My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KEISENGAN ORNADO (2)



Laurel yang melihat bagaimana Ornado yang berusaha keras untuk membuat Cladia tidak mengetahui rencananya terhadap Serafina, hanya bisa mengulum senyum gelinya.


Setelah perkataan Ornado, akhirnya Cladia memilih untuk kembali mengobrol dengan Deanda yang tadi sempat terputus karena kedatangan Serafina di tengah mereka.


Sedang Ornado sendiri langsung memandang ke arah Laurel, dengan sedikit melotot, yang justru membuat Laurel mengulum senyum yang memamerkan lesung pipitnya yang membuat wajahnya terlihat cantik sekaligus manis.


"Jangan katakan apapun pada Cladia, jangan memancing rasa ingin tahunya." Tanpa diketahui oleh Cladia, Ornado berkata dengan mengerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara ke arah Laurel, membuat Laurel harus menahan senyum gelinya melihat apa yang dilakukan oleh Ornado, yang langsung menghentikan Laurel sebelum wanita yang sudah seperti adiknya sendiri itu mengatakan sesuatu pada Cladia.


Dasar si posesif Ad. Dia pasti yang sudah merencanakan agar Serafina segera kembali ke Italia. Ada-ada saja caranya untuk membuat Cladia tidak terganggu dengan kehadiran Serafina. Padahal aku ingin sedikit mengerjai gadis aneh itu. Dia sungguh berbeda dengan Elenora yang kadang terlalu sungkan dan tidak percaya diri. Benar-benar berbanding terbalik, hingga seratus delapan puluh derajat.


Laurel berkata dalam hati sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Ornado yang tersenyum puas karena Laurel bersedia menuruti perkataannya.


Di sisi lain, Serafina yang berjalan, mengikuti kemana Alex berjalan, ikut menghentikan langkahnya begitu melihat Alex menghentikan langkahnya, karena salah satu dari anak buahnya berjalan mendekat ke arahnya.


"Pak Alex, semuanya sudah diaturkan. Nona itu bisa langsung menuju bandara karena untuk tiket sudah diaturkan untuk Nona itu. Dia hanya perlu datang ke bandara, memberikan data pribadinya, melakukan pembayaran, dan memberikan info kepada pihak bandara bahwa dia adalah orang yang diutus oleh pihak perusahaan Bumi Asia. Dan untuk tambahan into, pesawat akan berangkat kurang dari 3 jam lagi." Laki-laki yang menjadi anak buah Alex itu segera melaporkan hasil pekerjaannya.


Serafina langsung mengembangkan senyum di wajahnya begitu mendengar laporan dari anak buah Alex itu.


Wah... kalau Ornado sudah turun tangan, sepertinya tidak ada yang mustahil. Aku benar-benar beruntung bisa mengenal orang hebat seperti dia. Sayangnya dia tidak pernah menunjukkan sikap ramah padaku. Untungnya dia memang dikenal selelu bersikap dingin terhadap wanita, jadi tidak ada gunanya aku sakit hati.


Serafina berkata dalam hati sambil menunggu Alex mengatakan sesuatu padanya.


"Maaf Nona, sepertinya Nona harus segera kembali ke resort untuk berkemas dan segera berangkat ke bandara agar tidak tertinggal pesawat, yang kebetulan hanya ada satu jadwal penerbangan ke Italia hari ini. Itupun jika bukan pak Ornado yang memintanya, pihak bandara tidak mungkin mau memberikan ijin bagi Nona untuk ikut dalam penerbangan itu." Serafina langsung tersenyum mendengar penjelasan dari Alex.


"Pak Alex ojek yang Bapak minta sudah datang." Salah satu dari anak buah Alex segera memberikan info kepada Alex." Serafina yang tidak mengerti arti perkataan itu karena diucapkan dalam bahasa Indonesia, membuat Serafina hanya terdiam.


"Baik Nona, silahkan ikut saya." Alex berakata sambil berjalan ke arah sepeda motor yang merupakan ojek online dengan pengendaranya.


Melihat Alex mengarahkannya untuk naik ke sepeda motor, dengan pengendaranya seorang laki-laki berusia setengah baya, dengan penampilan pas-pasan, membuat mata Serafina membulat sempurna.


"Ap... apa maksudnya ini?" Serafina bertanya kepada Alex dengan wajahnya yang terlihat merah karena malu sekaligus menahan marah, merasa dipermalukan karena Alex menyuruhnya pergi dengan mengendarai ojek.


