
“Al, handphonemu dari tadi menyala terus. Angkat saja panggilan telepon itu." Cladia langsung mengingatkan Ornado karena dilihatnya Ornado terlihat tidak ada niat mengangkat panggilan teleponnya.
"Biarkan saja amore mio. Aku akan mengangkatnya setelah kita sampai di kantor." Ornado bersikeras untuk tida menerima panggilan telepon itu.
"Tapi sepertinya panggilan penting, karena sedari tadi tidak berhenti." Ornado langsung tersenyum mendengar perkataan dari Cladia.
"Dari James. Tentu saja penting baginya, tapi tidak bagiku." Cladia langsung melotot mendengar perkataan Ornado yang terlihat sengaja melakukan itu untuk mengerjai James.
Ornado memang sudah menceritakan semua kejadian tentang James pada Cladia ketika mereka masih berlibur bersama Alvero dan Dave beberapa waktu yang lalu.
"Jangan begitu Al...."
"Tenang saja amore mio, justru karena itu panggilan penting, nanti aku akan menerimanya." Orando berkata sambil melirik ke arah istrinya yang sedang sibuk menganggukkan kepalanya sambil tersenyum untuk membalas atau memberi salam dari para pegawai Sanjaya yang berpasasan dengannya.
Sedang Ornado, seperti biasanya jika berhadapan dengan para pegawainya, lebih memilih untuk bersikap dingin, tanpa banyak tersenyum, dan hanya membalas sapaan mereka dengan tatapan matanya yang menunjukkan bahwa dia memperhatikan mereka, tanpa tersenyum pada mereka.
"Tapi Al, mungkin James memang sedang membutuhkanmu sekarang."
"Dia sih selalu membutuhkanku..." Dengan nada santai Ornado berkata sambil membuka pintu kantor Cladia yang langsung mencubit lengan Ornado karena kata-katanya barusan.
"Auw... kamu juga sedang menarik perhatianku karena membutuhkanku amore mio?" Ornado yang sudah menutup kembali pintu kantor Cladia, berkata sambil satu tangannya langsung meraih pinggang istrinya, dan menariknya mendekat ke arahnya, mencium keningnya lembut.
"Al...." Dengan wajah memerah, Cladia menyebutkan nama panggilan kesayangan untuk suaminya itu.
"Aku yang membutuhkanmu amore mio. Selalu membutuhkanmu." Ornado berkata sambil menahan nafasnya sesaat, dengan pandangan mata menatap mesra ke arah Cladia.
"Sudah waktunya bekerja Al." Dengan gerakan pelan, Cladia berusaha membebaskan dirinya dari pelukan Ornado.
Sejak beberapa waktu ini, karena kehamilannya, Cladia memang seringkali bersikap manja dan ingin berada dekat dengan Ornado, begitu menyukai bau harum tubuh Ornado, entah dia memakai parfumnya atau tidak.
Tapi Cladia merupakan wanita yang berpikiran realistis dan profesional, sehingga di tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk bermanja-manja dengan Ornado, apalagi ada banyak pekerjaan yang menunggu, yang sempat tertunda lama karena acara liburan mereka yang lebih dari dua minggu, sedikit molor dari jadwal yang seharusnya, karena Alvero dan keluarganya begitu menikmati perjalanan mereka kali ini.
"Hah! Berada di dekatmu benar-benar membuatku sering lupa diri, padahal aku harus ingat tugas dan kewajibanku sebagai kepala rumah tangga, harus bekerja keras untuk menjamin masa depan istriku tercinta dan anak-anakku kelak." Selesai berkata-kata, Ornado mengecup lembut bibir Cladia, sebelum dia dengan wajah tidak rela melepaskan pelukannya tangannya dari tubuh istrinya, yang hanya bisa tersenyum dengan wajah malu-malu karena kata-kata mesra dari Ornado barusan.
Sikap Ornado yang selalu berwibawa, tegas, dengan mata birunya yang seringkali terlihat begitu dingin saat menatap orang lain, apalagi yang tidak terlalu dekat dengannya, membuat beberapa orang menganggap bahwa tatapan mata biru itu sungguh mematikan.
