My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KEHADIRAN DARIO (1)



“Dario?” Dengan wajah kaget dan bertanya-tanya, James menyebutkan nama Dario yang tidak disangka-sangka olehnya, tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka, apalagi Bali juga bukanlah kota yang berjarak dekat dengan tempat tinggal Dario saat ini, yang tidak akan bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan darat kurang dari 10 jam.


James yang bagaimana melihat penampilan rapi dan segar Dario sore ini, James yakin, Dario sudah ada di pulau ini sejak kemarin, atau minimal pagi tadi.


Dan bagi seorang Dario yang dikenal bukan hanya sebagai pengusaha sukses, namun juga sosok pengusaha tampan yang seringkali tampil glamour di depan umum, James bisa menebak bahwa Dario datang ke tempat ini dengan penerbangan terbaik atau mungkin bahkan dengan pesawat jet pribadinya, yang James tahu, Dario bahkan sengaja membeli jet pribadi dengan merk dan tipe yang sama dengan milik Grup Xanderson.


Kenapa tiba-tiba saja Dario bisa muncul di tempat ini? Kalaupun dia berada di pulau ini sekarang, rasanya begitu aneh bertemu dengannya di tempat ini, padahal pulau Bali juga bukan tempat sempit, dan tempat berbelanja, bukan hanya di sini. Juga, waktu berbelanja juga apakah bisa kebetulan seperti ini? Apa Dario sengaja mengikuti kami?


James berkata dalam hati sambil melirik Dario yang tangannya sedang menepuk pelan bahu Ornado, dengan sikap hangat.


“Apa aku mengganggu waktu kalian untuk bersenang-senang?” Dario kembali bertanya dengan suaranya yang seperti biasanya, terdengar ramah dan begitu bersahabat, membuat orang lain sulit untuk tidak menyambut kehadirannya.


“Ayolah. Kenapa harus meminta ijin untuk bergabung segala.” Ornado langsung menanggapi perkataan Dario, sedang James dengan cepat langsung menggerakkan tangannya, menggeser kursi untuk Dario, agar dia bisa ikut duduk bergabung dengan mereka.


“Apa kabar Yang Mulia Alvero?” Dario yang sudah duduk dengan posisi di hadadapn Alvero langsung berkata sambil mengulurkan tangannya kepada Alvero yang langsung tersenyum ke arah Dario.


“Wah, tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini Dario.” Alvero berkata sambil menyambut uluran tangan Dario dengan sikap hangat.


Meskipun tidak sering bertemu dengan Dario, tapi satu dua kali Alvero pernah bertemu dengan Dario, atau melihatnya melalui foto dan media sosial milik Ornado, ataupun lewat berita yang kadang mengulas tentang bagaimana sosok Dario sebagai salah satu pengusaha sukses di usia mudanya.


“Ornado memang mengatakan bahwa kamu juga sekarang sedang sibuk membangun bisnis barumu di negara ini. Tapi aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu di tempat wisata seperti ini.” Kata-kata Alvero membuat Dario menggaruk-garuk keningnya dengan gerakan pelan, dengan senyummnya yang selalu membuatnya tampak begitu memukau dan tampan.


“Tentu saja karena usahaku yang akan aku bangun di negara ini adalah usaha kosmetik, dan salah satu tempat yang harus aku kunjungi untuk melakukan survey pasar adalah pulau dewata ini.” Dario menanggapi perkataan Alvero dengan nada santai, tidak melihat bahwa kali ini James lebih banyak diam begitu melihat sosok Dario.


Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Dario. Aku harap Ad tidak lengah sedikitpun, meskipun Dario adalah kakak angkatnya. Toh, selama ini dia tidak pernah ada di sisi Ornado saat Ornado membutuhkannya. Justru selama ini Dario lebih terlihat selalu ingin bersaing dengan Ornado.


James berkata dalam hati sambil pura-pura serius dengan handphone di tangannya, sehingga tidak lagi terlalu perduli dengan kehadiran Dario yang sudah duduk bergabung bersama mereka.


"Sejak kapan kamu ada di pulau ini?" Alvero langsung bertanya begitu Dario sudah duduk dengan sikap santai.


"Dari kemarin malam aku datang. Aku juga baru tahu ternyata kalian semua sedang berkumpul di pulau ini." Dario berkata sambil melirik ke arah James.


"Sungguh suatu kebetulan yang tidak disangka-sangka. Menginap dimana kamu semalam?" Pertanyaan Ornado, membuat Dario mencebikkan bibirnya sebentar sambil mengernyitkan dahinya.


"Sebenarnya, aku ingin menginap di Bvlgari Resort Bali, tapi mereka bilang untuk sementara waktu ini resort mereka full dan tidak menerima pengunjung, karena resort mereka sudah disewa sepenuhnya oleh serombongan wisatawan selama beberapa hari ke depan. Siapa sangka ternyata para wisatawan itu adalah kalian." Dario berkata sambil tertawa geli.


“Kenapa tidak mengajakku berlibur bersama kalian Ad?” Tanpa basa basi, Dario langsung bertanya kepada Ornado.


“Lain kali kita bisa berlibur bersama. Siapa yang menyangka kamu juga akan pegi ke tempat ini. Aku tidak mungkin mengajakmu berlibur, karena di pesta pindah rumahmu kamu sendiri bilang akan sibuk selama beberapa waktu ini, dan mungkin itu membuat kita akan sulit untuk bertemu dan saling mengunjungi.” Lagi-lagi Dario mencebikkan bibirnya mendengar perkataan dari Ornado yang rasanya tidak mudah untuk dia pojokkan.


“Ah ya, kalau begitu, lain kali kamu harus benar-benar mengajakku untuk ikut pergi bersamamu. Pasti menyenangkan bisa tinggal dan berlibur bersamamu dan yang lain seperti ini.” Dario akhirnya memilih untuk mengalah dan tidak lagi menyerang Ornado dengan kata-katanya.


"Sayang sekali semua tempat di Bvlgari Resort Bali yang kami tempati sudah penuh terisi. Kalau tidak, kamu bisa bergabung bersama kami selama di Bali." Ornado berkata sambil melirik ke arah James yang sedari tadi lebih banyak diam sejak Dario datang.


"Tidak masalah, bisa bertemu kalian di tempat ini sudah merupakan suatu keberuntungan bagiku. Meski sekarang kita tinggal di kota yang sama, tapi karena kesibukan kita, kita jarang sekali saling berkomunikasi, termasuk dengan James, bukan hanya saja denganmu." Perkataan Dario disambut sebuah anggukan pelan dari Ornado yang memang terakhir kali berkomunikasi dengan Dario adalah ketika Dario mengundangnya di pesta pindah rumah yang diadakannya.