My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
BEE TERSAYANG



Dan perlakuan lembut Ornado pada akhirnya membuat Cladia tanpa sadar ikut terlarut dan membalas kemesraan Ornado.


Tangan Cladia yang awalnya melingkar di pinggang Ornado mulai bergerak pelan, mengelus pelan punggung Ornado dengan tetap membiarkan Ornado mencium bahkan mel..umat bibirnya dengan penuh gairah.


Mereka berdua saling menunjukkan cinta mereka dengan ciuman yang terasa menyesakkan dada mereka karena dipenuhi oleh rasa cinta yang membuncah memenuhi dada mereka, sampai Cladia sedikit menjauhkan wajahnya dari Ornado karena hampir kehabisan nafasnya.


Setelah itu mereka berdua saling berpandangan dan melempar senyum satu dengan yang lain.


Bahkan Ornado yang masih membungkuk di depan kursi Cladia, langsung menyentuh bibirnya dengan ujung jari telunjuknya, mengusapnya pelan beberapa kali seolah ada makanan manis yang tertinggal di sana.


Rasa manis, sekaligus kehangatan dari bibir Cladia barusan sungguh membuat Ornado begitu bahagia karena menyadarkannya betapa dia begitu mencintai wanitanya itu, dan setelah sekian lama menunggu, akhirnya Cladia benar-benar menjadi miliknya, dan akan segera menjadi ibu dari anaknya dalam waktu tidak lama lagi.


Memikirkan hal itu, membuat cinta Ornado semakin dalam pada istri cantiknya itu.


Impian terbesar Ornado sejak 15 tahun yang lalu, menjadikan Cladia sebagai satu-satunya wanita miliknya, satu-satunya wanita yang diinginkannya untuk menemani hidupnya selama mereka berdua masih bernafas.


Bagi Ornado, memiliki Cladia di sisinya merupakan hadiah terbesar dari Tuhan, harta paling berharga yang bisa dia miliki, lebih dari apapun yang dia punya.


“Ti amo Al, terimakasih sudah menungguku begitu lama dan begitu sabar menghahadapiku Al. Rasanya kehadiranmu membuatku yang selama ini begitu sulit untuk bernafas bisa menikmati kembali udara segar di sekitarku.” Cladia berkata lirih.


Ornado yang mendengar kata-kata Cladia hanya tersenyum sambil mengusap puncak kepala Cladia dengan lembut.


“Tanpa kehadiranmu di sisiku, aku juga tidak akan bisa menjadi Ornado yang sekarang. Per te fareu di tutto. Sei il sole delle mia vita, ti voglio bene amore mio.” (Aku akan melakukan apa saja untuk kamu. Kamu adalah sinar matahari dalam hidupku, aku sangat mencintaimu cintaku). Ornado berkata sambil menggerakkan tubuhnya, berencana untuk menegakkan kembali tubuhnya, namun tangan Cladia yang masih melingkar di pinggang Ornado bergerak untuk menahan tubuh suaminya, membuat Ornado sedikit tersentak, karena tindakan Cladia yang bagi Ornado tidak seperti biasanya.


“Il mio cuore è solo tuo Al, Ti amo con tutto il cuore Al.” (Hatiku adalah milikmu, aku mencintaimu sepenuh hati Al). Cladia berkata lirih dengan wajah terlihat malu-malu, setelah itu dengan gerakan pelan Cladia mencium pipi Ornado sebelum akhirnya dengan cepat dia melepaskan kedua tangannya dari pinggang Ornado sambil mengalihkan wajahnya yang begitu memerah.


Tindakan Cladia, walaupun hanya sekedar memberikan ciuman sekilas di pipinya, bagi Ornado tindakan istrinya itu sudah menunjukkan bagaimana wanita yang ada di depannya itu mulai berani menunjukkan ekspresi sayangnya dan benar-benar mencintainya dengan sepenuh hatinya, membuat dada Ornado rasanya akan meledak karena merasa begitu bahagia.


Cladia yang wajahnya masih memerah, berencana untuk bangun dari duduknya, berniat untuk keluar dari kamarnya.


Tapi tiba-tiba Cladia menghentikan gerakannya, membuat Ornado yang masih dengan setia memandanginya mengernyitkan dahinya.


"Kenapa amore mio? Apakah ada sesuatu?"


"Al...." Cladia tiba-tiba mendongakkan kepalanya kembali ke arah Ornado yang sudah menegakkan tubuhnya, namun masih tepat berdiri di hadapan Cladia.


"Apa kamu masih kenyang Al?"


