My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SELALU BERSIKAP MESRA



"Mo cuisle.... Kamu sedang berbicara dengan siapa? Sepertinya asyik sekali pembicaraan kalian?" Suara lembut Dave yang berbisik dengan begitu mesra dan pelan di telinga Laurel, membuat Laurel terdiam untuk beberapa saat, karena tanpa sadar dia begitu menikmati pelukan mesra dari suaminya, sehingga sedikit mengabaikan Ornado.


Apalagi setelah berbisik pelan, hidung mancung Dave langsung menciumi ceruk leher Laurel tanpa henti.


"Laurel? Apa kamu masih di sana? Bagaimana? Aku menyusul kalian di rumah kaca atau rumah kalian?" Ornado langsung kembali bertanya, setelah ditunggunya untuk beberapa saat Laurel tidak menjawab pertanyaannya, seolah meninggalkannya, membiarkan Ornado berbicara dengan dirinya sendiri.


"Ini Ad." Laurel menjawab pertanyaan Dave dengan menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, sambil menoleh ke arah Dave yang matanya melirik ke arahnya tanpa menghentikan kegiatannya menciumi leher istrinya.


Dan tanpa menanggapi perkataan Laurel dengan kata-kata, Dave hanya mengangguk pelan begitu mengetahui siapa yang sedang mengobrol dengan istrinya di telepon.


"Eh Ad. Di rumah sakit saja. Karena pukul lima kamu sudah akan datang. Terlalu lama jika setelah jam pulang kerja Dave, kami harus pulang ke rumah dulu untuk bersiap. Hari ini Dave tidak bisa pulang lebih awal karena banyaknya jadwal visit ke pasien bedah saraf yang harus ditanganinya." Laurel mewakili Dave untuk memutuskan dimana tempat pertemuan mereka karena tahu jadwal padat Dave hari ini di rumah sakit.


"Ah aku lupa kalau di rumah sakit kalian ada rumah kaca milik Dave. Rumah kaca kalian membuat aku juga ingin sedikit merenovasi gedung perkantoranku. Agar di gedung kantor milikku, aku juga memiliki penthouse, supaya sewaktu-waktu aku bisa beristirahat di sana bersama Cladia tanpa harus pulang ke rumah terlebih dahulu." Perkataan Ornado sukses membuat Cladia yang mendengarnya langsung menoleh ke arah Ornado dengan mata sedikit melotot.


Mendapatkan pelototan dari mata istrinya yang bagi Ornado, matanya tetap terlihat begitu indah saat melotot, membuat Ornado meringis sambil mengecup pipi Cladia dengan cepat.


Dan suara kecupan itu, jelas terdengar oleh Laurel yang langsung tertawa, karena Ornado sengaja melakukannya dengan mengeraskan suara kecupannya.


"Apa maksudmu adalah agar bisa selalu bermesraan dengan Cladia? Kenapa menggunakan kata-kata untuk beristirahat segala?" Pertanyaan Laurel yang bsia di dengar sayup-sayup oleh Cladia, membuat pipi Cladia terasa sedikit panas dan menimbulkan semburat merah dengan sikap tubuhnya yang terlihat gugup, sekaligus malu karena Ornado yang tidak pernah perduli dengan keberadaan orang lain saat bersikap mesra padanya.


"Haist, sudahlah, sampai nanti sore kita akan terus berdebat jika tidak berhenti sekarang. Aku yakin sekarang Dave juga sudah tidak sabar menunggu menikmati waktu makan siang bersamamu. Cladia juga sudah sedari tadi mondar-mandir di depanku dengan wajahnya yang merindukanku. Ok, sampai jumpa nanti sore." Seolah-olah bisa melihat kehadiran Dave di samping Laurel, Ornado segera memutuskan panggilan teleponnya dengan Laurel.


Laurel langsung tertawa mendengar bagaimana Ornado menggoda Cladia dengan kata-katanya barusan.


Sedang Cladia yang jelas-jelas sedang duduk sambil serius mengamati berkas-berkas di pangkuannya kembali menoleh ke arah Ornado dan sedikit mengernyitkan dahinya, begitu mendengar kata-kata suaminya kepada Laurel.


"Al...." Cladia memanggil nama Ornado, berniat memprotes tindakan Orando barusan kepadanya, yang pasti akan membuat Laurel menggodanya habis-habisan saat mereka bertemu atau saling berkirim pesan.


"Kenapa? Ada yang salah? Apa kamu tidak merindukanku? Padahal setiap saat aku selalu merindukanmu amore mio." Ornado bertanya dengan wajah dan sikap tidak bersalahnya, bahkan dengan cepat dia segera mencuri ciuman dari bibir manis istrinya yang hanya bisa tersentak kaget.


