
Ah, untung saja sepertinya Ad tidak melihat bahwa baru saja aku melirik ke arah Cladia.
Dario berkata dalam hati sambil melempar senyum manis ke arah Ornado, seolah semuanya baik-baik saja.
“Aku ikut dengan pendapat yang lain, yang mengakui kelezatan dan rasa unik dari setiap sajian yang disuguhkan malam ini.”
“Emmmm, begitu ya…” Ornado berkata pelan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menoleh ke arah istrinya.
“Bagaimana denganmu amore mio? Kamu suka makanan malam ini?” Sebuah senyuman langsung tesembul di bibir Cladia begitu mendengar pertanyaan Ornado, tanpa melihat sedikitpun ke arah Dario yang harus menahan nafasnya begitu melihat betapa cantiknya Cladia yang sedang tersenyum barusan.
Namun, sayangnya Cladia tersenyum secantik itu untuk Ornado, bukan untuknya, membuat Dario lagi-lagi hanya bisa menahan rasa kesal dan cemburu dalam hatinya yang terasa begitu panas di dada.
“Maaf Al, ada beberapa yang tidak aku suka, terutama hidangan lautnya, rasanya amis sekali.” Cladia berkata sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Bahkan hanya dengan membayangkan masakan berbahan ikan laut yang tadi sempat dicium oleh Cladia bau masakan itu, membuat perutnya terasa diaduk-aduk dan kembali merasakan mual yang luar biasa, meskipun dia bisa menahannya.
Cladia yang sejak kecilnya begitu menyukai seafood, memang setelah hamil justru tidak tahan dengan bau dan rasa masakan yang mengandung seafood.
“Minum ini dulu amore mio. Jangan dipaksakan, kamu masih bisa memakan masakan yang lain.” Ornado segera menyodorkan segelas jus dingin ke arah Cladia yang tanpa banyak bicara langsung meminumnya seteguk untuk menghilangkan rasa mual yang menyerangnya.
“Lebih baik aku ke kamar mandi sebentar.” Cladia berkata sambil bangkit dari duduknya dan menggeser kursinya.
Hah… kasihan sekali Cladia, sepertinya kehamilannya benar-benar membuat tubuhnya lemah dan tidak sehat. Untungnya, Ornado merupakan suami yang begitu menyayangi dan melindunginya, sama seperti yang mulia. Membuat kami para istri merasa begitu dipuja dan dicintai.
Deanda berkata dalam hati sambil ikut bangkit dari duduknya.
“Cla, aku ikut denganmu ke kamar mandi. Aku juga perlu kesana sebentar.” Deanda berkata sambil berjalan mendekat ke arah Cladia.
Melihat Deanda berencana menemani istrinya, membuat Ornado menghentikan niatnya untuk pergi mengantar Cladia ke kamar mandi, dan menggerakkan tangannya ke arah Elenora untuk mendekat ke arahnya.
“Ya Ad. Kenapa?” Elenora yang langsung mendekat begitu Ornado memanggilnya melalui lambaian tangannya langsung bertanya begitu sampai di samping kursi Ornado.
“Tolong ikut Cladia dan Deanda ke kamar mandi, mungkin mereka nanti membutuhkan bantuan saat di sana.” Ornado berkata dengan matanya menatap ke arah dimana sosok Cladia dan Deanda bergerak menjauh dari tempat mereka makan sekarang.
“Baik Ad, aku akan menyusul mereka sekarang.” Elenora langsung menjawab permintaan dari Ornado dan berjalan ke arah Cladia dan Deanda pergi.
“Terimakasih Elenora.” Elenora hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya begitu mendengar Ornado mengucapkan terimakasih.
# # # # # # #
Deanda sedikit melirik ke arah Elenora yang sedang menunggunya dan Cladia di depan pintu kamar mandi.
“Kenapa kamu menyusul kemari Elenora? Kamu mau ke kamar mandi juga? Kamar mandi sudah ada yang kosong kok. Masuk saja.” Perkataan Deanda membuat Elenora langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak, aku tidak ada rencana ke kamar mandi, hanya saja Ornado memintaku untuk menemani Cladia, jangan-jangan dia membutuhkan sesuatu. Dengan sifat over protektifnya, Ornado tidak akan pernah membiarkan Cladia sendirian.” Perkataan Elenora membuat Deanda tersenyum geli.
