
Untuk waktu yang cukup lama, Ornado terus mencium bibir Cladia, mengeksplore dan juga melum..matnya dengan rasa cinta yang begitu besar menghantam dadanya saat ini.
Saat ini hati Ornado benar-benar penuh dengan rasa cinta dan bahagia yang meluap-luap.
Bagaimana tidak? Sejak belasan tahun berlalu, tidak sedetikpun Ornado pernah melupakan sosok Cladia, selalu bercokol dalam hati dan pikirannya.
Kenyataan bahwa kehadirannya sempat membuat Cladia menghindari dan membencinya karena traumanya terhadap laki-laki sempat membuat Ornado merasa terpukul dan begitu sedih melihat kondisi Cladia.
Namun pada akhirnya perjuangan dan kerja kerasnya membuat Cladia bisa menerima sosoknya sebagai seorang suami, merebut kembali hati Cladia yang sempat hilang darinya.
Dan sekarang, bagaimana Ornado tidak merasa bahagia mendengar bahwa wanita miliknya itu mengatakan bahwa Cladia akan mencintai apapun tentangnya.
Kebahagiaan Ornado membuatnya tidak mau berhenti, bahkan semakin lama, ciumannya semakin dalam, pelukannya semakin erat, dan hasratnya semakin terbangun.
Cladia membiarkan Ornado memuaskan dirinya dengan ciuman yang bagi Ornado menunjukkan betapa dia mencintai dan selalu mabuk oleh cintanya kepada Cladia.
Walaupun Cladia belum bisa mengimbangi ciuman panas dari Ornado, tapi kedua lengannya yang memeluk pinggang Ornado, dan membiarkan laki-laki itu menghabiskan waktu lama untuk menciumnya, membuat Ornado bisa merasakan bagaimana wanitanya itu juga begitu mencintainya.
Waktu berlalu tanpa membuat Ornado menghentikan kegiatannya, meskipun sesekali dia melepaskan sebentar bibir Cladia, memberinya kesempatan untuk menarik nafasnya.
Namun tidak lebih dari 5 detik, Ornado sudah kembali melum… mat bibir Cladia tanpa berniat untuk berhenti dalam waktu dekat.
Rasanya Ornado tidak pernah merasa cukup jika itu tentang bagaimana dia mencium bibir Cladia yang baginya terasa begitu manis dan menggairahkan baginya.
Bahkan tanpa sadar, kerena dituntun oleh gairahnya yang sedang menggebu, bibir Ornado mulai bergerak, menyusuri wajah Cladia, lalu turun ke ceruk lehernya.
Untuk beberapa saat Ornado menghabiskan waktunya untuk menciumi dan mencumbu leher Cladia yang hampir saja bibirnya meloloskan sebuah lenguhan yang jika saja dia lakukan saat ini, Ornado pasti akan lebih sulit untuk menahan dirinya.
Ornado begitu menikmati bau harum tubuh Cladia yang bisa dia nikmati dengan mengecupi leher jenjang Cladia tanpa henti, baik dengan bibir maupun hidungnya.
Leher berkulit putih mulus itu terlihat begitu menggoda bagi Ornado, bahkan membuatnya tiba-tiba begitu ingin untuk memberikan tanda cintanya di sana dengan bibirnya.
Tapi gerakan kecil dari Cladia yang mencoba menjauhkan dirinya dari Ornado membuatnya sadar bahwa sekarang memang bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan kegiatan mereka karena banyak orang yang sedang menunggu kegiatan berbelanja selanjutnya.
"Maaf amore mio, aku hampir saja tidak bisa menahan diriku jika kamu tidak mengingatkanku." Ornado berkata sambil ujung jarinya menyentuh lembut bibir Cladia yang terlihat sedikit bengkak karena lama dan dalamnya ciuman mereka barusan.
