My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
BERITA BURUK



"Afro... apa yang terjadi di sana?" Elenora segera bertanya kepada Afro.


"Aku baru saja mendengar kabar dari papa dan mama, mamamu sakit dan sedang dilarikan ke rumah sakit sekarang. Menurut info, sepertinya mamamu terkena serangan jantung yang cukup parah." Afro berkata dengan suara yagn dia buat setenang mungkin, agar Elenora tidak panik.


Meskipun begitu, isi berita itu tetap saja membuat Elenora tersentak kaget, dengan dadanya yang tiba-tiba berdetak dengan sedemikian kencangnya.


Dengan wajah pucat, Elenora diam terpaku di tempatnya tanpa bisa mengatakan sepatah katapun, membuat Audrey yang berdiri di sampingnya, ikut terlihat kaget dan merasa begitu penasaran dengan apa yang sedang terjadi pada Elenora.


"Ap... apa yang terjadi? Ma... maa...." Suara Elenroa terdengar terbata-bata, rasanya sendi-sendi kakinya terasa lemas.


Untung saja Audrey segera membantu menahan tubuh Elenora yang hampir saja merosot ke bawah.


Dengan gerakan tangan yang terlihat bergetar, tangan kiri Elenora yang tidak memegang handphonenya segera memegang tembok dengan telapak tangannya.


"Sepertinya kamu harus segera pulang ke Italia sekarang juga Elenora. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berharap yang terbaik, tapi kita tidak pernah tahu apa rencana Yang Di Atas untuk hidup kita." Perkataan Afro membuat Elenora tidak bisa berkata-kata dengan cairan bening dari sudut matanya mulai mengalir membasahi pipinya.


"Aku sudah mengaturkan penerbangan yang paling cepat untukmu sebelum menghubungimu. E ticketmu akan segera aku emailkan kepadamu. Sebaiknya kamu segera berangkat ke bandara sekarang, karena pesawatmu akan terbang kurang dari 2 jam lagi." Kata-kata Afro menyadarkan Elenora bahwa dia harus segera menenangkan dirinya dan pergi ke bandara untuk segera terbang ke Italia.


(Seiring dengan zaman yang serba digital, sebagian besar maskapai sudah memberlakukan sistem online booking. Menyesuaikan hal ini, tiket model lama pun mulai dialihkan menjadi etiket atau e-ticket (electronic ticket). Di bandara, penumpang yang membawa tiket model lama sudah semakin sedikit dibanding pengguna e ticket pesawat.


E-ticketing atau electronic ticketing adalah suatu cara untuk mendokumentasikan proses penjualan dari aktifitas perjalanan pelanggan tanpa harus mengeluarkan dokumen berharga secara fisik ataupun paper ticket. Semua informasi mengenai electronic ticketing disimpan secara digital dalam sistem komputer milik airline).


"Ba... baik... aku akan segera pergi sekarang juga...." Elenora berkata sambil berusaha menegakkan tubuhnya kembali.


Sekarang bukan saatnya bersedih. Aku harus kembali ke Italia sekarang. Mama harus baik-baik saja, aku harus segera bertemu dengan mama.


Elenora berkata dalam hati dan berusaha menenangkan hatinya sendiri.


"Kalau begitu, segeralah berangkat, waktumu tidak banyak, karena hari ini hanya ada tinggal ada satu jadwal keberangkatan pesawat ke Italia. Jika kamu tidak pergi sekarang, kamu harus menunggu besok. Aku khawatir kalau auntie...."


"Aku pergi sekarang!" Elenora langsung memotong perkataan Afro yang jelas-jelas tidak ingin didengarnya lebih lagi kelanjutan dari kata-kata Afro.


"Oke, hati-hati dalam perjalanan. Konsentrasi saja dengan perjalananmu, tidak perlu memikirkan yang lainnya.


"Terimakasih Afro untuk menyediakan waktumu memberikan kabar padaku. Juga untuk bantuanmu."


"Tenang saja Elenora, jangan terlalu dipikirkan. Sampai betemu di Italia. Jaga kesehatanmu." Selesai mengakhiri akta-katanya, Afro segera menutup panggilan teleponnya disertai dengan ******* panjang lewat sela bibir maupun hidungnya.