Karena apa yang dilakukan Ornado, bagi Deanda, terdengar begitu mirip dengan sosok seseorang yang dikenalnya, seorang lak-laki tampan miliknya, Alvero Adalviono.
Laki-laki hebat dan berkuasa yang kadang bisa bersikap begitu kekanak-kanakan jika itu menyangkut tentang dirinya, membuat dia kadang merasa malu dan tidak nyaman, tapi di sisi lain Deanda tahu, bahwa Alvero melakukan itu justru karena begitu mencintainya dan ingin melindunginya.
“O, kalau begitu tunggu sebentar, Cladia sebenarnya sudah selesai juga, hanya tadi dia masih mencuci tangannya.” Deanda berkata sambil tiba-tiba tersadar bahwa kulit wajah Elenora terlihat sedikit berbeda malam ini.
“Eh, Elenora… kenapa dengan wajahmu?” Deanda bertanya sambil matanya menatap tajam, mengamati kulit wajah Elenora yang sedikit menunjukkan adanya bercak-bercak yang terlihat jelas di sana.
Seperti di gigit nyamuk, bentol dan berwarna merah, hanya saja bentol yang ada di wajah Elenora sekarang memperlihatkan bahwa jumlahnya tidak sedikit, bukan hanya satu atau dua seperti gigitan nyamuk.
“Ah… ini… sebenarnya aku alergi terhadap udang. Setiap makan udang kulit wajah dan di beberapa bagian tubuhku yang lain akan keluar bentol bewarna merah seperti ini. Tadi aku tidak tahu bahwa salah satu makanan yang disajikan menggunakan kaldu dari udang. Tapi tidak apa-apa, untungnya aku cuma memakannya sedikit karena aku langsung berhenti begitu lidahku merasakan adanya udang di makanan itu.” Elenora berkata sambil mengusap kulit wajahnya yang mulai terasa gatal karena reaksi alerginya.
(Orang yang menderita alergi udang dapat mengalami gejala umum alergi, berupa gatal atau hidung tersumbat setelah mengkonsumsi udang. Gejala alergi udang yang laun yang mungkin timbul yaitu bengkak pada bibir dan tenggorokan, wajah atau lidah, batuk dan suara serak, timbul ruam, biduran, gatal-gatal, sesak nafas, nyeri perut, mual, muntah, pusing, diare, bingung hingga hilang kesadaran, hingga syok anafilaktik (syok anafilaktik adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat. Reaksi ini akan mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastic sehingg aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu). Syok analfilaktik bisa mengancam nyawa).
“Kalau begitu, kita harus segera memberitahu yang lain agar kamu segera mendapatkan obat untuk mengatasi itu.” Deanda berkata sambil melirik ke arah pintu kamar mandi, dimana pintu itu baru saja terbuka dan sosok Cladia muncul dari sana.
“Kenapa kalian terlihat begitu serius? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi?” Cladia langsung bertanya begitu dari jauh dia melihat Elenora dan Deanda dengan wajah seriusnya.
“Ini Cla, sepertinya Elenora harus segera meminum obat untuk alergi, karena dia alergi terhadap udang.” Deanda langsung menjawab pertanyaan Cladia yang langsung berjalan dengan cepat ke arah Elenora.
“O ya? Bagaimana keadaanmu sekarang Elenora?” Cladia berkata sambil jari-jari tangannya menyentuh wajah Elenora yang mulai terlihat bengkak.
“Aduh, ini pasti gatal dan tidak nyaman, ayo kita ke tanyakan kepada Laurel sekarang apa yang bisa kita lakukan.” Cladia meraih tangan Elenora, berniat untuk mengajaknya segera bergegas menemui Laurel.
“Eh, Cla, tidak perlu, biar aku beli obat di sekitar sini. Aku sudah terbiasa dan tahu obat apa yang harus aku minum. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku.” Elenora langsung menanggapi perkataan Cladia sambil melepaskan tangannya dari cekalan tangan Cladia dengan gerakan pelan.