
Perempuan muda yang tadinya membukakan pintu untuk Fred dan Elenora, kembali menutup pintu setelah kedua tamunya masuk ek dalam apartemen mewah milik tuannya itu, dan segera pergi menjauh masuk ke dalam kembali.
Selain itu, Elenora bisa melihat bagaimana rapinya dan tampannya penampilan James hari ini, tidak seperti biasanya yang rapi tetapi terkesan lebih santai.
Namun hari ini, James tampak memakai pakaian rapi sekaligus terlihat begitu formal, membuatnya tampak semakin mempesona dan mengagumkan.
Dengan setelah jas berwarna hitam, dan bagian dalamnya mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih yang dikancingkan sampai lehenya, rambut tersisir rapi, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan kirinya, membuat James tampil seperti sosok seorang pengantin pria dalam acara resepsi pernikahan.
James yang melihat kehadiran Elenora, langsung tersenyum dan dengan gerakan pupil matanya, memberikan tanda agar Elenora segera mendekat ke arah mereka, meskipun James terlihat sedikit kaget melihat bagaimana Elenora yang kembali mengenakan pakaian kedodoran seperti biasanya hari ini.
Untung saja aku sudah menyiapkan puluhan pakaian yang sesuai dengannya di apartemen ini. Setelah ini sepertinya aku harus menyingkirkan semua pakaian miliknya yang membuatnya terlihat aneh dan kampungan itu. Dia harus mulai membiasakan diri untuk menjaga penampilannya.
James berkata dalam hati, sambil matanya terus mengamati pergerakan Elenora.
Dengan wajah bingung dan gerakan ragu-ragu, Elenora berjalan ke arah James yang duduk saling berhadapan dengan dua orang di depannya itu, yang langsung tersenyum ramah, sekaligus terlihat begitu hormat pada Elenora.
Elenora bermaksud duduk di sofa yang berada tak jauh dari sofa panjang yang sedang ditempati James saat ini, tapi dengan cepat Fred memberi tanda kepada Elenora agar mengambil posisi duduk tepat di samping James.
“Selamat siang Nona Elenora Bianchi.” Kedua orang itu segera mengulurkan tangan ke arah Elenora begitu Elenora duduk di samping James, seolah kedua orang itu sudah mengenalnya, membuat Elenora merasa semakin bingung.
“Se… selamat siang Tuan-tuan….” Dengan gugup Elenora menjawab sapaan mereka dan secara bergantian menyalami tangan mereka dengan tangannya yang mulai merasa dingin dan basah, karena instingnya mengatakan bahwa apa yang akan terjadi padanya ke depannya, adalah sesuatu yang mengejutkan baginya, dan mungkin juga sesuatu yagn tidak mengenakkan.
Apalagi, Elenora yang baru saja melirik ke atas meja yang ada di depannya, bisa melihat tumpukan berkas yang sekilas bisa dia lihat, ada berkas berisi data-data pribadi miliknya dan James ada di sana, membuat Elenora tanpa sadar mengernyitkan dahinya dan mulai menebak apa yang sedang terjadi saat ini.
“Fred, panggilkan Matilda.” Begitu Elenora selesai menyambut salam mereka, James segera memberikan perintah pada Fred, yang langsung mengangguk dan masuk ke ruangan yang lebih dalam dari apartemen itu.
Tidak lama kemudian, seorang wanita berusia sekitar 40an datang bersama Fred, dan langsung mendekat ke arah Elenora.
“Mari Nona, saya akan membantu Nona berdandan.” Perkataan wanita yang disebutkan oleh James bernama Matilda itu berkata kepada Elenora dengan sopan dan sikap hormat, seolah Elenora adalah majikannya.
“James… apa… maksudnya in….” Dengan terbata-bata karena belum bisa menguasai rasa kagetnya, Elenora berkata sambil memandang ke arah James dengan begitu banyak pertanyaan pada wajahnya.
Setelah itu, James segera menarik pergelangan tangan Elenora, mengajaknya untuk pergi ke sebuah ruangan.
Kali ini James memegang pergelangan tangan Elenora dengan lembut dan hati-hati, seolah takut jika pegangan tangannya kali ini akan menyakiti Elenora seperti yang sudah dia lakukan kemarin, yang semalaman sudah membuat James tidak bisa tidur karena rasa bersalahnya, sudah menyakiti tangan Elenora.
