My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RASA KECEWA JAMES



Siapapun yang melihat tampilan Elenora malam itu pasti tidak akan pernah menyangka bahwa Elenora yang selalu tampil culun dan kampungan, adalah Elenora yang sama yang saat ini terlihat seperti putri dari negeri dongeng cantiknya.


Sungguh terlihat sungguh... sangat cantik.


“Terimakasih Serafina, terimakasih.” Elenora mengucapkan terimakasihnya kepada Serafina dengan tidak habis-habisnya karena dia sendiri tidak percaya bahwa jika dia mau mengubah penampilannya, ternyata dia sungguh terlihat sangat cantik.


Tanpa kacamata berbingkai tebal yang membuatnya seperti orang yang kurang ?pergaulan dan kutu buku, juga dengan tatanan rambutnya yang terlihat anggun dan indah dipandang malam ini, Elenora sungguh merasa sudah mengalami transformasi besar-besaran dari seorang upik abu menjadi seorang Cinderella.


(Transformasi merujuk pada perubahan rupa, baik itu dari bentuk, sifat, ataupun fungsi. Transformasi juga memiliki arti berupa perubahan struktur gramatikal menjadi struktur gramatikal lain dengan menambah, mengurangi, atau menata kembali unsur-unsurnya).


“Hanya untuk malam ini, dan seperti cerita Cinderella, besok kamu harus sudah kembali ke penampilanmu biasanya.” Serafina berkata sambil sedikit menelan ludahnya, karena dia sendiri merasa kaget dengan perubahan besar yang terjadi pada Elenora.


Meskipun membuatnya tidak nyaman, sakit hati dan iri, tapi Serafina harus mengakui bahwa Elenora terlihat begitu cantik dengan penampilan barunya.


Amat sangat cantik! Membuat Serafina merasa begitu tersaingi.


Selama ini dengan penampilan culun Elenora, Serafina berhasil membuat orang selalu fokus padanya karena dia yang selalu tampil cantik dan mempesona.


Tapi malam ini, penampilan memukau Elenora menyadarkan Serafina bahwa hanya sebuah keberuntungan yang dia miliki sehingga dia diincar oleh para pencari bakat untuk dilatih dan dididik menjadi super model terkenal.


Jika saja mereka tahu sosok Elenora sebenarnya, Serafina yakin para pencari bakat yang dulu mengejar-ngejarnya akan mengejar Elenora juga.


Untung saja anak kecil ini terlalu mudah untuk dibodohi, sehingga selalu menuruti semua perkataan dan perintahku. Dan yang penting, dia begitu takut kepadaku. Asal dia tetap dalam kendaliku, dia tidak akan pernah bisa muncul untuk menjadi pesaingku.


Serafina berkata dalam hati sambil melirik ke arah handphonenya yang menyala karena adanya panggilan masuk.


“Elenora, sepertinya sudah waktunya kamu pergi untuk segera bertemu dengan James.” Kata-kata Serafina langsung menyadarkan Elenora yang masih memandang dirinya sendiri dengan tatapan tidak percaya dan takjub pada dirinya sendiri di depan kaca.


Apalagi kilauan penjepit rambut yang dipinjamkan Serafina padanya, menyempurnakan penampilannya, dan juga membuatnya terpana karena penjepit itu membuatnya semakin terlihat cantik dan mempesona.


“Ah ya. James orang yang tidak suka menunggu lama. Terimakasih sudah mengingatkanku. Kamu memang kakak yang terbaik.” Elenora berkata dengan wajah terlihat bahagia.


Ah, aku jadi merasa bersalah kepada Elenora. Apa seharusnya aku membatalkan perintahku kepada orang itu? Tapi kenapa aku khawatir? Toh aku hanya memerintahkan mereka untuk mencegah Elenora bertemu dengan James dan menakut-nakuti Elenora agar tidak lagi berpikir untuk berdandan secantik itu. Aku yakin tidak akan sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada Elenora.


Serafina berkata dalam hati dengan sikap gelisah karena rencana yang sudah dibuatnya untuk membuat Elenora ke depannya tidak lagi ingin tampil cantik seperti hari ini, cukup membuat Serafina merasa bersalah dan ragu.


