My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
ULAH JAHAT DEA



Meskipun Elenora sudah berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa malu, kaget sekaligus bahagianya, tatapan mata Dea yang sedari tadi mengamati Elenora sejak dia masuk ruang kerja mereka dengan perasaan jengkel akibat sempat menunggu lama di bawah bersama yang lain, bisa melihat ada sesuatu yang aneh pada Elenora.


Heh! Kenapa dengan tingkah laku Elenora dan juga senyum tertahannya itu? Jangan-jangan…. Elenora sudah mencoba merayu pak James?


Dea berkata dalam hati dengan tatapan mata yang penuh dengan sikap menyelidik ke arah Elenora yang baru saja keluar dari pintu kantor ruangan James, dan mulai melangkah pelan ke arah meja kerjanya sendiri.


Sial! Gadis kampungan itu pasti sengaja mengganti caranya berpakaian untuk menarik hati pak James dan menggoda pak James. Sepertinya aku harus memberi sedikit pelajaran pada gadis kampung itu agar tidak melanjutkan rencananya untuk bisa merayu pak James, sebelum semuanya terlambat.


Dea berkata dalam hati sambil bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Elenora dengan cukup cepat.


Elenora yang pikirannya sedang tidak fokus, tidak menyadari kalau Dea berjalan ke arahnya, dan meskipun gerakannya terlihat seolah-olah dia tidak sengaja, tapi dengan cukup keras, Dea sengaja menabrakkan bahunya ke arah bahu Elenora.


“Akh….” Elenora langsung terpekik kaget begitu merasakan tabrakan keras di lengan atas tangannya yang sedang memegang berkas-berkas dari ruangan James.


Sehingga, tanpa diduga oleh Elenora, dia yang kaget langsung tangannya bergerak melepaskan semua berkas yang ada di tangannya, hingga jatuh berantakan dan bertebaran kemana-mana, dan akhirnya jatuh di lantai.


Melihat itu, dengan sikap panik, Elenora segera berjongkok, berencana mengambil semua kertas yang berjatuhan itu, sambil mengipas-kipaskannya, agar debu atau kotoran tidak menempel di lembaran kertas-kertas itu.


Namun dengan gerakan kakinya, Dea berpura-pura tanpa sengaja kembali menyenggol bahu Elenora yang sedang berjongkok dengan kakinya, sehingga Elenora jatuh terduduk.


Dan tanpa perduli dengan Elenora yang berusaha untuk berjongkok kembali, Dea menginjak-injak berkas-berkas itu.


“Upst… sori… aku tidak sengaja. Maaf ya, aku harus pergi dulu, Ada hal lebih penting yang harus aku kerjakan.” Dengan cepat Dea berjalan melenggang dengan santainya, melewati Elenora yang berjongkok di sampingnya tanpa perduli apalagi permisi.


Bahkan bukan hanya melewati Elenora, dengan sengaja Dea sedikit menghentikan langkahnya sebentar, dan mundur kembali, agar dia dapat menginjak kembali berkas-berkas itu.


Dea bukan hanya membuat beberapa kertas itu menjadi kotor tapi juga membuat berkas-berkas itu ada yang terlihat kotorannya berupa bentuk sol sepatu Dea, membuat Elenora terperangah kaget.


(Sol sepatu atau outsole sepatu merupakan komponen sepatu yang terletak di bagian bawah sepatu. Outsole berguna intuk melindungi bagian bawah kaku. Umumnya masyarakat menyebutnya dengan sol sepatu. Out sole terbuat dari bahan yang bertekstur keras seperti kulit sintetis, karet, plastic hingga kayu).


Matilah aku! James pasti akan memarahiku habis-habisan kalau tahu beberapa berkas ini harus ditandatangani ulang olehnya karena berkas yang ini sudah tidak bisa lagi digunakan.


Elenora berkata dalam hati sambil membayangkan betapa mengerikannya kemarahan James jika dia tahu dan melihat berkas-berkas penting, yang kondisinya hampir semuanya kotor, dan bahkan ada banyak yang sobek karena begitu menginjaknya tadi, Dea sengaja menggeser dan menekan sol sepatunya ke lantai kuat-kuat, sehingga kertas itu selain terlihat sangat kotor, juga sobek.


Mendengar teguran dari Dodi, Dea justru mencebikkan bibirnya dengan matanya menatap ke arah mereka dengan sikap meremehkan.


“Cih… tidak perlu sok jadi pahlawan Dodi. Itu hukuman karena sudah beraninya mencoba menggoda….” Dea langsung menghentikan bicaranya.


Karena awalnya Dea mengucapkan kata-katanya sambil berjalan meninggalkan Elenora, namun kepalanya menoleh ke belakang… Dea begitu kaget ketika dengan senyum kemenangan, dengan dia meluruskan kembali kepalanya, dan tepat dihadapannya, saat ini James sedang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


“Pak… James….” Dengan terbata-bata, Dea melanjutkan untuk mengucapkan kata-katanya, menyebutkan nama James yang baginya merasa begitu beruntung karena tidak sampai dia sebutkan di kalimat sebelumnya.


Apalagi, Dea bisa melihat bagaimana tatapan tajam James yang sedang menatap ke arahnya.


“Apa yang sudah terjadi?” James bertanya sambil menatap ke arah Elenora dan Dodi yang langsung menghentikan kegiatan mereka untuk mengambil kertas yang berceceran di lantai kantor mereka.


“Elenora! Dodi! Cepat berdiri dan menjauhlah dari sana!” Mendengar perintah dari James, Elenora dan Dodi saling berpandangan sebentar, sebelum kemudian dengan gerakan ragu, mereka berdua bangkit berdiri, dan berjalan mundur tiga langkah.


Ist! Benar-benar menyebalkan! Kenapa sih, gadis jahat ini harus sekantor dengan istriku? Dan kenapa harus dia, si anak kemarin sore yang menolong Elen untuk pertama kalinya?


James menggerutu dalam hati sambil menarik nafas panjang, lalu melihat ke arah Elenora yang tampak gugup dan….


Haist! Kenapa Ele terlihat begitu ketakutan? Dasar Dea! Berani-beraninya menindas istriku! Di depan mata kepalaku! Mau menentangku? Benar-benar tidak kenal takut!


James berteriak dalam hati, dan dengan sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, melirik ke arah Dea yang ada di belakangnya, yang diam mematung di tempatnya, karena masih kaget dengan kehadiran James setelah apa yang dia lakukan pada Elenora.


Rasanya jika memungkinkan, James ingin sekali mengomeli Dea habis-habisan, bahkan jika memungkinkan, dia begitu ingin memaki Dea dengan kasar, karena sudah berani-beraninya mengusik keberadaan Elenora, dengan cara yang sungguh seperti orang yang tidak berpendidikan. Sungguh memalukan.


Sejak Elenora keluar dari kantornya dan berjalan ke arah meja kerjanya, tidak sedetikpun James mengalihkan pandangan matanya dari sosok istrinya sambil sesekali mengulum senyum di wajahnya.


Sehingga dengan jelas, James bisa melihat bagaimana Dea yang sengaja menabrak bahu Elenora, dan juga menginjak berkas-berkas yang berjatuhan di lantai itu.


Semoga pak James tadi hanya kebetulan lewat dan tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Kalau tidak, aku akan berada dalam masalah besar.


Dea berkata dalam hati dengan kepala sedikit tertunduk, sambil berusaha menenangkan detak jantungnya saat ini, yang merasa ketakutan dan tidak nyaman, karena bagaimananpun, ada rasa bersalah yang menghantuinya juga.