alvero maupun Dave menyebutkan nama anak-anak mereka dengan wajah bangga dan bahagia, sambil menggendong bayi mereka, sedang Cladia, Deanda dan Laurel yang duduk bersandar di atas tempat tidur rumah sakit, di ruangan mereka masing-masing, tampak tersenyum melihat wajah bahagia dari suami mereka yang sedang menggendong bayi mereka, berdiri di samping tempat istri mereka duduk berselonjor.


# # # # # # #


Dario berteriak sambil memaki tayangan layar monitor besar yang ada di luar ruangannya, tapi tetap  bisa dia lihat karena adanya kaca tebal yang ada diantara dia dan layar monitor itu.


Di layar monitor itu, jelas terlihat wajah cantik Cladia yang sedang tersenyum di samping Ornado, dengan menggendong seorang banyi yang terlihat begitu tamopan dan menggemaskan.


Karena terbukti bahwa Dario mengalami sedikit gangguan kejiwaan, pihak berwenang tidak bisa mengambil tindakan hukum yang mengharuskan dia mendekam di penjara umum seperti penjara untuk pelaku criminal yang dilakukan oleh orang normal.


Karena itu, Ornado sengaja mengambil aih dengan mengirimkannya ke sebuah pulau terpencil, di sebuah rumah sederhana yang dijaga puluhan penjaga, untuk memastikan bahwa Dario tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.


Yang membuat Dario tersiksa, Ornado sengaja membuat Dario mejadi orang yang mengetahui tentang peristiwa yang terjadi di sekitar Ornado dan Cladia, terutama berita-berita bahagia, selalu dikirimkan dengan sengaja kepada Dario, membuat Dario semakin merasa iri, cemburu, bahkan semakin jatuh cinta pada Cladia, tanpa bisa berbuat apa-apa.


3 TAHUN KEMUDIAN….


“Aine….” Baik Mateo maupun Xavier langsung menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus indah kepada Aine yang langsung tersenyum senang.


Sejak ulang tahun mereka yang pertama, baik Ornado, Alvero maupun Dave, sepakat untuk selalu merayakan ulang tahun anak-anak mereka secara bersamaan, berganti-gantian.


Ulang tahun pertama mereka dirayakan di dalam istana Gracetian. Ulang tahun kedua di Irlandia, mansion keluarga Shaw, dan hari ini, ulang tahun ketiga mereka dirayakan di rumah megah milik Ornado dan Cladia.


Aine yang tampak cantik dengan rambutnya yang dikuncir dua dengan pita berwarna merah muda langsung menerima kedua kotak hadiah dari Mateo dan Xavier secara bersamaan, lalu memberikan pada mereka masing-masing kado juga.


“Amore mio… lihat… Mateo, dia terlihat bahagia sekali bisa bertemua teman-temannya. Apa kamu tidak mulai memikirkan agar dia memiliki seorang adik?” Kata-kata Ornado membuat wajah Cladia bersemu merah.


“Apa sudah waktunya?” Dengan suara pelan, Cladia berbisik kepada Ornado yang langsung tersenyum.


“Apa usaha kita kurang keras untuk itu? Apa kita kurang rajin melakukannya? Apa kita perlu membuat jadwal tertulis untuk melakukan itu?” Berbagai pertanyaan dari Ornado membuat Cladia menahan senyum gelinya.


“Kalau menuruti keinginanmu, pasti jadwalku akan dipenuhi dengan hal itu, padahal akhir-akhir ini, aku merasa sedikit kurang enak badan karena….” Cladia menghentikan bicaranya, karena dilihatnya tiba-tiba saja Ornado memegang perutnya dengan satu tangannya, sedang tangannya yang lain menutup mulutnya.


“Kenapa denganmu Al?”


“Entahlah… tiba-tiba saja aku merasa mual dan ingin muntah… kepalaku beberapa hari ini juga terasa sedikit pening setiap pagi saat bangun tidur.” Ornado berkata sambil matanya menatap ke arah kamar mandi.