My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
WAKTUNYA KEMBALI KE GRACETIAN (2)



"Hah, kalau aku membawa laki-laki yang aku suka di hadapan Kakak dan dia bukan dari kalangan bangsawan, Kakak pasti akan langsung menolaknya dalam sekali lirik." Alvero langsung membulatkan matanya mendengar perkataan dari Alaya.


"Jadi, apa memang benar sudah ada laki-laki yang kamu suka? Kalau begitu, sepulang kita dari Gacetian, kamu harus segera membawanya padaku." Alvero langsung memberikan perintah tegas pada Alaya yang langsung tertawa geli, membuat Alvero kembali melotot, denganĀ  wajah kurang senang.


"My Al, Alaya pasti hanya bercanda. Hanya menggodamu saja. Sampai sekarang belum ada laki-laki yang bisa membuat putri Gracetian kita ini jatuh cinta." Mendengar perkataan Deanda, Alvero sedikit mendengus, meskipun dalam hati dia merasa begitu lega, paling tidak Alaya tidak sedang jatuh cinta pada pria sembarangan.


"Sebenarnya Alaya, aku juga ingin sekali memperpanjang liburanku di tempat ini, tapi kekasihku di Gracetian sudah terus merengek agar aku cepat pulang. Kalau aku tidak menurutinya, bisa-bisa rencana pernikahan kami dibatalkan." Enzo berkata sambil menatap ke arah Alaya sambil tersenyum.


Di sudut lain, tidak jauh dari tempat itu, Erich yang mendengarkan perkataan Enzo sebenarnya ingin langsung menyatakan dukungannya terhadap Enzo, jika dia tidak ingat tentang statusnya hanyalah seorang pengawal peribadi raja Alvero.


Apalagi, Erich bukanlah orang yang memiliki kebiasaan ikut campur dalam pembicaraan orang lain tanpa diundang.


Hanya saja, meskipun tidak ada rengekan atau permintaan dari Cleosa, Erich tahu gadis itu juga sedang merindukannya, sama seperti dia yang saat ini juga merindukan gadisnya itu meski dalam diam.


Bahkan setiap kali matanya melihat keindahan alam yang ada di depannya, Erich selalu membayangkan alangkah menyenangkannya jika dia bisa menikmati keindahan itu bersama Cleosa.


Dan hal itu kadang membuatnya tanpa sadar tersenyum sendiri, suatu hal yang sangat jarang dilakukan oleh Erich yang biasanya selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi dan emosi.


Beberapa kali baik Enzo maupun Erich sempat melakukan panggilan video call dengan tambatan hati mereka masing-masing, tapi baik Enzo maupun Erich, tidak merasa puas sama sekali.


"Memang liburan kali ini sungguh menyenangkan dan memuaskan, semuanya berkat campur tangan Ornado dan timnya yang begitu ahli dalam mengatur segala sesuatunya. Dan aku bersama keluarga dan timku yang lain mengucapkan banyak terimakasih untuk itu." Alvero berkata sambil menatap ke arah Ornado yang langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan posisi sedikit miring mendengar pujian Alvero.


"Dengan senang hati Yang Mulia, lain kali, kita bisa mengunjungi pulau komodo nyang karena keterbatasan waktu, tidak sempat kita kunjungi." Ornado berkata sambil melirik ke arah Alaya yang matanya terlihat begitu berbinar mendengar penawaran dari Ornado barusan, membuat Ornado ingin tertawa melihatnya.




Taman Nasional Komodo meliputi total 29 pulau vulkanik termasuk 3 pulau utama Rinca, Padar dan Komodo. Taman ini merupakan rumah bagi sekitar 2.500 Naga Komodo dan fauna darat lainnya. Medan taman ini unik beragam, terdiri dari lereng pegunungan, hutan hujan tropis, padang rumput hutan, dan pantai berpasir putih bersih. Lingkungan laut di Taman Nasional Komodo adalah salah satu yang terkaya di dunia dalam flora dan fauna dan masih relatif belum ditemukan).


