
"Selamat sore amore mio. Apakah semuanya berjalan lancar hari ini? Bagaimana kabarmu dan si kecil sepanjang hari ini?" Ornado bertanya sambil hidungnya yang mancung menarik nafas dalam-dalam, menikmati bau harum yang disebarkan oleh rambut lurus Cladia yang terasa begitu lembut di dagu Ornado, sedang salah satu dari kedua tangannya yang melingkar di pinggang Cladia, mengelus lembut perut Cladia, menyapa bayi dalam perut Cladia, yang gerakan-gerakan kecilnya sudah mulai bisa dirasakan oleh Ornado.
Dan seolah tahu siapa yang sudah menyentuhnya, ada sebuah gerakan kecil yang dirasakan oleh Ornado saat telapak tangannya menempel di perut Cladia setelah mengelusnya lembut beberapa kali, membuat Ornado langsung menyungingkan senyum bahagia di wajahnya.
Cladia yang juga merasakan adanya gerakan kecil dari dalam perutnya ikut tersenyum sambil memandang ke arah tangan Ornado yang masih berada di sana.
"Sepertinya bayi kita juga merindukan kehadiranku di dekatnya. Aku juga merindukanmu sayang. Kamu harus baik-baik di perut mamamu ya. Jangan menyakiti mama, jangan membuat mamamu sedih dan susah ya. Tumbuhlah dengan sehat dan sempurna di dalam sana." Ornado berkata pelan dengan nada suara terlihat penuh dengan kasih sayang kepada calon anaknya.
"Harusnya aku juga pulang lebih awal hari ini sepertimu amore mio. tapi sayangnya banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ornado berkata sambil tangannya kembali bergerak dan mengelus lembut perut istrinya, dan menikmati sesekali gerakan kecil yang dibuat oleh bayi di perut Cladia yang seolah sedangĀ membalas sapaannya dan ingin berbincang dengannya.
Kebetulan hari ini Cladia pulang kerja lebih awal, agak siang, karena masih ada tamu di rumahnya. Sehingga sebagai nyonya rumah yang baik, dia ingin mengecek bagaimana kondisi rumah, dan bagaimana para pelayannnya menjamu serta melayani para tamunya.
"Bahkan belum lebih dari 12 jam kita berpisah, rasanya aku sudah begituĀ merindukanmu amore mio. Seharusnya waktu itu aku menolak mentah-mentah permintaan Jeremy jika tahu itu akan membuatku begitu tersiksa seperi ini. Aku benar-benar menyesal sudah menjanjikan hal seperti itu." Ornado berkata dengan nada berkeluh kesah, membuat Cladia hanya bisa tersenyum geli.
"Kamu ini ada-ada saja. Sudah melakukan hal baik, kenapa harus menyesal?" Kata-kata Cladia berhasil membuat Ornado meringis karena merasa tersindir.
"Baik untuk Jeremy dan Niela, tapi tidak untukku." Ornado berkata sambil mulai menundukkan kepalanya, sedikit membungkukkan tubuhnya, dan mulai membiarkan hidungnya yang mancung sibuk menciumi leher jenjang istrinya, menikmati bau harum tubuh Cladia melalui kulit lehernya yang putih bersih.
"Keberadaanmu benar-benar membuatku seperti orang mabuk, dan tidak perduli pada apapun juga." Kata-kata mesra dari Ornado membuat wajah Cladia langsung memerah, membuat Ornado semakin ingin menggoda istrinya.
"Kenapa terdiam? Apa kamu tidak percaya dengan kata-kataku?"
"Tidak. Tentu saja aku percaya padamu Al. Tidak ada alasan bagiku tidak percaya padamu, apapun yang kamu katakan padaku. Bahkan kamu adalah orang yang paling aku percayai di dunia ini." Ornado semakin intens menciumi leher Cladia begitu mendengar kata-kata darinya, yang bagi Ornado merupakan sebuah pujian, penyemangat, dan juga pernyataan tersirat bahwa Cladia sungguh sangat mencintainya dengan sepenuh hati.
"Ti amo amore mio. Ti amo davvero da quando, fino a quando. Il mio amore non cambiera mai." (Aku mencintamu cintaku. Aku sungguh mencintaimu dari kapanpun, sampai kapanpun. Cintaku tidak akan pernah berubah).