"Manis sekali bibirmu, membuatku kadang begitu sulit untuk berhenti menikmatinya." Ornado berkata pelan sambil ujung ibu jari tangan kanannya mengusap lembut bibir Cladia yang terlihat semakin memerah wajahnya.


Dan bukan hanya sekedar wajahnya yang memerah, saat ini Cladia sadar betul bahwa degup jantungnya terasa berpacu keras karena tindakan Ornado padanya barusan.


Al, kamu ini selalu saja berhasil membuatku salah tingkah dan tidak bisa menolak setiap kemesraan yang kamu berikan padaku. Aku sungguh mencintaimu Al.


Cladia berkata dalam hati sambil menatap ke arah Ornado yang sudah bangkit dari duduknya.


"Apa aku terlihat begitu mempesona sampai matamu sulit beralih dariku? Padahal sebagai istriku, kamu bebas melakukan apa saja padaku. Karena semua yang ada padaku, dari ujung rambut sampai ujung kakiku, semuanya adalah milikmu. Dan hanya milikmu." Ornado kembali menggoda Cladia yang wajahnya langsung tersipu malu mendengar perkataan suaminya itu, seperti seorang anak remaja yang sedang ketahuan sedang mengagumi laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta dengan diam-diam.


"Ah, amore mio... quanto ti amo, senza di te non posso più vivere. Per me sei tutto. Il centro dello scopo della mia vita." (Betapa aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Bagiku kamu adalah segalanya. Pusat dari tujuan hidupku). Ornado membungkukkan tubuhnya, berkata sambil mengecup lembut puncak kepala Cladia yang hanya bsia memegang dadanya yang berdetak semakin kencang karena kecupan hangat dari Ornado di atas puncak kepalanya.


Bahkan dada Cladia rasanya akan meledak akibat rasa bahagia yang menghantam dadanya, karena tindakan Ornado bahkan memberikan respon gerakan-gerakan kecil pada bayi di dalam perutnya, seolah bayi dalam perutnya bisa ikut merasakan bagaimana bahagianya hati Cladia saat ini.


"Niente è più bello che con te, amore mio." (tidak ada yang lebih indah dibanding bersamamu, cintaku). Ornado berkata sambil menegakkan kembali tubuhnya, dan tangannya mengelus lembut puncak kepala Cladia dengan penuh kasih sayang.


"Ayo amore mio, sudah waktunya kamu dan bayi kita makan siang." Ornado berkata sambil mengulurkan tangannya ke arah Cladia yang dengan gerakan pelan langsung menyambut uluran tangan suaminya.


"Kalau begitu, siang ini, apa yang ingin kamu makan? Kita makan keluar saja ya hari ini? Tadi aku sengaja meminta tante Ema tidak mengirimkan masakan untukmu, karena ingin mengajakmu makan keluar." Cladia langsung tersenyum mendengar perkataan dari Ornado.


"Al, bolehkan hari ini aku yang menentukan makan siang kita?" Tanpa berpikir panjang, Ornado langsung menganggukkan kepalanya mendengar permintaan dari Cladia, tanpa tahu bahwa ada satu makanan yang sedang begitu diinginkan Cladia siang ini, yang akan membuat Ornado kaget nantinya.


"Apa kita perlu mengajak Jeremy dan Niela?"


"Tidak Al. Siang ini mereka sedang sibuk melakukan pengecekan nama-nama undangan untuk pesta pernikahan mereka." Cladia langsung menjawab pertanyaan Ornado dengan cepat.


"Ok, kalau begitu, kita pergi sekarang ya? Aku akan menghubungi Fred agar bersiap untuk mengantar kita." Ornado berkata sambil melingkarkan lengannya ke bahu Cladia dan berjalan melangkah keluar dari kantor Cladia dengan Cladia yang berada dalam pelukannya.


# # # # # # #


"Apa yang sedang kamu bahas dengan Ad? Sepertinya kamu ada janji pertemuan penting dengan Ad sore ini. Apa aku tidak diajak?" Mendengar pertanyaan dari Dave yang terdengar merajuk, dengan hidungnya masih tidak berhenti menciumi lehernya, Laurel langsung menggerakkan tubuhnya untuk turun dari kursi bar yang sedang didudukinya dan berbalik ke arah Dave.


Gerakan tubuh Laurel membuat saat ini tubuhnya tepat berhadap-hadapan dengan tubuh Dave.


Dokter tampan berambut coklat dengan mata birunya itu langsung tersenyum begitu melihat mata Laurel menatapnya sambil tersenyum, yang menunjukkan lesung pipinya yang membuatnya terlihat semakin cantik.


Dan saat ini Dave hanya bisa tersenyum bahagia, karena tampak jelas Laurel sedang menatapnya, dengan tatapan matanya yang menunjukkan wanita di hadapannya itu begitu mencintai dan memujanya.