
“Ha ha ha… maaf Ad, aku benar-benar tidak tahan membayangkan kamu masuk ke dapur, sedangkan bedanya bentuk panci atau kukusan saja kamu belum tentu tahu tentang hal seperti itu.” Alvero berkata dengan mengusap ujung matanya yang mengeluarkan airmata karena tertawa terbahak-bahak dengan punggung tangannya.
“Sial, mentang-mentang kamu bisa memasak dengan baik, kamu mengolok-olokku habis-habisan. Jika ada kesempatan, aku pasti akan membalasmu. Ayolah, kasihan istriku sudah lama menunggu.” Ornado berkata sambil menahan senyumnya sendiri.
Meskipun Alvero menggodanya sedemikian rupa, Ornado hanya bisa tersenyum, karena yang dikatakan oleh Alvero benar adanya. Bahkan dia tidak pernah tahu bedanya kegunaan dari panci maupun kukusan, baginya, keduanya sama-sama bisa digunakan untuk merebus sesuatu di dalamnya.
Dan jika saja Ornado melihat bentuk panci presto, dia pasti juga akan menganggap kegunaannya sama dengan panci biasa.
"Kenapa tidak meminta arahan dari kokimu atau tutorial di youtube?" Pertanyaan Alvero membuat Ornado menarik nafas panjang.
"Inginku begitu, tapi rasanya malu sekali kalau aku harus memasak sambil melihat youtube, atau diajari oleh koki. Ah, sudahlah, aku mau berusaha membuatnya sendiri. Cepat beritahukan padaku bagaimana caranya. Anggap saja ini caramu membalas budiku karena sudah membantumu mengalahkan ibu tirimu." Kata-kata Ornado membuat Alvero langsung tertawa renyah.
"Oke, oke, akan aku berikan cara dan resep paling sederhana padamu. Dengarkan baik-baik ya. Pasang telinga, tajamkan otakmu untuk mengingat pelajaran penting ini dariku." Alvero berkata sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerja yang ada di kantornya, dan mengubah panggilan teleponnya menjadi panggilan video call agar dia bisa menunjukkan kepada Ornado melalui gerakan tangannya.
# # # # # # #
Begitu Alvero menjelaskan cara memasak nasi goreng dengan singkat, padat tapi tetap saja bagi Ornado tidak jelas sama sekali, akhirnya dengan nekat dan sikap dibuat setenang mungkin Ornado keluar dari persembunyiannya.
"Kenapa denganmu Al? Apa kamu sedang sakit perut? Kenapa lama sekali di kamar mandi?" Pertanyaan Cladia hanya dijawab dengan sebuah senyuman, dan tangan kanan Ornado yang menenpuk-nepuk lembut pipi Cladia.
"Aku baik-baik saja. Tunggu sebentar, aku akan segera membuat nasi goreng untukmu sekarang juga." Ornado berkata sambil berjalan menuju meja dapur, dimana para pelayannya sudah menyiapkan peralatan untuk membuat nasi goreng.
Dan bukan hanya itu saja, ternyata para pelayan sudah menyiapkan juga baha-bahan untuk membuat nasi goreng, membuat Ornado tersenyum lega.
Wah... untung para pelayan di rumahku bergerak dengan cepat dan cukup cerdas. Mereka bukan hanya menyiapkan peralatan, tapi juga bahan-bahnnya sekalian. Dan bahan-bahan yang sudah disediakan oleh mereka tidak jauh beda dengan yang dikatakan oleh Alvero tadi. Oke… sepertinya tidak akan terlalu sulit membuat nasi goreng. Aku tidak percaya, seorang Xanderson sepertiku tidak bisa melakukan hal seperti ini.
Ornado berkata dalam hati sambil dengan gaya seperti seorang chef profesional memegang penggorengan dengan jenis wok dengan pegangan, yang sudah disiapkan oleh para pelayan.
(Untuk membuat hidangan yang ditumis, wok adalah wajan yang tepat untuk kamu gunakan. Berbeda dengan frypan, bentuk wok tidak datar melainkan berbentuk cekung yang dalam karena fungsinya sendiri adalah untuk menggoreng atau menumis masakan dengan minyak banyak. Cekungan akan menjaga semua masakan terendam dalam minyak. Wok juga tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil hingga besar. Penggunaan wok sangat populer di Negeri China dan negara Asia Tenggara).
