My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RAJA AMPAT



"Sepertinya Ornado tidak akan membiarkan kesempatan untuk menggoda istrinya lewat begitu saja." Deanda berkata kepada Laurel yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Tapi aku suka sekali melihat sikap kak Ornado pada kak Deanda. Aku harap ke depannya aku bisa memiliki suami sebaik dan semesra kak Ornado." Deanda dan Laurel langsung menoleh ke arah Alaya begitu putri canti dari Gracetian itu mengucapkan kata-katanya dengan kedua tangan terkatup di depan wajahnya, seperti orang yang betul-betul serius dan berdoa dengan khidmat untuk itu.


"Apa putri cantik kita ini sudah ada tambatan hati saat ini?" Laurel langsung bertanya sambil tersenyum menggoda Alaya yang sedikit mencebikkan bibirnya.


"Itu keinginanku di masa depan. Untuk saat ini, aku masih mau menikmati masa lajangku sepuasnya dan...."


"Mau sampai kapan Alaya? Usiamu sudah tidak muda lagi." Alvero langsung memotong perkataan Alaya, membuat Alaya melotot.


"Yang benar saja Kak Alvero, aku baru saja berusia di awal dua puluhan, bahkan aku masih baru saja lulus dari kuliahku. Belum sempat bersenang-senang dengan masa mudaku." Alvero langsung menjitak kening Alaya begitu mendengar perkataan protes dari Alaya.


"Kamu bebas menentukan kehidupanmu kalau kamu bukan putri dari Gracetian. Aku juga tidak mengharuskanmu untuk segera menikah, tapi tidak ada salahnya kalau mulai sekarang kamu mulai memikirkan laki-laki yang cocok untukmu, yang kelak bisa menjadi suamimu." Perkataan Alvero membuat Alaya mencebikkan bibirnya.


"Kenapa? Toh kakakmu Deanda yang hampir seusia denganmu juga sudah menikah di usianya yang sekarang." Alvero kembali menyatakan tentang keinginannya agar Alaya bisa segera menemukan laki-laki impiannya.


"Kalau kak Deanda sih, aku percaya pasti cepat menikah karena begitu cintanya dengan Kak Alvero. Semua orang di Gracetian tahu kalau di usia Kak Alvero yang ke 27, kalau sampai belum menikah, Kakak akan kehilangan status kakak sebagai putra mahkota. Demi Kak Alvero, kak Deanda mengorbankan masa mudanya. Karena itu sepanjang hidup Kak Alvero harus memperlakukan kak Deanda dengan sebaik mungkin dan penuh cinta." Perkataan Alaya sukses membuat yang lain langsung tertawa geli, sedang Alvero dan Deanda sendiri, hanya bisa tersenyum kecil dengan wajah memerah karena malu akibat olok-olok Alaya barusan.


"Dan aku yakin, pasti Kak Alvero sudah melakukan sesuatu untuk membuat kak Deanda mau menikah dengannya dengan waktu secepat itu." Alaya berkata diikuti dengan tawa geli, sedang Alvero langsung melotot karena perkataan Alaya yang mau tidak mau mengingatkannya bagaimana dengan segala cara dia memang sengaja menjebak Deanda agar mau menikah dengannya dalam waktu secepat mungkin, karena begitu takutnya dia kehilangan sosok Deanda waktu itu karena dia begitu cinta mati dengan gadis itu.


"Aist! Kamu ini.... Pokoknya sepulang dari berlibur, kamu harus mulai serius memikirkan laki-laki mana yang akan menjadi suamimu kelak, dan bawa dia ke hadapanku. Aku mau kamu menikah sebelum usiamu mencapai dua puluh lima tahun. Kalau perlu aku akan menjadikan itu peraturan baku, bahwa putri Gracetian harus menikah di usianya yang ke 25, atau mereka harus menerima jodoh yang ditetapkan oleh Raja Gracetian." Baik Dave maupun Ornado, termasuk juga Laurel dan Cladia, apalagi Alaya langsung melotot kaget mendengar perkataan Alvero, yang bagi mereka terdengar ekstrim.


