
“Serius Elen. Aku benar-benar ikhlas memberikannya untukmu. Paling tidak, jika aku tidak bisa membantu masalahmu, aku bisa memberikan jus itu untuk sedikit menghiburmu. Sedikit menyegarkan pikiranmu, supaya bisa kembali konsen dalam bekerja.” Dodi berkata dengan senyum mengembang di bibirnya, membuat Elenora semakin bingung memikirkan cara untuk menolaknya.
“Elenora, kalau ternyata begitu caramu bekerja, kamu akan terus melakukan kesalahan karena tidak fokus pada tugasmu.” Tubuh Elenora langsung tersentak kaget begitu mendenagar suara teguran dari James yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat meja kerjanya, dengan mata melirik tajam ke arah jus stoberi yang diberikan Dodi kepada Elenora.
Awalnya James teringat bahwa dia harus melakukan cek terhadap ruang pengendali keamanan kantor karena perintah Ornado tadi pagi, sehingga dia bergegas keluar dari kantornya.
Dan tanpa sengaja, James mendengar dan melihat dan apa yang terjadi antara Dodi dan Elenora barusan hampir secara keseluruhan yang terjadi.
“Maaf Pak James, saya hanya berusaha membuat Elenora kembali bersemangat dalam menyelesaikan pekerjaannya.” Dodi berkata dengan sedikit menundukkan kepalanya untuk menunjukkan rasa hormat kepada James.
“Eh, siapa namamu? Deni? Dwi? Ah… siapapun namamu…. Apa kamu tidak berpikir dengan memberikan jus di meja kerja Elenora justru akan beresiko membuat basah berkas-berkas yang ada di meja kerja Elenora? Apa itu yang kamu maksud dengan membantu Elenora?” James berkata dengan sikap santai, tapi kata-katanya benar-benar terlihat jelas sedang menyerang Dodi.
“Jika itu sampai terjadi, kamu bukannya membantu Elenora, justru membuat keadaan semakin buruk. Dan jika saja orang tidak melihat bahwa kamu yang memberikan jus itu, pasti Elenora yang akan disalahkan.” James berkata sambil meraih gelas berisi jus stoberi itu dan menyodorkannya ke arah Dodi menempelkannya ke dada Dodi yang langsung memegangnya dengan kedua tangannya, sebelum gelas itu terjatuh.
Karena dengan gerakan cepat James sengaja langsung melepasnya begitu saja gelas plastik berisi jus itu menempel di dada Dodi, sedikit membasahi pakaian yang dikenakan oleh Dodi.
Setelah itu kembali dengan gerakan cepat, James meraih tissue yang terlihat sedikit menyembul dari tas Elenora, menariknya dua lembar, kemudian mengeringkan tangannya yang sedikit basah karena baru saja memegang gelas berisi jus dingin tersebut.
“Elenora, segera selesaikan revisi surat kontrak kerjasama. Dan kamu, kembali ke meja kerjamu.” James berkata sambil melempar tissue di tangannya ke dalam tempat sampah yang berada di bawah meja kerja Elenora, tepat di samping kaki kanan Elenora.
“Baik Pak James.” Baik Elenora dan Dodi langsung menjawab perintah James secara bersamaan.
Sedang James sendiri, tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua, langsung pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi.
He he he. Bagus pak James, biar tahu rasa si culun itu. Lagian kenapa juga si Dodi ikut-ikutan mengurusi gadis culun itu. Kalau tidak, dia kan tidak akan kena marah pak James. Kalian belum tahu saja bagaimana baik dan ramahnya pak James, tapi kalau marah dia tidak kalah mengerikan dengan pak Ornado.
Dea berkata dalam hati sambil tersenyum, merasa puas, di hari pertama Elenora sudah membuat James kecewa dan marah.
Apa-apaan? Kenapa baru kenal sehari saja sudah saling bertukar perhatian seperti itu? Elen? Keanehan apalagi itu? Baru sehari bertemu sudah sok akrab. Dasar, laki-laki mata keranjang. Kalau ada kesempatan aku harus memperingatkan Elenora agar tidak mudah terjebak dengan bibir manis pria seperti si Ddd…. Aduh, sulit sekali mengingat nama laki-laki itu. Ah siapalah nama orang itu, aku tidak perduli. Yang pasti jangan sampai dia berani mendekati Elenora hanya untuk mempermainkannya.
