
“Lhoo, Elen, kamu sudah ada di kantor? Bagaimana caramu bisa masuk ke kantor?” Sambil bertanya, Dodi yang baru saja datang bersama Dea dan Tina yang ruang kerjanya memang terletak di ruangan lain seteleh ruang tempat Elenora bekerja, langsung mendekat ke arah Elenora dengan tatapan mata heran memandang ke arah Elenora yang terlihat bingung karena pertanyaan Dodi barusan.
“Huh! Siapa sih yang sudah membuat kita harus menunggu seperti itu? Benar-benar merepotkan dan menyebalkan. Sepertinya itu perbuatan orang iseng yang harus segera dilaporkan ke pak James supaya mendaptkan penalti dari kantor, syukur-syukur dipecat saja orang seperti itu, supaya tidak mengganggu!” Dea mengomel sambil berjalan ke arah meja kerjanya, setelah sebelumnya melirik dengan sinis ke arah Elenora, seolah menuduh Elenora yang melakukan hal barusan, membuat Dodi dan Tina langsung memberikan kode melalui tangannya pada Elenora agar mengabaikan saja perkataan Dea.
"Wah, hari ini kamu sungguh cantik Elenora. Baju baru lagi? Aku suka sekali melihat penampilanmu sekarang. Tapi jangan berubah lagi ya. Kemarin lusa waktu kamu datang dari Bali bersama pak James, pakaianmu sungguh keren, kemarin kamu ganti dengan gaya biasanya, dan hari ini kamu berubah lagi. Untuk mengubah penampilan memang perlu banyak modal, tapi jangan berganti-ganti terus, membuat aku nanti susah mengenalimu." Tina berkata sambil terkikik geli, Dodi yang sedari tadi juga ikut mengamati kecantikan Elenora dengan model pakaiannya yang modis, dan juga terus menatapnya dengan tatapan terpesona, ikut tersenyum tanpa berani mengeluarkan banyak komentar.
Mendengar pujian Tina pada Elenora, Dea yang tadi sempat melirik ke arah Elenora hanya bisa mendengus kesal, karena hari ini memang Elenora tampil cantik dengan pakaiannya yang terlihat modis dan bagus, juga terlihat mahal.
Hah! Mana bisa aku mengenakan pakaian-pakaianku seperti yang kemarin? Semuanya sudah hilang tanpa bekas gara-gara James.
Elenora bergumam dalam hati.
“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah aku ada di kantor pada jam kantor? Bukannya ini sudah jam kerja kantor?” Elenora langsung bertanya balik, karena benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan Dodi barusan.
Selain itu Elenora memang sengaja berusaha mengalihkan pembicaraan Tina tentang penampilan barunya, karena jika diteruskan, Elenora tahu dia kan semakin sulit menjawab pertanyaan Tina.
“Hari ini tadi, aku memang sengaja masuk jauh lebih pagi, karena ada tugas dari pak James, tetang surat perjanjian kerjasama yang harus aku selesaikan setelah membuat notulen dalam meeting dari Bali.” Elenora berusaha menjelaskan kepada kedua temannya.
(Notulen, juga dikenal sebagai notulen rapat, protokol atau secara informal disebut catatan, adalah catatan tertulis dari sebuah rapat atau sidang.
Dalam pengertian lain, notula berisi semua catatan mengenai semua pembicaraan dalam sebuah rapat. Notulis adalah seseorang yang mencatat hasil dari jalannya diskusi, mulai dari awal hingga selesai, sedang notulen adalah sebuah ringkasan tentang hasil pembicaraan dalam rapat yang bersifat ringkas, padat, sistematis, dan secara menyeluruh.
Dengan kata lain, notulen adalah catatan resmi suatu rapat atau siding berisikan siapa, apa, bagaimana, dan hasil dari suatu hal yang dirapatkan atau disidangkan. Notulen juga bisa diartikan sebagai hasil suatu pembicaraan rapat yang telah ditulis dengan rapi).
“Eh… bukannya begitu, tadi kami semua tertahan di lantai dasar kantor, karena ada perintah bahwa sampai menunggu perintah selanjutnya, kita semua tidak diijinkan untuk masuk ke area kantor.