Namun jika berada di dekat Cladia, sikap Ornado... semuanya akan berbalik menjadi 180 derajat, dimana tatapan mata biru itu akan menjadi begitu lembut, sikapnya menjadi begitu mesra dan hangat, membuat para wanita akan merasa iri melihat bagaimana perlakuan Ornado yang begitu manis pada Cladia, sedang para pria akan merasa iri karena sikap Ornado akan membuat istrinya membalasnya dengan tatapan oenuh cinta.
"Al, apa semuanya akan baik-baik saja?" Cladia yang akhirnya teringat maksud dan tujuan Cladia kenapa Ornado bersikeras untuk berada dalam satu kantor dengannya sementara waktu ini, mau tidak mau bertanya dengan sikap terlihat sedikit khawatir.
Ingatan tentang Edi maupun Edo yang pernah berusaha menyerangnya, membuat Cladia yang sudah berusaha keras mengatasi traumanya meskipun belum 100 persen sembuh, membuatnya mau tidak mau tetap merasa khawatir setelah mendengar berita tentang kematian mereka berdua.
Awalnya Ornado bertekad untuk tidak menceritakan tentang peristiwa kematian Edi dan Edo.
Akan tetapi, Cladia yang terus mendesaknya untuk mengatakan alasan di balik rencananya untuk memindahkan sementara kantor Ornado di Sanjaya, membuat Ornado tidak berkutik, dan berakhir dengan menceritakan apa alasan sebenarnya di balik keputusannya yang didukung penuh oleh Jeremy dan yang lain itu.
Beberapa kali wajah Cladia terlihat tegang ketika Ornado menceritakan kejadian yang menimpa Edi dan Edo, juga hasil autopsi yang menyatakan bahwa kedua laki-laki itu kemungkinan besar memang telah diracun oleh seseorang, namun keberadaan Ornado di dekatnya membuat Cladia lebih bisa mengendalikan diri dan pikirannya untuk besikap lebih tenang.
Entah motif apa yang mendasari tindakan kejam orang itu, namun besar kemungkinan, kematian kedua pria itu disebabkan oleh orang yang sama, karena jenis racun yang ditemukan di tubuh merekapun sama persis.
"Apa yang kamu khawatirkan amore mio. Tentu saja semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu berada di sisimu untuk menjagamu. Itulah kenapa aku selalu merasa khawatir jika harus memberitahukan padamu segala hal yang bisa membuatmu khawatir dan tidak tenang." Ornado berkata sambil mengelus lembut rambut Cladia yang terurai panjang sampai ke pinggangnya, dengan gerakan lembut, dari kepala sampai ke punggung Cladia.
"Tapi sebagai istrimu, aku berhak tahu apapun yang terjadi di sekitarmu dan aku." Ornado langsung tersenyum sambil menoel ujung hidung Cladia dengan gerakan pelan.
"Aku setuju dengan ucapanmu. Karena itu aku memberitahukan tentang masalah itu padamu kan?" Jawaban dari Ornado membuat Cladia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Karena itu, aku begitu bersyukur memilikimu sebagai laki-lakiku. Kamu selalu membuatku merasa bahagia, dan selalu dihargai. Aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini karena memilikimu Al." Ornado tertawa kecil, dengan wajah terlihat begitu cerah.
Perkataan Cladia sukses membuat rasa bahagia dan juga bangga menyembul dalam hatinya, membuat jantungnya berdetak dengan lebih keras, apalagi setelah mengucapkan kata-katanya, kedua tangan Cladia bergerak pelan mengelus lembut kedua pipi Ornado dengaan menunjukkan sikap sayangnya kepada Ornado, suatu hal yang tidak pernah dilakukan Cladia pada pria manapun, membuat hati Ornado semakin dipenuhi dengan bunga-bunga cinta.
Ist... amore mio, kamu yang mengatakan bahwa ini di kantor, waktunya untuk bekerja. Tapi apa yang kamu lakukan dan katakan padaku sungguh-sungguh membuatku sulit untuk tidak mulai mencumbumu.
Ornado berkata dalam hati dengan berusaha kuat menahan gairah dan hasratnya yang mulai bangkit karena tindakan Cladia, yang tidak disadari oleh Cladia sendiri, bahwa tindakannya yang bagi Cladia sendiri menunjukkan bagaimana dia begitu mencintai Ornado merupakan tindakan yang membuat kepala Ornado sedikit pusing karena tahu bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikan hal yang baru saja dibangunkan oleh Cladia dalam tubuhnya, sesuatu yang hanya Cladia yang bisa membuatnya terbangun.