My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KEMBALI DALAM PELUKANMU



Satu tembakan dari pistol Ornado tepat mengenai tangan Dante yang memegang pistol dan sedang mengarahkannya kepada Erich.


Tembakan Ornado membuat pistol yang sedang dipegang oleh Dante itu terlempar cukup jauh dari tangan Dante, yang langsung memegang pergelangan tangannya yang terkena luka tembak cukup parah, hampir tepat menembus nadinya, membuat tangannya mengucurkan banyak darah segar.


Melihat itu, Cladia langsung membuang mukanya, dengan kening berkerut dan mata terpejam rapat, agar dia tidak berteriak histeris, melihat bagaimana darah yang mengucur deras dari pergelangan tangan Dante karena luka tembak dari Ornado, mengotori lantai di bawahnya.


Dan satu tembakan yang lain dari Ornado, langsung mengenai kaki Dario yang membuatnya kehilangan keseimbangan tubuhnya, dan langsung jatuh dengan posisi berlutut, sambil meringis menahan sakit, dengan tangan memegang lka tembak di kakinya yang juga mengeluarkan cukup banyak darah.


Menyadari situasi yang tidak menguntungkan baginya, Dario bermaksud meraih pistol Dante yang tanpa sengaja terlempar ke arahnya, namun sebuah suara pelatuk yang ditarik tepat di belakang kepalanya disertai dengan benda logam yang terada dingin, dirasakan oleh Dario menempel di kepalanya, membuat Dario menghentikan gerakannya.


(Dalam dunia senjata genggam (handgun) khususnya pistol, istilah pelatuk (trigger) sudah pasti merupakan terminologi yang sangat umum. Pada dasarnya pelatuk adalah pemicu sebuah mekanisme penembakan yang melibatkan beberapa bagian pistol secara simultan dan saling berhubungan satu sama lain.


Pelatuk adalah mekanisme yang memicu mekanisme senjata api untuk melakukan tahapan penembakan. Pelatuk kebanyakan berupa tuas atau tombol yang dipicu oleh jari. Beberapa varian dapat dipicu menggunakan jari yang lebih lemah seperti yang digunakan pada beberapa senjata pada kendaraan / pasukan berkuda).


"Jangan coba-coba untuk melarikan diri Dario. Dan jangan coba-coba berpikir untuk melawan kami." James berkata sambil menendang pistol Dante ke arah Ernest yang tadi mengikuti James berlari ke arah Dario, dan Ernest langsung mengambil pistol itu.


Setelah Ornado berhasil menembak Dante dan Dario, dengan cepat Ornado berlari ke arah Dante yang masih berusaha meraih lengan Cladia untuk menjadikannya benteng pertahanannya yang terakhir.


Dengan gerakan cepat, kaki Ornado langsung menendang tangan Dante yang tadinya berusaha meraih tangan Cladia, dan menambahkannya dengan tendangan yang tepat mengenai dada Dante yang langsung jatuh terkapar di lantai, karena kali ini, tendangan Ornado yang dia lakukan dengan menggunakan telapak kakinya, benar-benar merupakan tendangan yang terasa sangat menyakitkan, bukan seperti yang dirasakan oleh Dante ketika yang melakukan pukulan dan tendangan itu adalah Cladia.


Erich yang ada di dekat mereka berdua segera berdiri tepat di samping tubuh Dante yang terkapar dengan ekspresi wajah pasrahnya, sambil mengarahkan pistol ke arah kepala Dante yang hanya bisa menari nafas panjang dengan sikap menyerah, karena dia tahu dia sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk melarikan diri.


"Amore mio...." Begitu Ornado memastikan bahwa Dante tidak lagi memiliki kesempatan untuk menyerang Cladia, Ornado langsung memeluk Cladia dengan erat sambil menciumi seluruh wajah Cladia dengan sikap lega dan penuh syukur, dengan kedua tangan Ornado sibuk mengelus-elus punggung Cladia dengan penuh kasih sayang.


Bagi Cladia, berada di dalam pelukan Ornado, adalah tempat yang paling nyaman dan juga aman untuknya.


"Maaf amore mio... aku sudah membuatmu mengalami hal seperti ini. Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik." Ornado berbisik pelan tanpa menghentikan kecupannya yang bertubi-tubi menghujani wajah Cladia yang kakinya tiba-tiba terasa lemas begitu sadar apa yang sudah terjadi sebelumnya, membuat tubuhnya melorot ke bawah.


Untung saja dengan sigap Ornado segera menahan tubuh Cladia, dan membawanya untuk duduk, dan dia sendiri langsung duduk di samping Cladia dengan tangannya melingkar dengan sikap posesif ke tubuh Cladia.


"Maaf sudah membuatmu khawatir Al. Aku sudah berusaha yang terbaik agar bisa tetap tenang dan...."


"Kamu hebat amore mio. Semua yang sudah kamu lakukan tadi... sungguh hebat..." Ornado langsung memotong perkataan Cladia, sambil mengecup puncak kepala Cladia tanpa bosan-bosannya, untuk menunjukkan bahwa dia sangatlah mencintai istrinya itu.


Dan Ornado juga merasa begitu bangga, dengan semua yang dilakukan Cladia tadi, yang dia tahu pasti, itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan oleh Cladia di tengah kondisi kesehatannya yang seringkali terganggu karena kehamilannya, dan juga kondisi traumanya terhadap pria.


Sedari tadi, Ornado bisa melihat bagaimana kerasnya Cladia berjuang untuk dapat bertahan dan bersikap tenang di tengah-tengah peristiwa yang pastinya tidak pernah dia duga dan bayangkan sama sekali.


Bagi orang yang mengenal Ornado di dunia mafia, kejadian tadi sudah cukup membuat tegang dan jantung berdebar keras, apalagi untuk seorang Cladia yang tidak pernah terlibat dalam dunia yang seringkali melibatkan senjata api untuk menunjukkan eksistensi mereka, dan juga untuk menyelesaikan masalah.


"Tindakanmu tadi sungguh berani. Aku bangga sekali padamu. Istriku memang benar-benar yang terbaik. Kamu hebat sekali hari ini." Ornado berkata sambil mencium mesra bibir Cladia, tanpa perduli dengan puluhan mata yang sedang memandangi mereka berdua, seperti sedang menonton drama romantis.


Beberapa dari mereka bahkan menahan senyum mereka melihat bagaimana Ornado yang tanpa ragu menunjukkan bahwa dia begitu mencintai wanitanya itu.


Yang lain terlihat memilih untuk pura-pura tidak melihat, karena apa yang dilakukan oleh Ornado pada Cladia, sungguh membuat mereka begitu iri, dan membuat mereka jadi merindukan wanita mereka yang tidak ada bersama dengan mereka saat ini.