
Dan beberapa saat menunggu Elenora yang tak kunjung keluar dari kamar mandi, membuat James merasa sedikit khawatir.
"Ada apa dengan Ele? Kenapa lama sekali dia di kamar mandi? Apa dia baik-baik saja?" James berkata pelan sambil mneurunkan kakinya dari atas tempat tidur, dan bergegas ke arah kamar mandi.
Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, James langsung mengetuk dua kali pintu itu.
"Ele... apa kamu baik-baik saja? Apa kamu butuh bantuan?"
Mendengar teriakan James dari balik pintu kamar mandinya, Elenora buru-buru mendekat ke arah pintu kamar mandi.
"Se... sebentar James. Aku tidak apa-apa, hanya sedang membersihkan riasanku." Elenora segera menjawab teriakan James karena tidak ingin tiba-tiba saja James menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan menemukan dirinya yang masih belum melakukan apapun sejak masuk ke akmar mandi, bahkan belum membersihkan wajah dan mengganti pakaiannya karena sibuk memikirkan apa yang akan terjadi antara dia dan James malam ini.
"Oke, cepatlah keluar dari kamar mandi kalau tidak ingin terkena flu. Ini sudah larut malam. Jangan terlalu lama di sana. Jika butuh bantuan, panggil saja aku." James kembali berteriak pelan.
"I... iya. Aku akan segera selesai." Elenora segera menanggapi perkataan James yang memang mengkhawatirkannya, karena cukup lama Elenora tidak keluar dari kamar mandi.
Setelah Elenora tidak lagi mendengar suara James, dengan gerakan cepat, Elenora melepaskpan gaunnya, menggantinya dengan pakaian tidurnya, setelah itu membersihkan riasan di wajahnya.
"Huh.... huh...." Elenora menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali sambil memegang dadanya sebelum tangannya yang lain siap untuk membuka handle pintu kamar mandi dan keluar dari sana.
"Klek..."
Begitu suara kamar mandi dibuka, tampilan Elenora yang sudah mengganti pakaiannya, dan mengikat rambutnya, membuat Jamesyang tadinya langsung menoleh begitu mendengar suara pintu akmar mandi dibuka langsung memandang ke arah Elenora dengan tatapan mata terpana, tanpa berkedip sama sekali.
# # # # # # #
"Dante! Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku sedang mencari cara agar Ornado dan Cladia datang ke Italia. Ternyata tanpa harus menunggu untuk menggiring mereka ke tempat ini. Saat ini mereka datang dengan kemauan mereka sendiri ke sini." Dario berkata sambil tersenyum menyeringai di depan Dante yang langsung menganggukkan kepalanya.
"Dante! Lakukan segala cara untuk mencegah calon istriku untuk meninggalkan Italia. Salah satunya dengan menyerang kantor pusat Grup Xanderson, dan mengerahkan para pemimpin mafia yang setuju untuk melawan Ornado, agar Ornado tetap berada di Italia, sehingga untuk sementara waktu, Cladia tetap ada bersamanya dengannya negara ini. Setelah itu, kita akan segera mencari cara untuk memancing Cladia menjauh dari Ornado agar bisa membawanya ke istanaku ini." Dario berkata sambil tersenyum, membayangkan tidak lama lagi, dia bisa membawa Cladia untuk berada di sisinya.
"Welcome to my palace, my queen, as soon as possible." (Selamat datang di istanaku, ratuku, secepat mungkin). Dario berkata sambil tertawa lebar, dengan mata menatap tanpa berkedip ke arah foto Cladia yang berukuran besar, yang ada di depannya saat ini, sambil sedikit memutar-mutar kursi kebesarannya yang ada di ruang kerjanya, di mansionnya yang ada di Italia.
"Aku akan segera mengenalkan rumah barumu ini. Aku yakin kamu akan betah disini, dan tidak butuh waktu lama untuk kamu akan bisa menghapuskan nama Ornado dari hati dan pikiranmu, termasuk dari ingatanmu. Aku pastikan itu akan terjadi! Menghapuskan nama Ornado dari bumi ini." Dario berkata sambil menyeringai, sebelum dia akhirnya menutup kembali foto Cladia, dan dia sendiri bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan sikap penuh percaya diri.
"O, ya, jangan lupa bahwa besok aku harus menghubungi mr. Shaw, untuk menanyakan tentang bahan-bahan yang sudah mereka siapkan untuk dikirimkan ke salah satu anak perusahaan Grup Xanderson. Pastikan jangan ada kesalahan terhadap semua rencana yang sudah kita susun untuk Ornado." Dario kembali memberikan perintah kepada Dante, sebelum akhirnya benar-benar melangkah keluar meninggalkan ruang kerjanya.
# # # # # # #
James yang sedang berdiri di dekat tempat tidur, yang awalnya begitu fokus pada layar handphonenya, begitu melihat sosok Elenora dengan pakaian tidurnya, yang meskipun tidak menerawang dan seksi, tapi cukup membuatnya terlihat sangat cantik dan anggun, membuat James terpana.
Harus diakui oleh James, sosok Elenora tanpa riasan, tapi juga tanpa kacamata tebal dan sisiran rambutnya yang selama ini terlihat kampungan, terlihat begitu cantik dan menarik, meskipun wajahnya terlihat polos tanpa make up, yang justru membuat warna putih kulitnya terlihat begitu menonjol.
"A... aku sudah selesai." Elenora berkata dengan ragu, sambil berjalan mendekat ke arah pinggiran tempat tidur, dan duduk di sana dengan sikap canggung.
Dengan gerakan terlihat santai tapi pasti, James berjalan ke arah Elenora, meletakkan hanpdhone di tangannya ke atas nakas, dan duduk di samping Elenora.
"Ele... aku sungguh bahagia akhirnya aku bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu tanpa ada lagi beban dalam hatiku... aku sungguh-sungguh mencintaimu Ele...." James berkata pelan sambil tangannya bergerak ke arah wajah Elenora, menggerakkan kepala gadis cantik itu agar menatap ke arahnya.
"Aku hampir-hampir tidak percaya, bahwa akhirnya, aku benar-benar memiliki hati dan cintamu, yang sudah begitu lama aku impikan ..." James mengecup lembut bibir Elenora yang dadanya mulai bergetar kembali dengan hebatnya.
Antara takut dan ragu, namun di sisi lain, Elenora bisa merasakan begitu besarnya cinta James padanya melalui ciuman lembutnya barusan, membuatnya ingin mencoba memberikan hal yang paling berharga dari tubuhnya untuk suaminya itu, untuk membuktikan bahwa dia juga begitu mencintai James, dan melawan rasa takut dan traumanya demi James.