My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KARENA AKU BEGITU MENCINTAIMU (2)



Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak dalam memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, harap skip episode ini, agar tidak merusak pikiran kalian.


Dengan perlahan, lembut, dan penuh cinta, juga hasrat yang membara, James terus berusaha menggiring Elenora agar ikut menikmati apa yang sedang dilakukannya saat ini tanpa perasaan ragu dan takut.


Kelembutan dari James, membuat Elenora akhirnya pasrah, membiarkan James melakukan apapun padanya, karena diapun mulai menikmatinya, dan mengharapkan James sesuatu yang lebih dibandingkan sekedar sebuah cumbuan.


Seperti sebuah quote yang pernah James tahu, pria mungkin bisa melakukan dan menikmati hubungan se.ks dengan wanita manapun untuk melepaskan hasratnya, tapi wanita cenderung hanya bisa menikmati dan melakukan hal seperti itu dengan pria yang dicintainya.


Meskipun begitu, dengan tegas, James meyakinkan dirinya sendiri, bahwa baginya, jika itu bukan Elenora, dia tidak akan sudi dan bahkan akan jijik jika harus melakukan hal seperti itu bersama wanita lain.


Dan saat ini, James bisa melihat dari sikap tubuh Elenora, bahwa Elenora rela melakukan apapun untuknya, karena istrinya itu sungguh sangat mencintainya, termasuk menyerahkan dirinya, kehormatannya, kesuciannya pada James.


Memikirkan hal itu membuat detakan di dada James semakin menggila, nafasnya semakin memburu, dan yang pasti, hasratnya semakin besar, dan suatu bagian tubuhnya di bawah sana sudah menegang dengan sempurna.


Namun bukan hanya sekedar nafsu dan hasrat, James sadar dia begitu bergairah saat ini, karena wanita yang sekarang sedang berada di dalam kungkungan lengannya, adalah wanita miliknya, yang sangat dicintainya.


Sikap pasrah Elenora dan juga gerakan tubuhnya yang perlahan-lahan merespon sentuhannya dengan sesekali terlihat menggeliat, dan bibir Elenora yang mulai berusaha membalas ciumannya meskipun masih terlihat begitu canggung, membuat James tersenyum bahagia, dan terus berusaha membuat Elenora ikut terlarut dalam gairahnya.


Hingga pada saat tangan James mulai menyingkapkan pakaian tidurnya, dan jari-jari James bergerak menyentuh kulitnya, wajah Elenora tidak lagi menunjukkan wajah penuh ketakutan dan kekhawatiran, apalagi penolakan.


Tangan James terus bergerak disertai dengan ciuman bibirnya yang mulai terus merembet, dari bibir Elenora, bergerak ke leher jenjang Elenora, dan terus turun sampai menyentuh sesuatu yang membuat tubuh Elenora kembali tersentak, sekaligus bergelinjang, karena James mulai menyentuh area sensitif tubuhnya yang selama ini selalu dia lindungi dan tutup dengan begitu rapat.


Namun James bisa merasakan bahwa kali ini, sentakan yang terjadi pada tubuh Elenora bukan lagi karena ketakutan, tapi karena dia begitu menikmati apa yang sudah dilakukan James pada tubuhnya.


Melihat dan merasakan respon Elenora, James dengan gerakan pelan tapi pasti, mulai menyingkirkan satu persatu kain yang memisahkan kulit mereka berdua, tanpa adanya lagi penolakan atau wajah ketakutan dari Elenora.


Sampai akhirnya tanpa sehelai kainpun menjadi pemisah diantara tubuh polos mereka.


Dari beberapa waktu ini, sejak Elenora mulai mengganti cara berpakaiannya, James bisa membayangkan bahwa tubuh Elenora memang terpahat sempurna, dengan lekukan tubuhnya yang terbentuk dengan proporsional.


Tapi saat ini, melihat tubuh Elenora tanpa sehelai benangpun, benar-benar membuat James terpana dan begitu mengagumi ciptaan Tuhan yang kini sudah menjadi istrinya, dan akan segera menjadi miliknya seutuhnya, menjadikan mereka satu dan sempurna sebagai suami istri.


Tatapan mata James yang menatap tubuhnya dengan penuh rasa kagum sekaligus hasrat, dan juga tangannya yang terus bergerak menikmati setiap inchi tubuhnya, membuat Elenora beberapa kali menahan nafasnya disertai dengan dadanya yang berpacu sedemikian kencang, dan nafasnya yang ikut memburu karena semua yang James lakukan padanya.


Semua ucapan cinta James, semua sentuhan lembut dan mesranya, semua ciuman penuh cintanya, nafasnya yang memburu, dengan matanya yang penuh hasrat padanya, membuat hati Elenora rasanya hampir meledak karena rasa bahagia bercampur menjadi satu dengan gairahnya untuk mereka bisa melakukan lebih dari sekedar itu, bisa segera melakukan penyatuan tubuh mereka, memberikan hal yang paling berharga untuk pasangan mereka untuk pertama kalinya.


James bisa melihat wajah Elenora yang memerah saat ini, tapi kedua tangan Elenora yang mulai bergerak memeluk erat tubuh James, bahkan menarik tubuh itu mendekat untuk semakin mendekat ke arahnya, membuat James semakin yakin, saat ini Elenora sudah memberinya ijin untuk melakukan lebih, untuk mulai bersiap melakukan penyatuan mereka sebagai suami istri.


“Te amo ti amore….” James mengucapkan kata-kata mesra itu sebelum dirinya benar-benar menjadikan Elenora sebagai wanita pertama baginya, menembus tanda keperawanan milik Elenora yang langsung meringis menahan sakit, tapi saat ini hati Elenora juga merasa melambung dan melayang, juga begitu menikmati suatu hal yang untuk pertama kalinya dia lakukan bersama laki-laki yang begitu dicintainya, sejak bertahun-tahun yang lalu, tanpa adanya penyesalan sedikitpun.


“Eu te amo também.” (Aku mencintaimu juga). Elenora berbisik dengan suara parau, nafas yang sedikit tersengal-sengal, dengan tangannya yang masih menjambak rambut James, berharap hal itu bisa mengurangi rasa sakit dan perih yang sedang dialaminya di bawah sana.


Bahkan tadi James sempat langsung menghentikan gerakannya karena mendengar suara pekikan kecil dari bibir Elenora ketika milik James menembus segel miliknya.


Tapi begitu merasakan gerakan Jmaes yang terhenti, tangan Elenora yang lain, dengan erat memeluk tubuh James, berharap bahwa tubuhnya dan tubuh James semakin menempel dan tidak berjarak seinchipun, karena perlahan tapi pasti, rasa sakit itu berubah menjadi suatu kenikmatan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata oleh Elenora.


Elenora tidak bisa menggambarkan pikiran dan perasaannya yang bercampur aduk saat ini.


Bangga, bahagia, juga rasa nikmat bercampur sakit, membuat hati Elenora melayang tinggi.


Dan dengan jujur Elenora harus mengakui bahwa saat ini, meskipun ada rasa sakit di bawah sana, akan tetapi dengan kesadaran penuh, dia tidak ingin James berhenti melakukan kegiatannya untuk penyatuan tubuh mereka.