"Maar Audrey, aku harus segera pergi sekarang juga." Elenora berkata sambil membalikkan tubuhnya, untuk kembali ke meja kerjanya.


"Elenora apa yang sudah terjadi?" Dengan wajah penasaran bercampur khawatir, Audrey segera menyusul langkah-langkah kaki Elenora yang bergegas.


"Maaf Audrey, aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya. Setelah semuanya tenang aku akan segera mengabarimu. Sekarang aku harus pergi." Elenora berkata sambil mematikan komputernya, dan juga meraih tas jinjingnya.


"Ah...." Elenora yang sedang sibuk dengan handphonenya, berusaha untuk memesan taksi online langsung terhenti karena dia hampir saja menabrak Fred.


"Ma... maaf Pak Fred." Elenora langsung meminta maaf.


Melihat wajah Elenora yang tegang, bingung, dan juga terlihat sembab karena baru saja menangis, membuat Fred mengamati wajah istri majikannya, James, dengan tatapan menyelidik.


"Eh, tidak masalah, apa Anda sedang terburu-buru Nona Elenora?" Fred yang melihat tidak ada orang lain yang ada di dekat mereka langsung menggunakan bahasa formal pada Elenora.


"Aku... harus segera pergi ke bandara Pak Fred. Mamaku terkena serangan jantung dan aku harus segera terbang ke Italia." Jawaban dari Elenora membuat Fred manarik nafas panjang.


"Kalau begitu biar saya antarkan Nona ke bandara, kebetulan tadi saya diperintahkan oleh pak Ornado untuk membawa mobil bu Cladia ke kantor Sanjaya." Fred langsung menawarkan bantuan pada Elenora.


"Aku akan memesan taksi online daripada merepotkan Pak Fred." Elenora langsung menolak penawaran dari Fred.


"Tidak perlu sungkan Nona. Justru lebih aman jika saya yang mengantar Nona."


"Tapi Pak Fed, aku tidak enak dengan pak Ornado, kalau-kalau sewaktu-waktu pak Ornado butuh pak Fred...." Elenora berkata sambil menggerakkan kakinya untuk keluar dari pintu kantor Bumi Asia.


"Tidak masalah, pak Ornado pasti mengerti bahwa ini situasi mendesak. Sebentar saya hubungi beliau untuk meminta ijin padanya." Fred segera mengambil handphone di kantong jasnya, dan melakukan panggilan kepada Ornado yang langsung mengangkat panggilan telepon dari Fred.


"Hallo Fred."


"Siang Pak Ornado, saya mau minta ijin mengantar Nona Elenora ke bandara untuk terbang kembali ke Italia. Menurut info, Nona Elenora mendapatkan kabar kalau mamanya terkena serangann jantung...."


"Kalau begitu antar Elenora sekarang juga. Pakai saja mobil James atau mobil bu Cladia yang akan kamu antar ke sini." Ornado langsung memotong perkataan Fred dengan suara cukup keras, sehingga Elenora bisa mendengar jawaban Ornado atas ijin yang diminta oleh Fred agar bisa mengantar Elenora.


"Terimakasih Pak Ornado."


"Oke."


Begitu Ornado menutup panggilan telepon yang dilakukan oleh Fred, Fred langsung menggerakkan tangannya ke samping, memberi tanda pada Elenora yang akhirnya menerima penawaran Fred untuk diantar ke bandara.


"Silahkan Nona, harap duduk di belakang Nona." Sambil tersenyum, Fred langsung mengingatkan Elenora yang berencana duduk di samping Fred.


Aduh nona Elenora, pak James bisa benar-benar membunuhku kalau aku berani membiarkan nona duduk di sampingku. Melihat darah Xanderson yang mengalir pada pak James sama dengan pak Ornado, mereka berdua pasti memiliki sifat yang tidak jauh berbeda jika berhubungan dengan wanita yang dicintainya. Aku harus hati-hati kalau tidak mau celaka.


Fred berkata dalam hati sambil menarik nafas lega begitu melihat Elenora yagn dalam kondisi kalut tanpa membantah sedikitpun memilih untuk menuruti permintaan Fred.


"Maaf merepotkan Pak Fred." Elenora berkata sambil mengambil posisi duduk di dalam mobil, setelah pintu di sampingnya ditutup oleh Fred, dan Fred duduk di posisi kursi pengemudi.