
Kalau aku ikut dengan Dante sekarang, aku bisa pergi dari sini, sekaligus aku bisa memaksa Cladia untuk ikut denganku. Aku tidak akan melepaskan Cladia apapun yang terjadi. Sepertinya itu bukan hal buruk, mungkin itu adalah pilihan yang baik untukku. Pergi dari sini bersama Dante dan juga Cladia. Aku tidak perduli yang lain, asal aku bisa membawa Cladia bersamaku. Dan sepertinya, ini adalah satu-satunya kesempatan yang aku miliki untuk bisa mendapatkan semua itu.
Dario berkata dalam hati dengan tetap berdiri di tempatnya, sibuk menimbang-nimbang rencana yang sedang ditawarkan Dante padanya.
Namun beberapa saat kemudian, Dario memutuskan untuk melangkah mendekati Dante, Begitu Dante melihat Dario berjalan ke arahnya dengan sikap tanpa ragu, Dante langsung tersenyum, sambil tangannya mendorong bagian belakang bahu Cladia dengan sedikit keras, agar Cladia mengikutinya untuk berjalan di depannya, ke arah sebuah pintu yang ada di sebelah selatan ruangan itu, dimana di balik pintu itu ada ruangan yang memiliki jalan untuk keluar dari area mansion, menuju ke hutan kecil di pinggiran kota, yang pastinya akan memudahkan Dante dan Dario untuk melarikan diri.
Dorongan tangan Dante di bahu Cladia, membuat wanita cantik itu sedikit menahan nafasnya yang mulai terasa begitu berat dan semakin menyesakkan dadanya, namun Cladia mencoba untuk bertahan agar dia tidak bersikap histeris, apalagi sampai pingsan, dan dia berusaha untuk tidak bergerak sesuai dengan keinginan Dante.
Melihat bagaimana Cladia berusaha untuk melawan perintahnya, dengan gerakan kasar, Dante kembali mendorong punggung Cladia.
"Nyonya Cladia! Cepat jalan! Jangan menguji kesabaranku!" Dante berkata dengan sikap yang terlihat tidak sabar.
Mendengar bagaimana Dante membentak Cladia, sebenarnya Dario ingin sekali memukul Dante, merasa tidak rela wanita yang begitu membuatnya cinta mati dn tergila-gila itu mendapatkan perlakuan kasar dari Dante.
Akan tetapi jika dia mengingat bahwa saat ini Dante menjadi kesempatan satu-satunya untuk kabur bersama Cladia, membuat Dario menahan dirinya agar tidak melakukan itu pada Dante.
Ornado sendiri, melihat bagaimana Dante berani menyentuh tubuh Cladia dengan sikap kasar, hampir saja dengan tidak sabar, menarik satu pistol lain yang masih terselip di pinggangnya.
Namun, bagi Ornado, dia tahu jika dia berani bertindak gegabah, nyawa Cladia dan keselamatan Bee dalam kandungan Cladia, menjadi taruhannya.
Pemikiran itu membuat Ornado berusaha keras menahan dirinya sambil mengeratkan kepalan tangannya, sampai dia bisa merasakan ada rasa perih di telapak tangannya karena kuku-kukunya yang menancap cukup keras di telapak tangannya, tanpa dia perdulikan.
"Cepat Nyonya! Jalan!" Dante kembali berteriak di belakang kepala Cladia.
Entah mendapatkan keberanian darimana, mendapatkan teriakan Dante sedekat itu di belakang kepalanya, Cladia justru dengan cepat menggerakkan siku tangan kanannya, menggerakkannya ke balakang dengan sekuat tenaga, hingg mengenai dada Dante yang karena kaget, bergerak mundur ke belakang dengan satu tangan memegang dadanya.
Rasa sakit yang diberikan oleh pukulan Cladia, bagi Dante bukanlah sesuatu yang membuatnya kesakitan yang cukup parah, tapi tindakan Cladia, sudah mempermalukannya dan menyinggung egonya sebagai laki-laki yang selama ini selalu hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh kekerasan.
Sosok cantik, namun mungil dan lemah lembut dari Cladia yang tiba-tiba saja sudah berani melawannya, membuat Dante menjadi sangat marah.
Dengan gerakan cepat, Dante kembali mendekat ke arah Cladia, dan kembali menempelkan pistol di kening Cladia dengan nafas yang terlihat memburu, memunjukkan bahwa saat ini dia begitu ingin menembakkan peluru itu agar bisa menembus kepala Cladia.
Melalui tindakannya, Dante berharap melihat wajah ketakutan dan memohon dari Cladia, dan jika saja mungkin melihat wanita itu menangis karena menyesal sudah membuatnya marah.
Jika saja melihat itu, Dante berharap hatinya akan merasa puas dan bisa memandang Cladia dengan tatapan meremehkan.
Tapi yang dilihat Dante saat ini, adalah wajah cantik dengan tatapan mata tajam yang terlihat menantangnya dengan sikap berani.
Rasa marah, malu, kesal Dante pada sikap Cladia yang tidak terintimidasi dengan tindakannya, membuat Dante sedikit kehilangan fokus karena terus melihat ke arah Cladia yang masih menatapnya dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
"Dor!" Suara tembakan dari pistol yang dipegang oleh Erich terdengar meletus, mengenai dan menggores pipi Dante yang karena terkejut, tubuhnya bergerak ke samping, membuat tangannya yang sedang memegang pistol, menjauh dari pelipis Cladia secara otomatis.
Dan dengan gerakan reflek, Dante yang dari pipinya terlihat tetesan darah dari luka gores peluruh yang ditembakkan oleh Erich, langsung berusaha untuk menembak balik ke arah Erich, melupakan bahwa sebelumnya dia sedang mengarahkan pistolnya ke arah pelipis Cladia.
Erich memang dengan sengaja melakukan itu untuk memecah konsentrasi Dante, sehingga tidak menyadari kalau kesempatan itu sudah digunakan dengan baik oleh Ornado untuk menggulingkan tubuhnya dengan gerakan sangat cepat, meraih pistolnya yang tadi dia letakkan di lantai ketika Dante mengancam Cladia, dan dengan tangan Ornado yang lain meraih pistolnya yang lain, yang masih terselip di pinggangnya.
Dan dengan posisi satu kakinya yang berlutut, Ornado langsung melepaskan tembakan dua, masing-masing dari satu pistol yang ada di kedua tangannya, ke arah Dante dan Dario.
Kecepatan gerakan Ornado, bahkan membuat yang lain tidak menyadari bahwa laki-laki tampan bermata biru itu sudah berhasil menyarangkan peluru yang ditembakannya ke arah sasarannya dengan sangat tepat.