Tanpa sadar James berjalan ke arah ruang keamanan sambil mengomel dalam hati mengingat tentang kejadian yang baru saja dia lihat antara Dodi dan Elenora.
Ah, sudahlah, kenapa juga aku harus jengkel dengan gadis culun dan karyawan trainee itu. Memang harus diakui, walaupun culun, wajah Elenora yang terlihat memelas bisa menarik perhatian banyak orang untuk merasa kasihan padanya. Anggap saja itu satu-satunya nilai lebih dari penampilan culun yang dimilikinya.
Selain itu, di ruangan lain yang berada di bagian belakang ruang kontrol cctv, terdapat ruangan lain berukuran cukup besar, yang berisi server milik perusahaan Bumi Asia yang terhubung langsung dengan server pusat milik Grup Xanderson yang berada di Italia.
(Server atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut peladen merupakan suatu sistem komputer yang memiliki layanan khusus berupa penyimpanan data. Data yang disimpan melalui server berupa informasi dan beragam jenis dokumen yang kompleks. Dalam komputasi, Peladen adalah program komputer atau perangkat yang menyediakan fungsionalitas untuk program atau perangkat lain, yang disebut "klien". Arsitektur ini disebut model client-server.
Jika diartikan dari dasar katanya, maka server merupakan setiap perangkat yang bertugas melayani dan menghubungkan komputer – komputer klien yang ada pada jaringan komputer).
"Selamat siang Pak James." Salah seorang pria yang merupakan penanggung jawab dari ruang keamanan siang itu langsung menyapa James dan menganggukkan kepalanya untuk menunjukkan rasa hormatnya.
"Siang Alex, apa semua baik-baik saja? Semuanya lancar?"
"Iya Pak. Semua berjalan dengan baik." Alex langsung menjawab pertanyaan James dengan sikap sigap.
"Pak Ornado minta kalian mencari blank spot yang ada di kawasan pabrik pengolahan etanol di Lampung milik kita. Kemarin pak Ornado sempat melihat hasil rekaman cctv, dan merasa ada terlalu banyak blank spot yang tidak terjangkau oleh cctv." James kembali menjelaskan tentang permintaan Ornado.
"Baik pak, saya akan segera melakukan pengecekan lokasi siang ini."
"Ok, kalau begitu, berikan kode akses rekaman cctv yang ada di pabrik pembuatan leather perusahaan kita. Aku perlu memeriksa beberapa hal di sana. Mulai dari gudang terlebih dahulu." James berkata sambil berjalan ke arah sebuah meja dimana di atasnya terdapat sebuah layar monitor yang cukup besar.
Begitu James duduk di belakang kursi besar itu, Alex yang berdiri tepat di samping kursinya langsung menyebutkan beberapa angka dan huruf yang menjadi kode untuk dapat mengakses rekaman cctv.
James sedikit membeliakkan matanya begitu tanpa sengaja, melihat yang terpampang di layar justru rekaman cctv dari ruangan tempat Elenora bekerja, begitu dia mengetikkan kode dari rekaman cctv yang tadi disebutkan oleh Alex.
Sebenarnya James ingin segera menutup rekaman cctv itu, tapi tanpa dia sadari sosok Elenora dalam rekaman itu terlihat sedikit berbeda. Sikap gugupnya yang tidak terlihat dalam rekaman itu membuat James bisa melihat sisi lain dari Elenora yang selama ini tidak pernah dia lihat.
Karena sosok Elenora yang selama ini dikenal dan ditemui James, adalah gadis culun dengan sikap gugup dan tidak percaya dirinya saat berhadapan dengan James.
Bahkan boleh dibilang, dalam ingatan James, Elenora hampir tidak pernah menatap wajahnya. Selalu sedikit menunduk atau mengalihkan pandangan matanya saat bertemu dengan James.
Gadis itu tampak sedang serius berdiri di depan mesin printer yang terlihat mengeluarkan lembaran kertas hasil cetakan.
Dan tanpa disadari oleh dirinya sendiri, untuk beberapa saat justru mata James terus memandang ke arah layar yang menunjukkan rekaman cctv yang menampilkan sosok Elenora, yang sekilas terlihat tersenyum sambil memandangi kertas hasil cetakan printer yang ada di tangannya, menunjukkan sikap senang karena sudah berhasil menyelesaikan pekerjaannya.