“Hah?” Elenora langsung terlihat kaget dengan mata sedikit melotot mendengar perkataan dari Tina.
"Apa kamu yakin tidak mendengar atau melihat sesuatu yang janggal atau aneh ketika kamu masuk ke kantor tadi?" Tina bertanya sambil matanya berkeliling, mencoba menerka-nerka apa yang sebeanrnya terjadi hingga ada larangan masuk ke dalam ruang kerja mereka tadi pagi.
"Eh, tentu saja semua aman-aman saja. Aku tidak melihat ada yang aneh pagi ini. Memang apa yang bisa terjadi? Kalaupun ada, pasti aku sudah melaporkannya ke bagian security tadi." Elenora buru-buru menjawab pertanyaan dari Tina, yang dari wajahnya masih terlihat sangat penasaran dengan apa yang terjadi tadi pagi.
“Ah, entahlah, anggap saja memang ada miss komunikasi hari ini, sehingga ada kejadian aneh begini. Eh, sudah dulu ya, aku harus segera mengerjakan tugas-tugasku hari ini.” Tina berkata sambil bergegas untuk berlalu, menuju ke ruang kerjanya sendiri.
James… apa dia yang sudah melakukan hal seperti itu? Tapi… kenapa dia melakukan itu? Apa dia sengaja agar aku tidak perlu khawatir ada pegawai lain memergoki kami sedang makan pagi berdua?
Elenora berkata dalam hati dengan wajah yang sedikit memerah, karena entah kenapa pikirannya tentang James barusan membuat Elenora berpikir bahwa sepertinya James begitu perduli pada apa yang terjadi padanya, apalagi tadi jelas-jelas Elenora melihat bagaimana James yang menyiapkan makanan untuknya dengan telaten dan hati-hati.
“Eh, Elen, kenapa denganmu? Apa kamu sakit? Kenapa wajahmu tiba-tiba terlihat aneh?” Dodi berkata sambil mengulurkan tangan ke arah kening Elenora, bermaksud mengecek apakah Elenora baik-baik saja, atau sedang demam tubuhnya.
“Elenora! Cepat bawa berkas kontrak kerjasama hasil meeting kita di Bali!” Sebuah teriakan keras dari James yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kantornya, entah kapan dia keluar, dengan mata yang menatap tajam ke arah Dodi, membuat Dodi segera menarik tangannya yang terulur ke arah kening Elenora.
Dan seperti Elenora yang kaget dan menjauhkan tubuhnya ke samping, setelah mendapatkan teriakan dari James, Dodi juga ikut merasa kaget hingga mundur selangkah ke belakang.
Sikap James benar-benar tidak bisa diprediksi, sebentar terlihat begitu baik hati dan perhatian, dan juga melindungiku, terlihat begitu perduli.... Tapi kadang tindakannya sungguh menyebalkan dan membuat orang sakit hati. Aku benar-benar kaget barusan. Padahal aku sedang berusaha menghindari tangan Dodi. Untung saja aku tidak salah arah bergerak yang justru akan membuatku mendekat ke arah Dodi.
Elenora berkata dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, bergegas mengambil berkas yang diminta oleh James, karena berkas-berkas itu cukup banyak, sehingga dia harus menelitinya terlebih dahulu sebelum memberikannya pada James, atau dia akan mendapatkan teguran karena dianggap tidak becus dalam bekerja.
Beraninya anak itu berniat menyentuh kening istriku? Mau cari mati! Awas saja kalau dia berani melakukannya, hari ini juga aku pastikan ini akan menjadi hari terakhirnya untuk bisa bertemu dengan teman-temannya di kantor ini! Bukan hanya itu saja, kalau aku masih melihatnya sering mencuri pandang ke arah Elenora, aku akan segera emmindahkannya ke departemen lain dimana dia tidak bisa bertemu dengan Elenora selama jam kerja.
James menggerutu dalam hati sambil berjalan masuk kembali ke dalam kantornya, sambil menunggu Elenora menemuinya.