My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SEMAKIN MEMBUAT TIDAK TENANG



“Sepertinya kamu sudah waktunya untuk memiliki seorang laki-laki yang siap berada di sampingmu setiap saat. Menemani sekaligus menjagamu.” Dengan nada tenang Alvero berkata sambil memandang ke arah Alaya yang langsung melotot mendengar perkataan dari Alvero, yang kembali membahas tentang keinginan keluarganya agar dia segera menikah dengan salah satu dari ketiga laki-laki yang pernah disebutkan kemarin malam.


“Tidak mau, kan ada Kak Enzo yang bisa menemaniku kemanapun aku pergi?” Alaya berkata sambil bergelayut manja ke lengan Enzo yang langsung mengernyitkan dahinya.


“Aist, aku kan bukan suami atau kekasihmu. Aduh Alvero, sebaiknya sepulang dari berlibur, kamu harus benar-benar segera menjodohkan Alaya dengan laki-laki yang bisa membuatnya berhenti untuk menguntitku. Auw…!” Perkataan Enzo sukses membuat Alaya mencubit dengan gemas lengan atas Enzo yang langsung berteriak, lalu mengelus-elus bekas cubitan Alaya yang terasa panas dan sakit dengan telapak tangannya.


“Eh, sudahlah, biarkan mereka para pria beristirahat sebentar dan bergosip, kita pergi bersama-sama saja Alaya. Tidak perlu takut tidak ada yang menemanimu.” Laurel langsung berusaha menengahi pembicaraan mereka.


“Masih ada aku kan Alaya? Kali ini aku akan setia berada di sampingmu, selagi kakakmu Alvero tidak mengikutiku.” Deanda ikut berkata sambil tangannya menepuk bahu Alaya yang langsung melepaskan pelukannya dari lengan Enzo, membiarkan Alvero yang sedikit melotot karena perkataan Deanda tentangnya.


O, apa yang baru saja kamu katakana sweety? Awas saja, ini satu-satunya kesempatanmu untuk pergi sendiri, setelah acara belanja ini selesai, jangan harap aku membiarkanmu menjauh dariku meski hanya sejengkal, terutama nasnti saat kita sudah kembali ke resort.


Alvero berkata dalam hati dengan senyum smirk terlukis di bibirnya, dan mata hazelnya yang indah menatap ke arah Deanda tanpa berkedip.


Ist… sial! Baru saja sweety berencana pergi tanpa mengajakku, bahkan dia masih di dalam jangkauan mataku, aku sudah merasa waktu berjalan begitu lambat dan tidak rela melepasnya. Tapi benar seperti kata Ornado, capeknya kaki karena berbelanja, bahkan terasa lebih capek daripada capeknya karena waktu yang biasanya aku habiskan untuk berlatih beladiri dan berolahraga. Kali ini aku akan mengalah, tapi tidak untuk urusan nanti malam.


Alvero berkata dalam hati sambil sedikit menahan nafasnya.


“Ah, tentu saja. Kalau jalan ditemani oleh Kak Deanda, pasti akan lebih menyenangkan dibandingkan dengan mereka para pria yang selalu saja mengomel kalau diajak belanja.” Alaya berkata dengan nada terdengar begitu bersemangat.


“Oke kalau begitu, kita bertemu lagi nanti di tempat ini ya. Silahkan nikmati kopi panas kalian sambil mengobrol dengan tenang, sambil menyelonjorkan kaki kalian. Atau mungkin kalian butuh tukang pijat professional? Tunggu setelah kami selesai berbelanja ya.” Laurel berkata sambil tersenyum manis, membuat Dave hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Laurel.


Tidak lama setelah itu, Laurel langsung memberi kode kepada wanita yang lain, dan menggerakkan kakinya untuk pergi, setelah sebelumnya sempat memberikan gerakan kiss bye (ciuman selamat tinggal) dengan menempelkan telapak tangannya ke bibirnya, kemudian mengarahkan telapak tangannya kepada Dave yang langsung tersenyum geli melihat tingkah ceria istrinya itu.


“Wah, untung kali ini aku tidak lagi harus menemani para wanita itu berbelanja.” Enzo berkata sambil dengan cepat tangannya meraih kursi yang ada di dekatnya dan langsung duduk di sana, sambil bersiap memesan kopi untuk menyegarkan tubuhnya, setelah tersiksa karena harus menemani Alaya kesana kemari untuk berbelanja.


Enzo berkata dalam hati sambil mengambil handphone dari saku celananya, berencana menghubungi kekasihnya, dan menanyakan tentang bagaimana kondisi pameran lukisan yang diadakannya setelah masalah lukisan palsu kemarin diselesaikan.


# # # # # # #


Jika kamu tidak segera bergerak dan bertindak, jangan sampai menyesal jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Cladia. Cepat selidiki tentang kecelakaan kedua orangtua kalian dan tangkap orang yang sudah mencelakai mereka. Aku memberikan pesan ini bukan karena iseng, tapi karena perduli dengan keselamatan kalian. Aku tidak bisa memberitahukan informasi tentang siapa aku, karena aku pasti juga akan dalam bahaya jika orang itu tahu aku sudah memberikan info tentang kejadian di masa lalu. Tolong percaya padaku demi keselamatan kalian. Aku melakukan ini karena aku perduli dengan kalian.


Jeremy mendengus kesal begitu membaca pesan dari nomer yang tidak dikenalnya itu.


Lagi-lagi pesan tidak bertuan yang selalu memberikan peringatan kepada Jeremy tentang kejadian kecelakaan orangtuanya adalah hasil perbuatan dari seseorang, dan orang itu sednag mengincar Cladia dan dirinya.


Pesan-pesan itu selalu berisi tentang pemberitahuan tentang kecelakaan dan orang yang sedang mengincar Cladia. Dan Jeremy mengalami sedikit kesulitan untuk menyelidiki asal pesan itu, karena setiap kali orang itu mengirim pesan, dia akan menggunakan nomer yang berbeda, seolah dia juga sedang dalam kondisi ketakutan dan dikejar-kejar.


“Siapa sebenarnya orang ini.” Jeremy berkata pelan sambil mendesis.


Niela yang baru saja masuk ke ruangan kerja Jeremy sambil memegang map berisi hasil desain perhiasan yang baru diselesaikannya langsung mendekat ke arah Jeremy yang dilihatnya tampak kesal sekaligus khawatir.


“Apa pesan tak bertuan itu lagi Jer?” Niela bertanya sambil meletakkan map yang dipegangnya.


“Benar, bahkan kali ini dia memberikan foto mobil yang ditumpangi papa dan mama ketika kecelakaan itu terjadi. Dan aku tidak mengerti dengan maksud orang itu mengirimkan foto-foto yang membuatku harus teringat kembali dengan peristiwa menyedihkan malam itu.” Jeremy berkata sambil menyodorkan handphonenya ke arah Niela, memberi kesempatan kepada Niela jika ingin melihat tentang foto-foto yang dia maksudkan tadi.