My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
DILUAR RENCANA



Mendengar perkataan Dario padanya, rasanya Ornado ingin sekali tertawa kencang, menunjukkan bahwa dia sungguh memandang rendah terhadap Dario, dan menganggap Dario hanyalah orang bodoh yang merasa pintar.


Apalagi saat melihat berkas yang menuliskan tentang persetujuan untuk menggugat cerai Cladia, rasanya Ornado ingin merobek-robek kertas itu menjadi serpihan lalu melemparkannya ke wajah Dario saat ini juga, untuk menunjukkan bahwa dia sangat tersinggung dengan surat persetujuan cerai itu.


Keinginan Dario untuk membuatnya menandatangi surat perceraian dengan Cladia benar-benar membuat dada Ornado terasa panas karena amarahnya yang menggebu-gebu.


“Kamu pikir, ada mafia yang mendukungmu? Atas dasar apa kamu memintaku untuk melepaskan semua hakku di dunia mafia, sedangkan selama ini mereka yang memintaku, bukan aku yang menginginkannya. Aku tidak akan menandatangani berkas-berkas ini, karena aku yakin, sebagian besar dari para pemimpin mafia tetap ingin aku ikut menjadi bagian dari mereka.” Kata-kata Ornado membuat Dario tertawa.


“Kamu terlalu percaya diri Ad! Tapi tidak masalah. Aku akan membuatmu menerima kenyataan bahwa orang-orang yang kamu anggap mendukungmu, sebenarnya mereka sudah muak denganmu dan ingin menyingkirkanmu. Aku akan memberimu kesempatan untuk bertemu mereka untuk terkahir kalinya, agar kamu tidak mati penasaran.” Dario berkata sambil memberi tanda kepada para orang-orangnya yang berdiri di belakang Ornado agar menyingkir, memberi jalan pada beberapa orang berpakaian hitam dan berjalan dengan sikap angkuh dan percaya diri melewati orang-orang Dario.


Dengan ekor matanya, Ornado melirik ke arah samping, dimana beberapa orang berpakaian hitam dengan sikap angkuh itu berjalan dari arah belakangnya.


“Plok! Plok! Plok!” Dario berjalan mendekat ke arah Ornado, sambil bertepuk tangan dengan wajah terlihat senang.


Mata Dario terlihat fokus menatap ke arah gerombolan orang berpakaian hitam yang baru saja datang ke tempatnya itu.


“Selamat datang Roberto.” Dario mengucapkan salam pada salah satu dari mereka yang baru datang.


Roberto merupakan salah seorang pimpinan mafia yang cukup disegani dan cukup dituakan di dunia mafia.


Dan dengan sikap bangga, Dario menyapa Roberto, yang baginya adalah sebuah keberhasilan besar, bisa membuat seorang Roberto menyeberang ke pihaknya, bersedia ikut serta dalam menjatuhkan Ornado, dan melucuti kekuatan dan kekuasaannya di dunia mafia.


“Hah! Ornado Xanderson! Akhirnya kita bertemu juga dalam situasi dimana kamu tidak bisa memberikan perintah kepada kami seenak perutmu sendiri seperti biasanya.” Roberto berjalan mendekat ke arah Ornado dan menepuk-nepuk pipi Ornado dengan sikap meremehkan, membuat Dario tersenyum dengan wajah puas.


“Terimakasih untuk pujianmu hari ini Roberto. Seperti biasanya, rubah tua yang aku kenal, sepertinya masih saja ingin menjadi yang terdepan di dunia mafia. Harusnya kamu mulai sadar dengan usiamu dan mundur dengan sukarela dari dunia mafia, jika ingin umurmu panjang.” Dengan santainya, Ornado justru berkata dengan nada meremehkan kata-kata Roberto, membuat salah seorang dari orang yang bersama Roberto, yang merupakan pemimpin kelompok mafia yang lainnya, bergerak cepat ke arah Ornado dengan sikap marah.


“Jaga bicaramu Ornado! Kamu benar-benar harus diberi pelajaran agar bisa menjaga mulut kurangajarmu itu!” Orang itu berteriak sambil mengarahkan tinjunya ke arah wajah Ornado.


“Hormati aku sebagai orang dituakan di sini! Beri aku kehormatan untuk bisa memberikan pelajaran dengan tanganku sendiri, kepada anak muda yang selama ini sudah berani bersikap sok berkuasa di depan kita.” Roberto berkata sambil menggerakkan lengannya yang ada di dada orang yang tadinya berniat memukul Ornado, memberi tanda agar orang itu sedikit menjauh darinya dan Ornado.


Setelah mengucapkan itu, Roberto lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Ornado, dan menarik kerah pakaian Ornado, sambil mendekatkan bibirnya ke arah telinga Ornado.


“Waktunya untuk melakukan pembalasan….” Roberto berbisik pelan ke telinga Ornado dengan senyum menyeringai.


Ornado yang mendengar perkataan Roberto langsung tersenyum.


Dengan gerakan cepat, Roberto mengarahkan lengannya ke arah leher Ornado, membuat gerakannya seperti orang yang sedang bersiap mengunci leher Ornado untuk bisa membanting tubuh Ornado ke lantai, untuk kemudian bisa menghajarnya dengan sepuas hatinya.


Begitu Roberto memiting leher Ornado, Roberto mendorong tubuh Ornado menjauh dari kerumunan orang-orang Dario, dan juga kelompok pimpinan mafia yang tadi datang bersamaan dengan dirinya.


Ornado sendiri terlihat berusaha menahan tubuhnya yang terdorong oleh gerakan Roberto, agar dia tidak kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.


Senyum di wajah Dario terlihat semakin lebar begitu melihat tindakan Roberto.


Akan tetapi, beberapa detik kemudian, senyum Dario berubah menjadi sebuah pelototan kaget, dengan bibirnya terlihat mengerucut, dan kening yang berkerut, karena baik Roberto maupun Ornado tiba-tiba saja sudah berdiri saling memunggungi, dengan memegang pistol di tangan mereka.


Ornado berdiri dengan pungung menempel pada punggung Roberto, dengan pistol di tanganya terarah kepada Dario.


Sedang Roberto, berdiri saling membelakangi antara dia dan Ornado, dengan kedua tanganyannya memegang pistol yang terarah kepada kerumunan anak buah Dario dan juga para ketua mafia yang ada di tempat itu.


Sikap mereka berdua, seperti dua orang yang sedang berusaha saling melindungi satu dengan yang lain, sungguh jauh dari yang diharapkan Dario bahwa mereka berdua akan saling menyerang dan saling baku hantam.


“Dor!” Sebuah suara tembakan langsung terdengar dari pistol yang dipegang oleh Roberto, begitu dia melihat salah seorang anak buah Dario berusaha mengambil pistol yang terselip di pinggangnya, bermaksud menembak Roberto dan Ornado.