
“Akhirnya yang pangeran tampan yang sedang kita tunggu muncul juga di sini untuk memberikan ucapan istimewa kepada putrinya yang sedang merayakan ulang tahunnya bersama yang tercinta.” Kata-kata sambutan berisi ucapan selamat datang kepada James langsung membuat konsentrasi semua tamu yang hadir terpaku pada James yang langsung terlihat kaget sekaligus tidak senang.
Setelah itu, gadis yang mengundangnya langsung berjalan dengan sikap anggun sekaligus percaya diri.
Datang ke arah James sambil membawa hand bouquet yang berisi bunga gerberra dengan menebarkan senyum bahagia sekaligus puas atas keberhasilan rencananya.
(Hand bouquet disebut juga karangan bunga tangan, biasanya dipakai sebagai pelengkap dalam sebuah pesta pernikahan. Karangan bunga pernikahan juga disebut sebagai buket bunga tangan karena bunga dan dedaunan yang digunakan memiliki batang panjang dan dibawa pengantin di tangannya.
Bunga gerberra sebagai hand bouquet di acara pernikahan melambangkan cinta yang tak terpisahkan, menjadi alasan gerberra menjadi salah satu bunga yang menjadi favorit para pengantin. Sebagai hand bouquet maupun sebagai bagian dari dekorasi, gerberra seakan menggambarkan kesetiaan seseorang dan pasangan terhadap satu sama lain).
James yang mengerti tentang arti dari bunga gerberra itu, hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat tanpa bisa berbuat banyak, dengan wajah merah menahan malu sekaligus amarah.
Jika saja James tidak ingat nama baik dan hubungan baik antara kedua orangtuanya dengan orangtua gadis itu, rasanya di depan semua orang yang sedang memandangnya sekarang James ingin merebut hand bouquet itu dan melemparnya ke wajah gadis yang dianggapnya lancang itu, untuk menunjukkan kemarahannya yang saat ini seolah membuat kepalanya hampir meledak.
Sial! Benar-benar lancang! Apa maksudnya ini? Kamu pikir aku akan terkesan dengan penyampaian pesan cintamu yang seperti ini? Benar-benar murahan! Kurang ajar! Sungguh memalukan!
James memaki dalam hati, dengan bibir terkatup begitu rapat dan gigi-giginya gemeretak menahan marah.
Dengan sekuat tenaga James berusaha menahan dirinya agar tidak lepas kendali, menunggu waktu yang tepat sampai gadis itu benar-benar berada di dekatnya.
Begitu gadis itu berada tepat di depannya, dan James yakin bahwa perkataan yang akan dia ucapkan hanya bisa didengar oleh gadis itu, James langsung menatap tajam ke arah gadis yang sedang tersenyum bahagia itu, menganggap James pasti akan menerima pernyataan cintanya di depan orang banyak.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” Suara pertanyaan dari James yang diikuti nada marah membuat gerakan gadis itu untuk lebih mendekat ke arah James dan berniat berdiri tepat di samping James, langsung terhenti.
“Beraninya kamu melakukan ini padaku! Dengar! Aku memaafkan kelancanganmu hari ini mengingat hubungan baik kedua orangtua kita! Tapi bukan berarti aku akan menerimanya!” James berkata dengan nada tinggi, namun hanya gadis itu yang bisa mendengar suaranya, karena kerasnya suara musik yang mengalun memenuhi ruangan itu, sedang gadis itu berada cukup dekat dengannya untuk mendengar dan melihat kemarahan James padanya.
“Detik ini, aku harap untuk terakhir kalinya kita saling bertemu dan saling menyapa! Ke depannya, kalaupun kita berpapasan, aku akan menganggap aku sedang melewati patung!” James kembali berkata dengan nada tinggi, menunjukkan bagaimana marahnya dia saat ini, membuat nyali gadis itu menciut.
Malam ini, gadis itu benar-benar mengalami, bahwa apa yang dikatakan orang tentang bagaimana mengerikannya kemarahan orang yang biasanya terlihat sabar dan jarang sekali marah adalah hal yang benar adanya.
James yang merupakan seorang yang selalu tampil ramah dan ceria, boleh dikata tidak pernah menunjukkan sifat kerasnya, apalagi terlihat marah di depan umum.
Belum pernah ada seseorang yang pernah melihat James marah kecuali jika itu hubungannya dengan seseorang yang menyakiti orang-orang terdekatnya, seperti adiknya Afro, yang begitu disayanginya.