Ornado mengucapkan kata-katanya dengan begitu lembut, dengan bibirnya yang menempel pada telinga Cladia, membuat Cladia bisa merasakan hangatnya hembusan nafas dari Ornado, yang membuat dadanya berdetak keras dan memaksanya harus menahan nafasnya beberapa kali, karena tindakan Ornado selalu berhasil membuat bulu kuduknya merinding dan merasakan sensasi debaran jantung yang diiringi rasa berbunga-bunga dalam hatinya, yang tidak bisa dia lukiskan dengan kata-kata, indahnya perasaan yang dia rasakan saat Ornado menunjukkan bahwa laki-laki itu begitu memuja dan mencintainya.
Di tempatnya berdiri, Dario hanya bisa memandang ke arah Cladia dan Ornado dengan pandangan yang begitu sulit untuk diartikan. Tatapan mata tajam, dan juga nafasnya yang sedikit memburu menunjukkan dia begitu berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlibat diantara dua orang yang terlihat begitu mesra itu.
Dario berkata dalam hati, sambil membalikkan tubuhnya dengan cepat dengan kedua tangannya terkepal dengan erat.
"Eh, Dario! Darimana saja? Alberto sedari tadi mencarimu." Sapaan dari Carina membuat Dario sedikit mengalihkan wajahnya sebentar, sebelum akhirnya memandang ke arah Carina dengan senyum ramahnya, yang menyempurnakan sosok tampannya.
"Ah, papa mencariku? Aku sedang menikmati keindahan bangunan rumah milik Ornado sampai lupa bahwa aku berjanji menemani papa menghabiskan sore ini dengan mengobrol." Dario segera menanggapi perkataan dari Carina.
"O ya, apa kamu melihat James? Katanya sepulang kerja dia akan langsung datang ke sini." Carina bertanya dengan tatapan mata terlihat mengelilingi sekitarnya, mencoba mencari sosok anak pertamanya.
"Sepertinya tadi aku melihatnya sedang di kebun mawar. Auntie Carina susul saja di sana. Auntie bisa bertanya kepada Ad jika tidak menemukannya di sana." Jawaban dari Dario membuat Carina dengan langkah bergegas segera berjalan menuju kebun bunga untuk mencari James.
Carina ingin menghabiskan lebih banyak waktu yang dia punya dengan James sebelum besok dia kembali terbang ke Italia bersama Alberto dan kedua orangtua Elenora.
Sampai detik terakhir Carina masih berusaha membujuk James untuk tidak menolak rencana perjodohannya dengan Elenora, dan juga agar James tidak menyulitkan Elenora selama gadis itu tinggal di Indonesia dan bekerja sebagai asistennya.
Dan tindakan Carina yang percaya dengan ucapannya begitu saja, membuat Dario sedikit menaikkan salah satu ujung bibirnya, berharap kehadiran Carina dapat sedikit merusak kemesraan antara Cladia dan Ornado yang hampir saja membuatnya tidak tahan dan hampir saja membuatnya bertindak gegabah, yang bisa merusak rencana besar yang sudah dia siapkan dengan baik jauh-jauh hari.
# # # # # # #
"Aku menerima permintaan Ornado agar kamu bekerja di kantor Bumi Asia untuk menjadi asistenku. Tapi ingat, tidak boleh ada seorangpun yang mengetahui tentang hubungan kita, apalagi rencana perjodohan kita. Kalau sampai aku dengar ada yang membicarakan hal itu.... Saat itu juga aku akan meminta Afro untuk menarikmu kembali ke kantor pusat di Italia. Dan itu juga akan menjadi pertemuan terakhir bagi kita. Aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang yang tidak bisa memegang janjinya." James berkata sambil menatap tajam ke arah Elenora yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang diucapkan oleh James.
Ah, andai saja James bukanlah laki-laki yang sudah menyelamatkanku waktu itu, sehingga membuatku bertekad untuk mendapatkan cintanya, mungkin saat ini aku tidak akan terjebak dalam suasana seperti ini. Kadang aku merasa begitu bodoh, karena begitu mencintai laki-laki yang bahkan tidak pernah memandangku sebagai seorang wanita sedikitpun.
Elenora berkata dalam hati sambil sedikit menahan nafasnya.
Aku sudah bersumpah sejak hari dimana James menyelamatkanku, aku hanya akan mencintai dia saja seumur hidupku. Tidak perduli jika pada akhirnya dia akan bersama wanita lain dan tidak memilihku. Jika itu terjadi, aku akan menyimpan baik-baik perasaan cintaku dalam diam. Dan aku tidak akan pernah menyesal dengan keputusan itu, karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas budi padanya... mencintainya sampai akhir hidupku.
Elenora kembali berkata dalam hati dengan menelan sedikit air ludah yang terasa mengganjal di tenggorokannya.