
"Elenora, aku akan pergi mencari air mineral dulu untukmu." Ernest langsung menyatakan niatnya untuk membeli air mineral, karena dilihatnya di apotek itu ternyata tidak menjual air mineral, sedangkan bentol-bentol di wajah Elenora terlihat semakin melebar dan bertambah jumlahnya.
Di bagian lengan Elenora, di bagian bawah yang tidak tertutup oleh kain pakaian, juga mulai terlihat bentol-bentol yang hampir menutup seluruh permukaan kulitnya, membuat Ernest tahu bahwa serangan alergi Elenora semakin parah.
Apalagi Ernest adalah orang yang seringkali melihat dan menangani Alvero saat sedang mengalami serangan alerginya akibat bersentuhan fisik dengan wanita.
Dan Ernest tahu bahwa saat alergi itu menyerang, itu benar-benar terasa menyiksa bagi para penderita.
Karena itu, dengan cepat Ernest berpikir untuk bisa segera mendapatkan air mineral untuk Elenora, dan Ernest berharap Elenora bisa segera meminum obatnya begitu sudah mendapatkannya.
"Eh, Ernest... tidak perlu...." Elenora segera berkata untuk menghalangi niat Ernest karena merasa tidak enak sudah merepotkan Ernest.
"Re... pot...." Akhirnya Elenora hanya bisa melanjutkan kata-katanya tanpa bisa didengar lagi oleh Ernest yang sudah melesat keluar dari pintu apotek dimana Elenora tidak bisa mencegahnya pergi dengan menyusulnya, karena Elenora sedang menunggu uang kembalian dari kasir untuk pembelian obatnya.
Ah, Ernest, seharusnya dia tidak perlu serepot itu, aku jadi merasa tidak enak hati sudah merepotkannya. Sebenarnya aku masih bisa menahan rasa gatalnya sampai kami kembali ke Mozaic Ubud.
Elenora berkata dalam hati sambil menerima uang kembalian dari kasir.
Setelah itu dengan langkah bergegas, Elenora keluar dari apotek itu, berniat mencari Ernest yang sedang mencarikan air mineral untuknya.
Dengan wajah terlihat bingung, Elenora menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, berusaha menebak kemana kira-kira arah perginya Ernest untuk membeli air mineral.
Karena jika sampai dia salah melangkah, Elenora tahu dia dan Ernest justru akan berselisih jalan, dan membuat mereka semakin lama menghabiskan waktu sambil berputar-putar.
Aduh, ke arah mana kira-kira Ernest pergi untuk mencari air mineralnya ya?
Dengan menggigit bagian bawah bibirnya, Elenora berkata dalam hati.
"Eh, di sana ternyata sepertinya ada swalayan, mungkin Ernest membelinya di sana." Elenora bergumam pelan sambil bergegas berjalan ke arah swalayan yang baru dilihatnya, karena ada papan nama toko besar di depannya, bertuliskan nama sebuah swalayan yang cukup dikenal di negara ini.
Karena terlalu terburu-buru berjalan, sambil menoleh kesana kemari, untuk mencari sosok Ernest, Elenora tidak menyadari bahwa dari jarak cukup jauh, di depannya tampak segerombolan pemuda yang sedang berjalan dengan tubuh terlihat sempoyongan dan saling mengeluarkan suara tawanya dengan suara cukup keras.
Membuat beberapa pengguna jalan menoleh ke arah mereka dengan pandangan tidak nyaman karena gerombolan mereka yang terdiri dari cukup banyak orang, dan semuanya dalam kondisi mabuk.
Begitu gerombolan pemabuk itu berada dekat dengannya, Elenora baru mentadarinya.
Dengan sikap hati-hati dan berusaha menghindar, Elenora berjalan dengan sebisa mungkin tidak berpapasan dalam jarak yang terlalu dekat dengan mereka, apalagi jalanan yang sedang mereka lewati saat ini merupakan jalan dengan lampu-lampu hias yang sinarnya temaram, sehingga terkesan gelap.
"Kurangajar sekali!" Laki-laki yang bahunya bertabrakan dengan Elenora langsung berteriak keras ke arah Elenora dengan wajah terlihat beringas, matanya yang merah melotot ke arah Elenora.