Karena ucapan terimakasih Elenora yang dikatakannya barusan dengan wajah polos dan sikap tulus, membuat Serafina merasa tidak enak hati.


Dengan cepat Elenora meraih air putih dalam botol yang selalu disiapkannya di nakas dekat tempat tidurnya, karena kebiasaan Elenora jika merasa tidak nyaman atau gelisah, dia mencoba menenangkan diri dengan minum air putih sebanyak-banyaknya.


Secepatnya Elenora menenggak air putih yang ada di botol tersebut dan setelah meletakkannya kembali ke atas nakas, Elenora menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.


Namun, pikiran Elenora kembali lagi ke malam itu, dimana tanpa merasa curiga dan justru dengan begitu bahagia Elenora yang sudah berdandan begitu cantik keluar dari rumahnya, menunggu taksi yang lewat untuk pergi ke sebuah café, tempat yang sudah ditetapkan oleh James untuk mereka bertemu, dan selanjutnya bersama-sama berangkat ke tempat undangan pesta ulang tahun diadakan.


Di tempat lain, tanpa mengetahui apa yang terjadi pada Elenora, James yang menunggu kedatangan Elenora terlihat tidak tenang karena sudah lebih dari 30 menit dia menunggu dan Elenora, namun gadis itu tidak kunjung datang.


Sial, beraninya Elenora melanggar janjinya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sepertinya aku sudah salah menilai Elenora sebagai gadis lugu yang tidak akan membuatku kecewa. Harapanku terhadapnya terlalu tinggi. Beraninya gadis yang terlihat polos itu mempermainkan aku.


James mengomel dalam hati sambil melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangannya.


Sudah lewat 5 menit dari terakhir dia melihat jam itu untuk menghitung keterlambatan Elenora selama 30 menit sebelumnya.


Gadis itu benar-benar tidak bisa diharapkan. Padahal aku begitu percaya padanya. Sepertinya aku harus datang sendiri ke pesta itu dan menyelesaikan sendiri masalahku. Awas saja kamu Elenora. Kalau kita bertemu lagi aku benar-benar akan menjewer telingamu, menjitak kepalamu, mencubit lenganmu. Awas saja! Kamu tidak akan bisa melarikan diri kalau bertemu denganku.


James kembali mengomel dalam hati dan bangkit dari duduknya, memutuskan untuk berangkat ke pesta ulang tahun itu sendirian.


Jika boleh jujur, sebenarnya James malas sekali harus menghadiri pesta itu tanpa pasangan, karena dia tahu rencana  dari gadis itu.


Akan tetapi, karena mengingat bahwa orangtua gadis itu merupakan salah satu rekan bisnis keluarganya dan kenal dekat dengan kedua orangtua James, sebagai anak James cukup tahu diri untuk menjaga nama baik dan memberi muka pada orangtua mereka.


Haist. Sungguh menyebalkan. Gara-gara Elenora semua rencanaku jadi berantakan. Kalau tahu akhirnya seperti ini, lebih baik dari awal aku merayu Ornado agar menemaniku. Meskipun berpasangan dengan Ornado, paling tidak mereka tidak akan berani menggodaku karena Ornado yang aku ajak untuk menemaniku.


James yang sudah memarkir mobilnya di depan hotel mewah tempat acara pesta ulang tahun itu diadakan, masih saja mengomel tanpa henti dalam hati sejak dia meninggalkan café yang awalnya dibuat sebagai tempat pertemuannya dengan Elenora.


Dengan langkah tidak bersemangat, James memasuki main hall hotel tempat diadakannya pesta.


James sungguh berharap tidak ada satupun diantara para tamu undangan yang menyadari kehadirannya di pesta itu.


Karena James terlambat cukup lama, dia berpikir bahwa semua sedang asyik menikmati pesta itu tanpa perduli padanya saat dia memasuki area tempat pesta.


Tapi sayangnya apa yang terjadi di depannya sungguh membuat perasaan James campur aduk menjadi satu, antara marah, jengkel, tidak terima, tersinggung, dan merasa dipermalukan.


Karena begitu James memasuki ruangan pesta, lampu sorot langsung mengarah padanya.