"Kamu selalu berhasil membuatku lupa diri. Sayangnya aku harus menahannya dengan baik karena sekarang adalah waktu dan tempat yang tidak tepat." Ornado berkata tangannya bergerak membuka kembali kunci mobil yang sedang mereka tumpangi.
"Apa malam nanti setelah kita kembali ke resort, akan memberikan waktu dan tempat yang tepat untukmu melanjutkan yang barusan Al?" Pertanyaan Cladia langsung membuat Orando menelan ludahnya, dengan mata sedikit melotot, dan langsung menolehkan kepalanya dengan begitu cepat, memandang ke arah Cladia yang sedang tersenyum malu-malu padanya.
"Amore mio...." Ornado tidak jadi meneruskan kata-katanya karena jari telunjuk Cladia langsung menempel di bibir Ornado, memberi tanda agar suaminya itu tidak melanjutkan kata-katanya yang pasti akan membahas hal yang intim dengannya.
Cladia sengaja melakukan itu karena dari arah luar Cladia melihat sopir mereka sedang mendekat ke arah pintu di bagian pengemudi, bersiap membuka pintu mobil.
Setelah melepaskan jari telunjuknya dari bibir Ornado, Cladia yang wajahnya masih terlihat memerah langsung memeluk lengan Ornado dengan kepalanya dia sandarkan pada bahu Ornado yang langsung tersenyum dengan wajah penuh dengan aura bahagia yang tidak bisa dia lagi dia ungkapkan dengan kata-katanya.
Melihat bagaimana Cladia mulai berani dan tanpa banyak alasan seringkali membiarkan dan mengijinkan dia untuk meminta haknya sebagai suami, membuat Ornado merasa semakin tidak bisa melepaskan pikirannya dari Cladia, semakin tergila-gila pada istrinya itu.
Amore mio, beberapa lama ini, apa yang kamu lakukan selalu benar-benar membuatku seperti hidup dalam mimpi indah yang berkepanjangan. Dan aku tidak mau mimpi itu berakhir. Selamanya, aku ingin kamu dan aku selalu bersama sampai maut memisahkan.
Ornado berkata dalam hati, sambil tidak henti-hentinya bibirnya mengecupi puncak kepala Cladia dengan perasaan bahagia dan penuh cinta.
Bagi Ornado, tindakan hangat dan perkataan mesra Cladia padanya barusan menunjukkan bahwa malam ini dia akan bisa mendapatkan jatahnya kembali sebagai seorang suami, untuk menunjukkan rasa cinta diantara mereka dengan lebih dalam lagi, hal yang selama ini begitu dirindukan oleh Ornado.
Bukan hanya memiliki tubuh Cladia sebagai istrinya, namun memiliki hati dan cinta wanita cantik itu sepenuhnya, yang merupakan pusat dunianya, impian terbesarnya untuk menjadikan wanita itu sebagai pendamping hidup selama sisa hidupnya.
“Con te dimetico il tempo.” (Denganmu, aku lupa waktu).
“Ecciti I miei sensi.” (Kamu menggairahkan indraku).
“Sei ik mio angelo.” (Kamu adalah malaikatku).
Ornado terus menghujani Cladia dengan kata-kata indah untuk mengungkapkan rasa cintanya pada wanita cantik itu dalam bahasa Italia, agar sopir yang sudah mulai melajukan kendaraan yang mereka tumpangi tidak mengerti tentang apa yang sedang diucapkan oleh Ornado secara bertubi-tubi.
Meskipun tanpa mengerti arti dari kata-kata yang diucapkan majikan laki-lakinya kepada istrinya, sopir itu bisa sedikit menebak karena setiap kali Ornado berkata-kata, wajah Cladia langsung memerah dengan senyum malu-malunya.
Apalagi, bagi sopir pribadi sepertinya, yang seringkali mengantar mereka berdua pergi kesana kemari, dia sudah terlalu sering melihat bagaimana Ornado yang selalu memperlakukan dan seringkali bersikap begitu mesra kepada istri tercintanya itu.