My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
TAKDIR ISTIMEWA PARA WANITA



Begitu sampai di tempat tujuan mereka selanjutnya, Ornado segera mengatakan keinginannya untuk mengajak Alvero, Dave dan para pria lain untuk duduk bersantai dan mengobrol, sembari menunggu para wanita menghabiskan waktunya untuk kembali berbelanja.


Dan rencana Ornado langsung disambut dengan baik oleh Dave dan Alvero yang sebenarnya juga sudah merasa cukup bosan dan lelah diajak terus berkeliling sedari tadi oleh para istri yang terlihat seperti orang kalap saat berbelanja.


“Apa kalian serius tidak ingin ikut lagi dengan kami?” Laurel berkata sambil memandang kepada ketiga pria tampan yang tampaknya memang lebih memilih untuk bersantai dengan menikmati secangkir kopi sambil mengobrol, daripada terus menemani mereka untuk berbelanja.


“Kamu dan yang lain bisa berbelanja sesuka kalian sebelum waktu makan malam kita. Nikmati waktu belanja kalian, dan kami akan menikmati waktu kami untuk mengobrol di sini sambil mengistirahatkan kedua kaki kami.” Ornado menjawab perkataan Laurel sambil mengelus bagian belakang tubuh Cladia yang masih berada dalam rengkuhan lengannya.


“Benar, kalian bisa kembali berbelanja, toh para pengawal akan selalu siap sedia saat kalian membutuhkan mereka untuk membawa barang belanjaan kalian dan meletakkannya di mobil.” James yang baru saja mendekat ke arah mereka dan mendengar pembicaraan itu, ikut memberikan pendapatnya, karena dia sendiri sudah bisan, apalagi tidak ada satu barangpun yang dibelinya saat ini.


Karena James sudah meminta Elenora yang berbelanja untuk oleh-oleh bagi para pegawai di kantor.


“Kalian yakin tidak ingin ikut menemani kami? Mungkin ada yang kalian ingin beli juga nantinya?” Deanda kembali menanyakan tentang rencana belanja mereka selanjutnya, dengan mata memandang ke arah Alvero yang langsung menggelengkan kepalanya, menolak ajakan Deanda.


“Benar seperti kata Ornado. Kalian saja yang melanjutkan belanjanya, supaya kami para pria bisa menghabiskan waktu untuk sedikit mengobrol.” Alvero yang juga merasa begitu bosan dengan kegiatan belanja itu, langsung menjawab pertanyaan Deanda.


“Oke kalau begitu, sepertinya kalian para pria memang butuh waktu pribadi untuk bergosip. Ayo Cla.” Laurel berkata sambil memberi tanda melalui gerakan kedua bola matanya kepada Cladia, untuk mengajaknya pergi bersama mereka.


“Amore mio, apa kamu masih ingin berbelanja? Belum merasa lelah?” Ornado yang masih belum melepaskan pelukannya dari pinggang Cladia bertanya sambil memandang ke arah istrinya yang langsung menganggukkan kepalanya tanpa berpikir lama, membuat Ornado hanya bisa menggaruk alisnya yang sebenarnya tidak terasa gatal, karena merasa heran.


Cladia yang biasanya tidak sesehat ini, tampak begitu bersemangat dan sehat. Entah itu karena kegiatan belanja, atau memang dia merasa begitu senang bisa berbelanja dengan teman-teman wanitanya.


Lalu dengan gerakan pelan, Ornado mendekatkan bibirnya ke telinga Cladia.


“Apa kamu yakin belum merasa lelah? Lalu bagaimana dengan rencana kita nanti malam? Apakah artinya akan batal jika kamu kelelahan nanti malam?” Pertanyaan Ornado yang dibisikkan dengan nada begitu pelan, membuat wajah Cladia langsung memanas dan memerah.


“Aku janji tidak akan sampai membuat acara kita malam ini batal. Aku tahu batas kekuatanku Al.” Mau tidak mau Cladia langsung menjawab pertanyaan Ornado dengan nada tidak kalah pelannya, nyaris tidak terdengar, di telinga Ornado yang langsung tersenyum dengan wajah terlihat cerah.


Apalagi yang sudah dilakukan oleh Ad? Sepertinya dia hobi sekali menggoda Cladia. Melihat Cladia sampai wajahnya memerah seperti itu, pasti yang dibicarakan Ornado adalah sesuatu yang sangat pribadi, dan tidak jauh dari urusan ranjang. Dasar Ad, bisa-bisanya menggoda Cladia yang pendiam di depan banyak orang.


Laurel berkata dalam hati sambil mendekat, dan meraih pergelangan tangan Cladia.


“Aku pinjam ratumu dulu ya Ad untuk sementara waktu. Supaya kalian para pria bisa beristirahat dengan santai.” Laurel berkata dengan wajah sedikit meringis, menggoda Ornado yang terlihat masih begitu enggan melepaskan lengannya dari tubuh Cladia.


Cladia yang tubuhnya bergerak mengikuti gerakan Laurel yang membawanya menjauh dari tubuh Ornado, yang mau tidak mau membuat Ornado melepaskan pelukannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku benar-benar salut dengan kedua kaki kalian. Kalau aku berlatih beladiri, bahkan jika itu sampai berjam-jam tidak akan membuat kedua kakiku sepegal ini. Berbelanja sepertinya memang bakat alami untuk para wanita. Untuk masalah itu, kalian para wanita benar-benar istimewa. Tuhan pasti memberikan suatu kelebihan pada kaki kalian para wanita.” Ornado berkata sambil menepuk-nepuk paha kanannya dengan senyum geli tersungging di wajahnya.


Tindakan Ornado langsung didukung oleh anggukan kepala tanda setuju oleh Dave, Alvero maupun James.


“Hei, kalian curang sekali.” Tiba-tiba saja Enzo dan Alaya datang dari arah lain, mendekat ke arah para laki-laki itu berkumpul, para laki-laki tampan yang sejak kehadiran mereka di tempat perbelanjaan itu menarik perhatian banyak orang, terutama kaum hawa.


Sedangkan para wanita cantik yang bersama mereka juga tidak lepas dari lirikan mata dari para kaum adam, yang mencoba mencuri pandang ke arah mereka, karena jika mereka berani memandang langsung kepada para wanita cantik itu, mereka khawatir akan menyebabkan masalah, karena para pria tampan yang ada di dekat mereka terlihat begitu protektif terhadap para wanita cantik itu.


“Kenapa denganmu Enzo?” Alvero langsung bertanya mendengar nada protes Enzo.


“Kak Enzo, ayolah, temani aku.” Alaya yang terus mengikuti Enzo dan memaksa Enzo sedari tadi untuk menemaninya, berkata sambil menarik lengan Enzo.


“Alvero, please… tolong aku kali ini. Aku benar-benar tidak sanggup lagi menemani Alaya, capek….” Enzo berkata dengan suara memohonnya, membuat Alvero tersenyum dan yang lain tersenyum geli.


“Ayolah Kak Enzo…. Masa sih, Kakak tega membiarkan aku berjalan sendirian, sejak tadi yang lain ditemani laki-laki mereka, sedang aku tidak lucu harus berjalan sedirian.” Alaya berkata sambil memajukan bibirnya dengan sikap terlihat manja, dengan wajah dan tatapan memohonnya yang sengaja dia tunjukkan kepada Enzo, yang hanya bisa diam karena tidak tahu harus berkata apa untuk menolak keinginan adik sepupunya yang akhir-akhir ini memang dekat dengannya karena Alvero sebagai kakak kandungnya terlalu sibuk, dan tidak banyak memiliki waktu untuknya.