My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KARENA AKU BEGITU MENCINTAIMU (3)



Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak dalam memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, harap skip episode ini, agar tidak merusak pikiran kalian.


Tanpa bisa Elenora ungkapkan dengan kata-kata, tubuhnya masih saja merasa ingin membiarkan James melakukannya tanpa henti sesuatu yang baru pertama kali ini dirasakannya, yang membuatnya merasakan sensasi aneh pada tubuhnya, tapi juga rasa nikmat yang tidak pernah dia bayangkan.


Sampai akhirnya, hanya suara des..ahan yang tanpa disadari oleh Elenora lolos, keluar dari sela-sela bibirnya tanpa bisa dia kendalikan lagi, membuat James langsung tersenyum penuh kebanggaan, karena berhasil membuat Elenora akhirnya ikut menikmati penyatuan mereka untuk pertama kalinya ini.


Des..ahan pelan dari bibir Elenora yang berusaha keras ditahannya, tapi tetap saja meluncur keluar dari bibirnya, bagi James terdengar begitu merdu dan menggairahkan, apalagi ketika di tengah desahannya, Elenora menyebutkan namanya dengan mesra.


“James….” Suara bisikan Elenora dengan matanya yang terpejam, terdengar menyapa hangat telinga James.


“Iya... ti amore, panggil namaku… panggil namaku sekali lagi….” James berkata dengan suara yang terdengar begitu parau.


“James….” Kali ini Elenora berkata dengan sedikit menggeliat karena James sengaja mengecup di salah satu bagian sensitive di dada Elenora, dengan sedikit keras, meninggalkan tanda kepemlikannya di sana.


Dan itu membuat jiwa laki-laki James begitu terpancing sehingga bagian dari tubuhnya di bawah sana, langsung menyemburkan benih-benih cintanya ke dalam tubuh Elenora disertai dengan lenguhan dan tarikan nafas panjang baik dari bibir James maupun Elenora.


“Terimakasih ti amore, kamu sudah menjadikanku yang pertama bagimu.” James langsung berbisik mesra begitu melirik ke arah kulit putih Elenora di bawah sana yang menunjukkan adanya noda berwarna merah mengotori kulitnya.


“Semuanya bisa terjadi karena sejak awal, kamu juga ikut menjaga dan melindungi milikku yang berharga, yang memang ditakdirkan untuk aku berikan padamu.” Elenora berkata dengan suara yang terdengar parau dengan mata sedikit memerah dan basah.


Saat ini hati Elenora sungguh terharu bercampur bangga, akhirnya bisa menjadi istri yang sesungguhnya bagi James.


Dan baginya, merupakan sebuah hadiah yang sangat besar, mengetahui bahwa laki-laki sehebat James yang bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan jika dia mau, menjadikan dia wanita pertama yang disentuhnya, tetap menjaga keperjakaannya sampai waktunya tiba.


“Ti amore, betapa aku sangat mencintaimu…” James yang berbaring di samping tubuh Elenora dengan posisi miring ke arah Elenora, berkata sambil mengelus lembut rambut Elenora, dan sedikit mengggulung-gulungnya di ujung jari telunjuknya.


“Akh….” Elenora langsung meringis begitu dia berencana beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya, apalagi ada rasa lengket di bawah sana.


“Kenapa denganmu ti amore?” James berkata sambil melihat ke arah wajah Elenora yang meringis sambil menggigit bagian bawah bibirnya.


Elenora langsung menghentikan kata-kata dalam hatinya dengan sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya, karena membayangkan nikmatnya rasa yang baru pertama kalinya dia rasakan tadi masih saja membuat bagian tubuhnya di bawah sana berkedut, dan pikirannya terbayang-bayang tentang indah dan nikmatnya surga dunia yang baru pertama kali dirasakannya itu.


“Ti amore… apa yang terjadi denganmu?” James kembali memnyebutkan nama panggilan kesayangannya untuk Elenora begitu melihat sikap aneh Elenora barusan.


Sebelumnya, wajah Elenora terlihat sedang menahan sakit dengan pekikan kecilnya, tapi sesaat kemudian, terlihat bagaimana Elenora tidak memperdulikan pertanyaan dari James, justru wajahnya tampak memerah seperti orang yang malu karena ketahuan sedang melakukan sesuatu yang salah.


“Apa yang sedang kamu pikirkan ti amore? Apa kamu masih menginginkannya?” Perkataan James langsung membuat Elenora menoleh dengan mata membulat.


“James….” Panggilan dari Elenora membuat James tersenyum menggoda sambil menggedikkan salah satu bahunya.


“Dia masih begitu menginginkannya lagi.” Sambil berbisik pelan, dengan gerakan cepat, James menarik salah satu tangan Elenora, membawanya ke balik selimut, membiarkannya menyentuh sesuatu yang sudah kembali mengeras di bawah sana.


Tindakan James membuat Elenora tersentak kaget, dengan wajahnya yang semakin memerah.


“Bolehkah? Aku berani menjamin, kali ini tidak akan sesakit yang pertama. Kata orang sih seperti itu. Tapi kita bisa membuktikannya sendiri daripada percaya dengan asumsi orang lain.” James berkata sambil membiarkan Elenora menarik tangannya yang ada di bawah sana, di balik selimut tebal yang sedang mereka kenakan sekarang untuk menutupi tubuh polos mereka.


Lagi-lagi, hanya wajah memerah karena malu, dan sikap gugup yang bisa diberikan Elenora untuk menanggapi perkataan dari James barusan.


“Jadi…. Bisakah kita melakukannya sekali lagi?” James berkata sambil mendekatkan wajahnya ke arah Elenora yang dengan gugup, kedua tangannya memegang ujung selimut yang menutup sampai ke dadanya.


“Tung… tunggu sebentar James. Bi… biarkan aku membersihkan diri sebentar… saja.” Mendengar perkataan Elenora yang tidak menolaknya, meskipun meminta waktu untuk membersihkan diri, membuat James tersenyum geli karena kata-kata Elenora menunjukkan bahwa dia tidak menolak sama sekali permintaannya yang ingin mengulang sekali lagi apa yang baru saja mereka lakukan.


Ah… bagaimana bisa aku membiarkan diriku memberikan jawaban seperti itu? Apa terlihat begitu kentara oleh James bahwa aku masih menginginkannya juga? Meskipun tadi rasanya begitu sakit, tapi seperti kata James, yang berikutnya pasti tidak sesakit yang pertama tadi.


Elenora berkata dalam hati sambil dengan wajahnya yang masih menunjukkan rasa malu dan gugupnya, mencoba bergerak turun dari kamar mandi, untuk membersihkan dirinya sebentar, karena bekas perbuatan mereka berdua tadi meninggalkan rasa tidak nyaman dan lengket di tubuhnya.


“Aku akan membantumu….” James berkata sambil bangkit dari berbaringnya, tanpa perduli dengan tubuhnya yang masih polos, berjalan mendekat ke arah samping tempat tidur tempat Elenora berbaring, membuat Elenora mengalihkan wajahnya ke samping dengan sikap canggung, agar matanya tidak memandang ke arah tubuh polos James, yang terlihat begitu sempurna sebagai seorang pria yang jelas-jelas rajin berolahraga.