"Nona, kurang dari 3 jam lagi Nona harus terbang, berarti secepatnya Nona harus berangkat ke bandara. Cara tercepat adalah dengan mengendarai ojek, karena tidak ada taksi yang berada di sekitar tempat ini. Nona tahu kita semua menggunakan helikopter untuk sampai ke tempat ini. Jika Nona bersikeras untuk menunggu helikopter kami kembali menyusul kami, Nona pasti akan terlambat sampai di bandara." Alex mencoba memberikan penjelasan kepada Serafina yang tampak mendengus dengan wajah kesal.


"Nona bisa naik ojek itu sampai di resort, setelah itu untuk ke bandara Nona bisa memesan taksi, karena di sana ojek online akan jauh lebih muda didapatkan daripada di tempat seperti ini." Mendengar perkataan Alex yang dikatakannya dengan sikap tenang membuat Serafina ingin memaki laki-laki tampan di depannya itu.


Kurangajar sekali! Bagaimana bisa seorang model terkenal seperti aku harus mengendarai ojek butut dengan pengendaranya yang tidak kalah butut dengan sepeda motor yang dikendarainya itu? Apa yang akan terjadi jika ada seseorang yang mengenalku dan mengetahui bahwa aku harus mengalami nasib sial seperti ini? Benar-benar memalukan.


"Kalau Nona tidak ingin pergi menggunakan jasa ojek, saya akan membatalkan pemesanan dan membayar biaya ganti rugi, karena bapak itu sudah bersedia jauh-jauh datang ke tempat ini." Alex berkata tegas setelah melihat Serafina tetap diam di tempatnya dengan tatapan mata tajam dan wajah tidak ramahnya, membuat Alex merasa tidak enak dengan pengendara ojek tersebut, meskipun dari wajahnya, jelas-jelas terlihat bahwa pengendara itu tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Alex dan Serafina.


Bahkan dengan santai dan wajah lugunya, pria setengah baya dengan penampilan sederhana itu memandang ke arah Serafina dengan tatapan kagum dan terus menyungingkan senyum di wajahnya untuk menunjukkan keramahannya.


"Ya... aku akan pergi sekarang..." Dengan terburu-buru, karena tidak melihat adanya kesempatan lain, Serafina segera naik ke atas sepeda motor itu.


Begitu pengendara sepeda motor itu menyodorkan helm untuk dipakai oleh Serafina, gadis itu kembali melotot dengan tatapan mata tidak percaya dan kagetnya.


Eh... apa-apaan ini? Aku harus memakai helm yang entah sudah berapa lama tidak dicuci dan sudah berapa kepala orang yang sudah memakainya secara bergantian?


Serafina berkata dalam hati dengan tangan yang tidak juga menerima uluran helm dari tangan pengendara ojek itu.


"Nona, kalau Nona tidak mau memakainya, tukang ojeknya tidak akan berani mengantarkan Nona. Karena kalau tidak, dia akan mendapatkan tilang dari petugas lalu lintas setempat." Penjelasan dari Alex, lagi-lagi membuat hati Serafina terasa panas karena kemarahan dan rasa jengkel yang tidak bisa diluapkannya keluar melalui kata-kata makian dari bibirnya.


Sial! Benar-benar sial! Tapi apa boleh buat, demi karirku, aku harus segera berangkat ke Italia atau aku akan kehilangan kesempatan berhargaku besok.


Akhirnya dengan sikap menyerah karena memang tidak adalagi yang bisa dilakukannya, Serafina mengambil helm itu dengan gerakan perlahan dan memakainya sambil bergidik, sedangkan hidungnya sengaja menahan nafasnya untuk mengurangi rasa jijiknya.


Ih…. Sungguh menjijikkan.


Apa semua orang yang memakai helm ini sudah mencuci rambutnya dengan baik?


Aduh, bagaimana kalau kepalaku nanti terserang kutu?


Rambut indahku…. Akhhhh….. benar-benar menyebalkan.


Aduh, apalagi ini? Rambutku tadi sudah berantakan karena menumpangi mobil barang, dan sekarang harus berantakan lagi karena angin? Benar-benar menyebalkan.


Kalau bukan karena aku harus berada di Italia besok, aku tidak akan sudi menjalani hal memalukan seperti sekarang ini.


Sepanjang perjalanan ke resort, Serafina terus mengomel dan menggerutu dalam hati.