"Ma... maaf, saya tidak sengaja...." Dengan wajah menunduk, Elenora segera meminta maaf kepada pemuda yang sudah menabraknya tadi.
"Wahhh... enak saja sudah menabrak orang hanya meminta maaf saja!" Pemuda yang sudah menabrak Elenora itu berteriak sambil berjalan mendekatkan wajahnya ke arah Elenora yang dengan gerakan reflek, menjauhkan tubuhnya ke samping dengan tangan menutupi hidungnya yang merasa terganggu dengan bau alkohol yang terasa begitu menyengat, keluar dari mulut pemuda mabuk itu.
Bau yang membuat Elenora selain merasa jijik juga merasa mual, sehingga Elenora mengernyitkan keningnya sambil menahan nafasnya untuk mengurangi rasa mual yang dialaminya.
Melihat tindakan Elenora yang menghindarinya sambil menutup hidungnya, dengan tatapan terlihat jijik, membuat pemuda itu tersinggung dan semakin marah.
"Beraninya kamu menatapku dengan wajah jijik seperti itu!" Pemuda itu berteriak sambil mengangkat tangannya dengan kepalan di telapak tangannya, bersiap untuk memukul Elenora dengan tinjunya, karena merasa marah dengan sikap Elenora yang terlihat sedang memandangnya dengan jijik, meskipun sebenarnya wajah Elenora tidak terlalu terlihat jelas, karena lokasi mereka sedang berada di tempat yang minim penerangan.
"Hei, easy boy... tenang.... Tenang bung. Jangan kasar terhadap wanita, apalagi dengan wanita cantik." Salah seorang teman pemuda itu, yang juga mabuk berkata sambil menahan gerakan tinju temannya dengan telapak tangannya.
"Kenapa kamu marah-marah seperti itu? Bukannya... kita ini para pecinta wanita cantik? Lihat gadis ini... tinggi, seksi, cantik, kulitnya putih. Dan aku yakin kulit yang tertutup pakaian itu juga mulus dan lembuttttt...." Perkataan temannya itu membuat pemuda yang tadi menabrak Elenora, terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum menyeringai ke arah Elenora, dengan tatapan penuh nafsunya, apalagi melihat bentuk tubuh Elenora yang terlihat begitu proposional dan begitu menarik.
Belum lagi pakaian mahal yang dikenakan oleh Elenora menambah tampilan Elenora semakin menarik. Ditambah wajah Elenora yang tampak mempesona, dengan jepit di rambutnya yang tampak indah berkilau indah di tengah suasana temaram malam ini.
Mendengar perkataan salah satu pemuda yang terdengar mesum, Elenora segera melangkahkan kakinya ke belakang dengan wajah terlihat tidak tenang.
Keringat dingin mulai bermunculan di tubuh Elenora, baik di kening, telapak tangan, dan juga punggungnya.
Siapapun... tolong aku....
Elenora berkata dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya untuk bisa mengendalikan dirinya dari rasa gugup dan takut.
Dengan gerakan cepat, Elenora mulai menoleh ke arah kanan dan kiri, namun tidak banyak orang yang perduli dengan situasi yang sedang dialaminya.
Apalagi gerombolan para pemabuk itu terdiri dari banyak orang, yang langsung mengambil ancang-ancang menggunakan tubuh mereka yang tinggi besar, untuk menutupi tubuh Elenora dari pandangan orang lain.
Dan posisi mereka saat ini bukan berada di dekat lampu penerangan, sehingga apa yang mereka lakukan saat ini tidak terlalu terlihat jelas bagi orang lain, apalagi yang sekedar lewat.
Dan kebetulan, dalam kelompok pemabuk itu terlihat dua orang wanita dengan pakaian terlihat cukup modis, membuat orang lain yang melihat keadaan tersebut berpikir bahwa Elenora termasuk sebagai anggota mereka.
"Nona...." Orang yang menabrak Elenora kembali mendekat, dengan tangan terulur ke arah wajah Elenora, dan langsung mencengkeram dagu Elenora yang awalnya sedang menunduk, dan memaksa Elenora untuk menengadahkan wajahnya, sambil ujung-ujung jarinya mulai mengelus kulit wajah Elenora, membuat Elenora bergidik ngeri.