Dan kemarahan James, tentu saja tidak bisa dipandang sebelah mata oleh gadis itu. Karena James merupakan bagian dari keluarga Xanderson yang cukup tersohor dan berpengaruh di kota itu.
“James….” Hanya satu kata itu yang bisa diucapkan oleh gadis itu tanpa berani melanjutkannya dengan kata-kata lain.
Dan suara dari gadis itu, yang memanggil namanya, justru membuat amarah James semakin menjadi.
Membuat James tidak lagi mau memikirkan tentang hubungan baik kedua orangtua mereka dan ingin segera menghilang dari tempat itu.
“Aku akan pergi sekarang! Urus sendiri kekacauan yang sudah kamu buat ini!” Begitu menyelesaikan kalimatnya, James langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar meninggalkan gadis yang mematung di tempatnya itu dengan sikap tidak perduli.
“Sial! Benar-benar sial!” Untuk beberapa saat James terus memaki sambil sesekali memukul setir mobil Lamborghini keluaran terbaru miliknya untuk meluapkan kemarahan dan rasa kecewanya.
“Semuanya gara-gara Elenora yang tidak menepati janjinya hari ini. Aku pasti membalas perbuatanmu hari ini. Ingat saja Elenora! Aku akan membalasmu! Jangan harap bisa melarikan diri dariku!”
James terus melakukan hal seperti itu sampai akhirnya tanpa sadar, dia mengendarai mobilnya untuk kembali ke café tempat dimana seharusnya dia bertemu dengan Elenora tadi.
James menghentikan mobilnya dengan mata memandang ke arah pintu masuk café tersebut.
“Hah! Apa yang kamu harapkan James? Berharap Elenora ada disana dan menunggumu dengan rasa bersalah? Berharap dia akan meminta maaf sambil menangis? Lupakan saja tentang itu!” James mengomel sambil menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi pengemudi mobilnya.
Setelah puas memaki Elenora baik dalam hati ataupun sesekali keluar makian dari bibirnya, James membuka pintu mobilnya dan keluar untuk kemudian berjalan kaki ke arah selatan café.
Setelah berjalan beberapa menit, James berhenti di depan gang, dimana di bagian ujung gang terletak sebuah gedung pertokoan kosong yang sudah cukup lama tidak ditempati.
“Tolong!”
“Pergi!”
“Jangan mendekat!”
Suara teriakan histeris dari seorang wanita terdengar di telinga James sayup-sayup ketika James karena ingin menenangkan diri, namun tanpa sengaja justru membawa dirinya mendekat ke arah gedung kosong itu.
Untuk meyakinkan dirinya atas apa yang baru saja dia dengar, James melangkah dengan sikap waspada dan hati-hati ke arah jajajaran gedung kosong itu.
“Tolong!”
“Diam! Atau kamu akan lebih menderita nantinya!”
“Benar! Menurut saja pada kami, pasti kamu nantinya juga akan menikmatinya!”
“Serahkan saja pada kami, maka kamu akan mendesah karena nikmat yang kami berikan.”
“Tolong!”
“Kalau kamu tetap ribut, kami tidak segan-segan akan memukulmu!”
"Jangan khawatir cantik, kami tetap akan bsia menikmatinya walaupun kamu pingsan."
"Salah siapa walaupun masih kecil, kamu terlihat begitu cantik dan menggoda."~~~~
Semakin James mendekat ke arah gedung itu, semakin jelas terdengar suara yang saling bersahutan, yang ternyata terdengar cukup keras jika sudah berada di dekat lokasi.
Tapi tentu saja tidak ada orang yang datang untuk menolong gadis malang itu karena lokasi gedung yang jauh dari keramaian dan tidak ada orang yang melewati gang sepi itu.
“Tolong!” Suara teriakan kembali terdengar dari seorang gadis yang tampak duduk terjatuh dengan pakaiannya yang berupa gaun pesta yang sebenarnya indah terlihat berantakan dan juga kusut.
Bahkan terlihat ada sobekan di bagian dada dari pakaian yang dikenakan oleh gadis cantik itu, membuat James menyipitkan matanya, ikut merasa geram karena pemandangan yang tidak pantas dilakukan oleh beberapa laki-laki kepada gadis yang terlihat masih sangat muda dan terlihat jelas bahwa gadis itu sangat ketakutan, menunjukkan bahwa sebenarnya gadis itu pasti merupakan gadis baik-baik.