Ah, benar-benar celaka jika kak Alvero benar-benar melaksanakan niatnya itu padaku. Dijodohkan? Hih... lebih baik aku membujang seumur hidupku. Apalagi jika orang yang dijodohkan denganku adalah orang yang menyebalkan. Orang dari golongan para bangsawan sombong yang tidak sadar diri bahwa mereka beruntung bisa mendapatkan gelar bangsawan karena kedua orangtuanya tanpa perlu membuktikan dirinya memang pantas dianggap sebagai bangsawan. Amit-amit kalau sampai aku bertemu dengan bangsawan jenis seperti itu.


Alaya berkata dalam hati sampai tanpa sadar tubuhnya ebrgidik akrena pikirannya itu.


"Kita bahas masalah Alaya setelah kita kembali ke Gracetian. Sekarang kita nikmati saja liburan kita." Alvero langsung mencegah yang lain membicarakan tentang hal itu lagi.


"Kenapa tempat ini dinamai dengan Raja Ampat?" Alvero bertanya sambil tangannya bergerak menarik bahu Deanda dalam rengkuhan lengannya, seolah tidak mau kalah dengan Ornado, sekaligus agar semua orang mengalihkan fokusnya dari pembicaraan tentang pernikahan Alaya, yang jodohnya saja belum menunjukkan batang hidungnya.


(Raja Ampat menjadi primadona wisata alam Indonesia. Keindahan alam yang ada di Papua ini memang tidak terkalahkan. Namun untuk bisa ke sana, memang diperlukan budget yang tidak sedikit. Tapi jangan khawatir, orang tidak akan kecewa dengan pemadangan yang tiada duanya ini.


Pianemo atau Painemu menjadi salah satu spot terfavorit, yaitu gugusan pulau karang yang membentang di atas lautan. Inilah yang membuat Raja Ampat sering disebut sebagai surga kecil dunia.


Orang juga bisa menyaksikan Laguna Bintang secara utuh dari ketinggian di atas bukit. Laguna bintang berbentuk seperti bintang dengan air berwarna hijau toska yang sangat mengagumkan.


Raja Ampat merupakan salah satu fenomena alam yang menarik karena keanekaragaman hayatinya. Bagi penggemar kehidupan bawah laut, Raja Ampat menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Luas wilayahnya yang sekitar 9,8 juta acre (hampir 4 juta hektar), meliputi daratan dan lautan menjadi rumah bagi 540 jenis terumbu karang, 700 jenis moluska, lima spesies penyu yang terancam punah, 57 udang mantis, serta 13 spesies mamalia laut. Selain itu, diperkirakan ada 1320 spesies ikan di sana, 27 jenisnya hanya bisa ditemukan di Raja Ampat. Menurut laporan The Nature Conservacy and Conservation International, sekitar 75 persen spesies dunia, tinggal di Raja Ampat).


"Mungkin si bu dokter cantik kita  lebih bisa menjelaskannya dibandingkan dengan aku." Ornado berkata sambil mengedipkan mata ke arah Laurel yang langsung tersenyum.


"Mmmm, setahuku, waktu aku masih kanak-kana ada yang menceritakan tentang mitos Raja Ampat ini. Asal mula nama Raja Ampat menurut mitos masyarakat setempat berasal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat orang pangeran yang berpisah dan masing-masing menjadi raja yang berkuasa di Waigeo, Salawati, Misool Timur dan Misool Barat." Laurel berkata dengan mata tertuju ke arah depan, menatap keindahan alam yang memang baginya sungguh membuatnya terpesona.


"Kalau tidak salah, perempuan itu bernama Buku Denik Kapatlot. Suaminya, Aliau Gawan, meminta istrinya merebus telur. Namun, Denik menolak dan berharap telur tersebut menetas. Tak lama, enam telur menetas dan menjelma menjadi manusia. Lima di antaranya laki-laki dan seorang perempuan, yang satu lagi batu. Namun, satu jelmaan laki-laki menghilang dan tak ditemukan lagi. Masyarakat percaya dia kembali ke alam gaib. Yang perempuan bernama Pin Tekik. Empat telur menetas dan menjadi pangeran yang kemudian menguasai empat pulau terbesar di wilayah tersebut, yakni Pulau Misool, Pulau Waigep, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta." Laurel kemabli melanjutkan ceritanya, sambil membiarkan Dave memeluk tubuhnya dari arah belakang, ikut mendengarkan cerita istrinya yang baginya terdengar semakin menarik karena yang menceritakannya adalah wanita tercintanya.