"Kenapa tidak melanjutkannya sekarang?" Mendengar pertanyaan Alaya, Larena langsung mencubit pelan lengan bawah tangan Alaya yang masih bergelayut dengan manja padanya.


"Kamu ini... ingat bahwa posisi dan statusmu sekarang tidak memungkinkan untuk membuatmu berbuat seenaknya. Turuti saja rencana kakakmu selanjutnya." Larena berbisik pelan kepada Alaya.


"Maaf Ma...." Akhirnya Alaya membalas bisikan Larena dengan tidak kalah pelan.


"Jangan terlalu keras padanya, dia hanya sedang menunjukkan rasa kagumnya pada keindahan tempat wisata negara di negara ini." Mendengar perkataan Vincent, Larena langsung menoleh ke arahnya.


"Yang Mulia, tolong jangan terlalu memanjakan Alaya. Sudah lama aku selalu menuruti permintaannya untuk menebus rasa bersalahku sudah menjauhkannya darimu dan kakaknya. Tapi sekarang waktunya dia bersikap dewasa karena bagaimanapun dia adalah adik kandung raja Gracetian, yang kehidupannya akan terus disorot oleh publik." Larena berkata sambil menatap wajah Vincent yang langsung tersenyum, dan justru merasa gemas dengan sikap istrinya yang baginya terlihat terlalu mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti itu.


"Eh... papa dan mama jangan berselisih pendapat karena aku. Tenang saja, aku bisa menjaga diriku dengan baik agar tidak mempermalukan keluarga kerajaan." Alaya berkata sambil meringis, membuat Vincent langsung mengulurkan tangannya dan mengacak pelan rambut di kepala Alaya.


Tindakan Vincent yang setelah tahu tentang siapa sebenarnya Alaya terlihat sangat memanjakan anak perempuannya itu, membuat Larena hanya bisa menghela nafasnya pelan, merasa percuma berdebat dengan Vincent yang selalu berada di pihak Alaya untuk menunjukkan dukungannya kepada anak gadisnya itu.


"Kamu tenang saja Alaya, lain kali kita akan berlibur kembali di sini. Apalagi di negara ini ada rumah yang bisa kita tuju, seperti rumah kita sendiri. Jadi kita tidak perlu khawatir akan menjadi gelandangan di negeri asing ini." Ornado yang tahu bahwa rumah yang dimaksud oleh Alvero adalah rumahnya, langsung tertawa renyah.


"Silahkan saja, pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untuk kalian semua yang ingin berkunjung kembali ke tempat ini." Ornado berkata sambil mengulurkan tangannya yang tergenggam erat ke arah Alvero yang dengan gerakan cepat langsung mengikuti gerakan Ornado, untuk melakukan tos dengan adu kepalan tangan mereka berdua dan tertawa bersamaan setelah melakukan itu.


"Kak Alvero sudah janji padaku ya. Jangan coba-coba ingkar janji karena ada banyak saksi di tempat ini. Dan untuk Kak Ad dan Kak Cladia, mohon kesediaannya untuk menampungku, jika aku datang ke sini." Alaya langsung menanggapi perkataan Alvero yang membuat semua yang ada tersenyum geli dengan kata-kata Alaya.


"Tenang saja Alaya, aku dan amore mio dengan senang hati akan menerima kedatanganmu di tempat ini seperti keluarga sendiri. Anggap saja seperti rumahmu sendiri meskipun rumahku tidak seindah istana Gracetian." Alvero langsung melotot mendengar perkataan Ornado yang kesannya merendah, padahal dia tahu, rumah megah dan mewah Ornado, bisa dikatakan seperti sebuah istana.


"Kamu bisa datang kapanpun kamu ingin, tanpa perlu merasa sungkan. Apalagi kalau kamu butuh tempat pelarian untuk menghindari kemarahan kakakmu yang memang pemarah itu. Untung saja sudah ada Deanda yang begitu hebat, bisa menjadi pawang terbaik bagi Alvero." Ornado berkata sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Alaya yang langsung tertawa.