Setelah James dan Elenora pergi menjauh, kedua orang yang datang dari Italia itu langsung saling berpandangan dengan mengangkat kedua bahu mereka.
Melihat sikap dan bahasa tubuh Elenora, mereka berdua bisa melihat dengan jelas bahwa Elenora tidak tahu tentang rencana James untuk mencatatkan pernikahan mereka saat ini juga.
Namun, meskipun mereka berdua tahu tentang hal itu, mereka hanya bisa diam, karena bagi mereka, siapa yang berani menentang keinginan orang dari keluarga Xanderson? Yang bahkan bisa memberikan pengaruh yang yang begitu besar, bahkan kadang lebih berpengaruh dibandingkan dengan otoritas setempat.
Sedangkan kedatangan mereka ke tempat ini saja, tidak bisa mereka tolak karena permintaan dari orang yang memiliki kekuasaan tinggi di Italia.
Pihak penguasa tertinggi di kota Roma kemarin sore dengan tiba-tiba, meminta mereka untuk menyiapkan semua berkas dan keperluan untuk melaksanakan pernikahan antara James Xanderson dan Elenora Bianchi siang ini di Indonesia, sesuai dengan hukum yang berlaku di Italia, karena mereka berdua sama-sama warga negara Italia.
Dan bagi mereka berdua, bisa menjadi petugas yang memiliki kesempatan untuk mengabadikan momen penting untuk James Xanderson, merupakan suatu kehormatan besar bagi mereka berdua, yang mungkin akan membuat teman-teman sejawatnya iri dengan itu.
Yang bisa mereka lakukan sekarang hanya duduk diam, dan menunggu keputusan selanjutnya dari James, apakah proses pencatatan pernikahan itu akan dilanjutkan atau dibatalkan.
Dan apapun keputusannya, meskipun mereka sudah datang jauh-jauh dari Italia, tentu saja mereka harus menerimanya, walaupun mungkin hasil akhirnya adalah pembatalan rencana pencatatan pernikahan.
James yang mengajak Elenora ke salah satu ruangan yang dari penataannya terlihat seperti sebuah ruang kerja, langsung menutup pintu ruangan itu begitu mereka berdua ada di dalam sana.
“James….apa maksud… semua ini?” Dengan wajah bingung Elenora bertanya kepada James yang justru tampak tenang, seolah yang akan terjadi berikutnya pada mereka adalah hal yang biasa, seperti sebuah proses proyek kontrak kerjasama yang harus ditandatangani oleh kedua belah pihak.
“Mulai hari ini, kamu akan tinggal di apartemen ini bersamaku. Kemarin sore kamu sendiri yang bilang tidak mau tinggal bersama pria yang bukan suamimu atau pria yang tidak memiliki ikatan darah denganmu. Untuk ikatan darah, aku tidak mungkin mengubah darah yang mengalir di tubuhku agar memiliki ikatan darah denganmu. Tapi pernikahan, tidak ada yang bisa mencegahku untuk menikahimu. Bahkan kedua orangtua kita yang belum tahu, jika mendengar ini, kamu tahu sendiri mereka semua pasti tidak akan menolaknya, karena sebenarnya, inilah yang mereka inginkan terhadap kita.” Mata Elenora membulat sempurna karena perkataan James barusan.
Dengan menikahimu, aku akan mengikatmu, dan tidak memberikan kesempatan bagi orang lain untuk merebutmu dariku. Aku tahu aku masih saja meragukan ketulusanmu, apakah kamu memang layak atau tidak untuk menjadi nyonya Xanderson bagiku. Kepergianmu beberapa tahun lalu, masih menyisakan pertanyaan besar dalam hatiku, dan memberikan keraguan besar padaku tentang dirimu. Tapi aku akan menyelidiki hal itu dengan tetap memberikan ikatan padamu, sehingga aku tidak akan menyesal jika kelak aku sudah menemukan bahwa kamu memang layak berada di sampingku.
James berkata dalam hati sambil menatap dalam-dalam wajah Elenora yang akhir-akhir ini sungguh membuat dadanya selalu bergetar hebat saat berada di dekatnya.