"Kenapa? Apa kamu mau aku menemanimu makan lagi? Kamu masih lapar?" Mendengar itu wajah Cladia langsung memerah, merasa malu karena takut dianggap rakus.


"Kenapa harus malu? Mungkin malam ini bayi kita memang sedang ingin ditemani makan oleh papanya. Benar kan Bee?" Cladia langsung mengernyitkan dahinya mendengar Ornado yang mengelus lembut perutnya sambil menyebutkan bayi mereka dengan panggilan Bee, sebuah panggilan yang baru pertama kali diucapkan oleh Ornado untuk bayi dalam perutnya.


(Bee, merupakan panggilan sayang, yang biasa diberikan kepada orangtua kepada bayi yang masih berada dalam kandungan. Bee merupakan singkatan dari baby, yang artinya anak yang paling disayang).


"Kenapa amore mio? Mulai sekarang aku akan memanggil calon anak kita dengan sebutan Bee, sampai dia dilahirkan dan kita berdua memberikan nama yang keren untuk anak hebat kita ini." Ornado berkata sambil memandang dengan tatapan sayang ke arah perut Cladia yang belum memperlihatkan tanda-tanda kehamilannya dengan terlalu jelas.


"Dari yang aku pelajari, untuk dapat memiliki kedekatan secara emosional dengan bayiku, tidak ada salahnya selain sering-sering mengajaknya berbicara, kita bisa memberikan nama panggilan kesayangan padanya sejak dia masih dalam perutmu. Supaya dia tahu dan bisa merasakan bahwa kita berdua begitu perduli dan menyayanginya." Ornado kembali berkata dan mulai mengalihkan pandangan matanya kepada Cladia yang sedang tersenyum setelah mendengar kata-kata Ornado.


"Apa kamu memiliki ide lain amore mio? Nama panggilan lain untuk calon bayi kita? Atau kamu tidak setuju dengan ideku?" Ornado berkata sambil langsung memegang lengan Cladia yang bangkit berdiri.


"Tidak... aku tidak keberatan Al, aku setuju denganmu Al. Apa yang kamu katakan barusan aku juga pernah membacanya." Cladia berkata sambil merapikan pakaiannya.


"Jadi... kemana kamu dan Bee ingin mengajakku makan malam untuk menemani kalian makan?" Pertanyaan Ornado membuat Cladia terdiam untuk beberapa saat.


"Sebenarnya Al... aku tidak ingin makan di luar."


"Ooo, oke, aku akan meminta koki rumah kita untuk memasak untukmu sekarang juga. Apa yang sedang kamu inginkan sekarang? " Lagi-lagi Cladia kembali terdiam sambil memandang ke arah Ornado dengan tatapan mata yang terlihat ragu.


"Kenapa denganmu amore mio, katakan saja yang kamu inginkan. Atau kamu ingin aku membeli sesuatu dari luar sana? Aku akan meminta sopir dan pelayan untuk membelikannya untukmu, atau...."


"Al...." Cladia langsung memotong perkataan Ornado.


"Aku ingin makan nasi goreng."


"Oke, aku akan segera meminta koki memasak untukmu. Atau kamu ingin nasi goreng dari restoran tertentu? Aku akan meminta orang membelikan secepatnya."


"Al...." Kali ini panggilan Cladia kembali memanggil nama Ornado sambil memegang lengannya.


"Kenapa amore mio?"


"Aku mau nasi goreng yang kamu masak sendiri." Permintaan Cladia jelas-jelas membuat mata Ornado terbeliak dengan mulut melongo.


Dan lagi Cladia mengucapkan permintaannya sambil memandang lurus ke arah mata Ornado dengan tatapan puppy eyes nya, membuat Ornado tidak berkutik,  kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata, tidak tahu harus menjawab bagaimana atas permintaan Cladia barusan.


(Pandangan puppy eyes merupakan pandangan mata seperti seekor anak anjing yang bisa secara tiba-tiba saja membuat rasa kesal seseorang hilang atau membuat seseorang rela untuk melakukan apa saja untuknya. Tatapan mata puppy eyes tersebut agak sedikit manja, sedih, malu-malu, bingung, dengan pupil mata yang membesar, tampak seperti anak-anak, sengan alis mata yang sedikit terangkat).


Sebagai seorang anak tunggal di keluarganya yang sangat kaya, yang memiliki puluhan pelayan, tukang kebun, sopir juga ratusan ribu karyawan, bahkan sejak kecilnya, Ornado tidak pernah melakukan hal lain selain belajar, bekerja dan berolah raga dalam kesehariannya.