My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PELAJARAN SEBELUM MENIKAH UNTUK EVELYN (1)



Laurel dan Dave sempat beberapa kali mendengar Ornado menyebutkan nama Alvero, terutama saat mereka sedang membicarakan berita tentang negara Gracetian yang cukup membuat ramai saluran berita baik di televisi maupun di internet.


Tapi baik Dave dan Laurel, sungguh tidak menyangka kalau hubungan Ornado dan Alvero cukup dekat sehingga membuat mereka bahkan berencana untuk melakukan liburan bersama.


"Raja Alvero Adalvino dan permaisurinya Deanda Federer?" Laurel bertanya kepada Ornado yang langsung menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala.


"Benar, sebenarnya aku sudah lama mengenal Alvero, sejak kami sama-sama kuliah di Italia. Dan hubungan kami sangat dekat, seperti hubungan kita saat ini. Mereka ingin melakukan perjalanan ke Indonesia sekaligus menikmati babymoon." Ornado berkata sambil kembali mencomot kue kering buatan Evelyn yang jujur saja membuat mulutnya sulit untuk berhenti menikmati kelezatannya.


"Oh, ya, aku juga sudah mendengar di berita bahwa permaisuri Gracetian saat ini sedang mengandung anak pertama mereka..."


"Yup, dan usia kandungannya hampir sama dengan kalian berdua. Pasti akan menyenangkan kalau kita berenam bisa berlibur bersama." Ornado langsung menyambung perkataan Laurel.


"Aku berencana mengaturkan liburan yang mengesankan untuk mereka berdua. Dan aku juga ingin mengajak kalian sekalian, agar Cladia juga merasa nyaman karena ada Laurel di dekatnya, sebagai dokter keluarga kami." Ornado kembali melanjutkan kata-katanya, menjelaskan tentang rencananya dengan kedatangan Alvero dan Deanda ke Indonesia.


"Kalian tahu sendiri, kalau Cladia belum bisa merasa nyaman di keramaian yang dipenuhi orang asing baginya. Dulu ketika di Italia, ada Jeremy yang ikut menemani kami. Tapi sekarang kalian tahu sendiri kalau Jeremy sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Lagipula, aku mau kalian berdua juga mengenal sahabat baikku itu. Aku ingin Alvero dan Dave saling mengenal dan berharap kita bertiga bisa menjalin hubungan baik ke depannya. Jadi bagaimana Dave? Apa kalian bisa ikut dengan kami?" Ornado mengakhiri kata-katanya sambil memandang ke arah Dave yang menggigit bibir bawahnya dengan wajah terlihat sedang berpikir.


"Mmmm... aku akan coba atur ulang jadwalku dan Laurel. Semoga saja semuanya bisa berjalan dengan lancar, sehingga tidak ada perubahan jadwal mendadak tepat di hari H kita pergi.” Kata-kata Dave spontan membuat mata Laurel terlihat berbinar cerah.


Bagi Laurel sungguh menyenangkan untuk menghabiskan banyak waktu bersama Cladia dan Ornado, seperti saat mereka masih kecil dulu.


Bahkan hanya dengan membayangkannya saja membuat Laurel sudah memikirkan banyak hal menyenangkan yang mungkin bisa mereka lakukan bersama-sama, apalagi kepergiannya bersama Dave, suami yang sangat dicintainya itu.


“Eh, Evelyn, maaf ya, sepertinya aku akan membuat Leo sibuk ketika kami pergi bersama Ad." Mendengar perkataan Dave, Evelyn langsung tertawa.


"Kamu tahu kan memang itu resikonya jika memiliki pasangan seorang dokter, apalagi dokter terkenal seperti Leo. Dokter ortopedi (tulang) terbaik di kota ini. Bahkan mungkin yang terbaik di negara ini." Laurel langsung menanggapi perkataan Evelyn.


“Apapun resikonya, sebagai calon istri yang baik, tentu saja aku harus siap dan selalu mendukungnya….”


“Ciee…. So sweet sekali Evelyn. Coba tadi aku rekam kata-katamu barusan. Leo pasti tidak akan bisa tidur semalaman karena memutar rekaman itu sampai ratusan kali sambil senyum-senyum.” Laurel langsung memotong perkataan Evelyn dan menggoda adik iparnya yang cantik itu.


“Lhah…  bukannya Kak Laurel dan Kak Dave yang mengajarkan padaku hal-hal seperti itu?” Mendengar tanggapan Evelyn atas godaannya, Laurel dan Dave saling berpandangan dengan sikap bingung.


Rasanya mereka berdua tidak pernah mengatakan apapun kepada Evelyn dan mengajarkan padanya tentang sesuatu yang berbau romantis atau mesra yang bisa dia lakukan kepada Leo.


“Bagaimana aku tidak belajar dari kalian? Juga Kak Ornado dan Kak Cladia? Kalian berdua selalu saja pamer kemesraan di depanku, meskipun Kak Dave dan Kak Laurel sih mesra-mesraannya secara sembunyi-sembunyi, tidak seterus terang Kak Ornado kepada Kak Cladia. Tapi tetap saja, tanpa sepengetahuan kalian kadang-kadang aku menangkap basah kalian tanpa kalian sadari. Makanya, kalian harusnya berhati-hati, apalagi ada gadis polos sepertiku yang belum mengerti tentang hal-hal seperti itu….” Kata-kata Evelyn sukses membuat baik Dave, Laurel, Ornado dan Cladia terperangah, seolah saat ini mereka sedang berhadapan dengan seorang ibu-ibu yang sedang menasehati pasangan anak muda yang belum menikah, yang ketahuan sedang bermesraan dan berbuat mesum di depan umum.


“Ehem….” Bahkan Dave langsung berdehem kecil sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


Waduh, seberapa banyak yang Evelyn pernah melihat saat kami sedang bermesraan. Ahhhh…. Dave sih, seringkali tidak bisa menahan serangan libidonya. Walaupun aku sudah berhati-hati, kadang Dave seringkali lupa diri terutama saat kami melakukannya di rumah besar, dimana banyak orang di sana, tidak seperti di rumah kami atau rumah kaca ini. Benar-benar berbahaya....


Laurel berkata dalam hati sambil mencoba mengingat-ingat apakah dia dan Dave pernah melakukan sesuatu kelewat batas saat Evelyn ada di dekat mereka.


“Ah, santai saja Evelyn. Anggap saja itu seperti pelajaran sekolah. Yang kadang harus dilihat dan diperhatikan, dihapalkan, tapi tidak bisa sembarangan dipraktekkan jika belum saatnya. Lagipula, kurang dari setengah tahun kamu akan menikah. Harusnya kamu bersyukur bisa mendapatkan pengalaman dan pelajaran gratis dari kami berempat.” Ornado berkata dengan santainya sambil mempererat pelukan tangannya di pinggang Cladia.


Dengan lembut Ornado sengaja menarik tubuh Cladia agar semakin dekat dengannya, tanpa perduli apa yang baru saja dikatakan oleh Evelyn.