Dengan percaya diri, Ornado sedikit memutar-mutar pegangan penggorengan yang ada di tangannya sebelum dia meletakkannya di atas kompor, karena bagi seorang Ornado, dalam hal kecepatan tangan dan ketangkasan dia adalah ahlinya.
Aduh, tadi Alvero mengatakan minyak goreng secukupnya, seharusnya aku langsung menanyakan dengan jelas seberapa banyak dengan ukuran sendok. Ah, Alvero ini, kenapa tidak jelas dalam memberikan keterangan.
Ornado berkata sambil meraih botol berisi minyak, dan menuangkannya sampai hampir sepertiga penggorengan, membuat kepala pelayan dengan sedikit berlari mendekat ke arah Ornado.
"Tuan...." Kepala pelayan itu berbisik pelan, karena dia sebagai seorang yang sudah cukup berumur tahu jelas bahwa majikan laki-lakinya ini tidak ingin terlihat bodoh di depan istrinya.
"Maaf Tuan, tapi minyak gorengnya terlalu banyak Tuan. Tuan akan membuat nasi goreng, bukan menggoreng kentang." Dengan suara pelan kepala pelayan itu menjelaskan kepada Ornado yang hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan sikap bingung.
"Kenapa Al, apa ada masalah?" Cladia langsung bertanya kepada Ornado yang terlihat tidak segera memulai memasak nasi goreng, namun justru mengobrol dengan kepala pelayan.
"Ah, tidak ada apa-apa amore mio. Hanya saja tanganku sedikit licin, sehingga menumpahkan minyak goreng terlalu banyak dari botolnya." Dengan cepat Ornado menjawab pertanyaan Cladia sambil menuangkan kembali sebagian besae minyak goreng yang ada di penggorengan ke dalam botol kembali.
"Apa Tuan butuh bantuan saya?" Kepala pelayan itu menawarkan bantuannya, begitu melihat gerkan kikuk dari Ornado.
"Sudah, menjauhlah dariku, selanjutnya aku bisa melakukannya sendiri." Ornado berkata pelan sambil mendesis, dengan bibirnya terkatup, agar perkataannya tidak di dengar oleh Cladia.
Dan perjuangan Ornado dimulai. Kedua tangannya bergantian menggulung kemeja lengan panjang yang dikenakannya sebelum dia mulai menyalakan kompor.
Dengan hati-hati, Ornado berusaha membuat nasi goreng yang terbaik untuk Cladia, seolah tidak ingin melakukan kesalahan sedikitpun, dan berharap dengan sekali mencoba, dia akan langsung berhasil membuat nasi goreng yang enak.
Namun, walaupun sudah berusaha menuruti apa yang dikatakan Alvero, tetap saja Ornado tidak berhasil melakukannya dengan baik.
Nasi goreng yang pertama, bawang putih gosong, karena minyak terlalu panas saat bawang putih dimasukkan ke dalam penggorengan.
Bahkan saat Ornado memasukkan bawang putihnya, tampak kepulan api yang langsung menyambar ke dalam wajan, menunjukkan kalau minyak yang ada di penggorengan terlalu panas.
Dan mau tidak mau hal itu membuat Ornado sedikit kaget dan kelabakan.
Percobaan kedua, telur yang sudah diaduk dan siap untuk dimasukkan penggorengan, muncrat kemana-mana karena Ornado yang menuangkannya ke penggorengan dari jarak yang begitu jauh.
Bahkan boleh dibilang hampir melemparkannya ke penggorengan bersama dengan wadah telurnya.
Belum lagi, untuk nasi goreng yang kedua, rasanya amat sangat asin sekali karena terlau banyak garam yang diberikannya dalam campuran nasi goreng.
"Al, kalau kamu merasa kesulitan, kita sudahi saja. Kita tidur saja malam ini. Besok pagi, biar kepala pelayan meminta koki untuk membuatkan nasi goreng untukku." Cladia yang melihat bagaimana sibuknya Ornado yang berusaha membuat nasi goreng, jadi merasa tidak tega melihat bagaimana Ornado yang berjuang keras dan terlihat kesulitan itu.
Beberapa kali Ornado terlihat mengelap keringat yang turun di dahinya dengan lengan pakaiannya yang tergulung sebatas siku tangannya.