My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RASA PENASARAN LAUREL



"Aist, kalian silahkan mengobrol, jangan perdulikan aku. Jangan bawa-bawa namaku dalam obrolan kalian berdua." Ornado langsung menyatakan protesnya kepada Dave dan Dario yang sibuk bergantian memujinya dengan sikap tidak perdulinya.


"Wah, galak sekali adikku ini. Oke Tuan Shaw, panggil saja aku dengan Dario, seperti Laurel memanggilku, agar tidak ada jarak yang terasa jauh diantara kita. Bahasa formal membuat kita justru tidak bisa bersikap apa adanya. Bukankah begitu Tuan Shaw?" Akhirnya Dario berkata sambil sedikit menjauh dari Ornado yang tampak menikmati suasana pesta sambil melihat-lihat sekelilingnya.


"Kalau begitu, kamu juga bisa langsung memanggilku Dave." Dave berkata dengan sebuah senyuman menghias wajah tampannya.


"Deal." Dario langsung menjawab singkat perkataan Dave dengan senyum ramah menghias wajahnya.


"Ok, aku akan menyapa tamu yang lain. Silahkan nikmati jamuan makan malam yang sudah disiapkan. Ad, tolong temani tamu istimewaku malam ini. Sebentar lagi aku akan kembali pada kalian." Ornado yang sudah meraih sebuah gelas piala berisi minuman, langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar permintaan dari Dario.


"Jangan khawatir, aku akan menemani mereka. Sebagai tuan rumah kamu harus menyapa dan menyambut mereka." Ornado berkata sambil memberikan kode melalui gerakan matanya agar Dave dan Laurel mengikutinya, supaya dia bisa mengajaknya bertemu dengan yang lain.


"Ikut aku. Aku akan mengajak kalian bertemu dengan tante Ema, juga James dan yang lain, termasuk Elenora." Ornado berkata sambil berjalan, diikuti oleh Dave dan Laurel yang berjalan di sampingnya.


"Elenora? Gadis Italia yang sekarang bekerja sebagai asisten pribadi James? Yang kata Cladia adalah gadis yang akan dijodohkan dengan James?"


"Yup." Ornado menajwab singkat pertanyaan bertubi-tubi dari Laurel tentang Elenora.


Sejak Cladia menceritakan tentang perjodohan James, Laurel merasa cukup penasaran dengan gadis bernama Elenora itu. Dan ingin sekali bertemu dengannya jika saja saja ada kesempatan.


Beberapa waktu ini, seperti kata Cladia kepada Ornado, Laurel dan Dave cukup sibuk, sehingga belum ada kesempatan untuk dia bertemu dengan Cladia dan Ornado seperti biasanya, bahkan mereka belum sempat mengunjungi rumah besar milik orangtua Dave.


"James...." Suara panggilan dari Ornado langsung membuat James menoleh dan melihat ke arah Ornado.


"Hai Dave, Laurel, kalian sudah datang juga?" Jeremy dan Niela yang sedang mengobrol dengan James, langsung menyapa Dave dan Laurel.


"Senang bertemu kalian semua di sini." Laurel berkata sambil memandang secara bergantian kepada Jeremy, Niela dan James untuk menyapa mereka.


"Wah, pesta kali ini sungguh meriah, kita semua bisa hadir di sini. Tapi Ad, dimana Cladia? Apa kamu sengaja menyembunyikan istri cantikmu itu agar orang lain tidak bisa menikmati pesona dan kecantikannya?" Sindiran Niela langsung membuat yang lain menahan senyum gelinya, sedang Ornado langsung tertawa kecil.


"Bagaimana bisa calon istri kakak iparku ini selalu bisa membaca pikiranku yang inginnya selalu menyembunyikan Cladia dari tempat umum?" Ornado menjawab pertanyaan Niela dengan wajah yang sengaja dia buat seserius mungkin, tapi beberapa saat kemudian dia tertawa.


"Cladia sedang makan malam ditemani Leo dan Evelyn di rumah. Tadi dia sudah bersiap berangkat, tapi karena mual dan merasa lemas, dia memutuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat daripada nanti dia merepotkan banyak orang di sini." Jeremy yang mendengar penjelasan Ornado tentang Cladia langsung mendekat ke arah Ornado.


"Lalu bagaimana kondisi Cladia sekarang Ad?"


Andaikata kondisi Cladia tidak baik, pasti Ornado akan menjadi orang yang paling khawatir dan gelisah diabndingkan dengan dirinya sendiri, Jeremy tahu pasti tentang itu.


Namun melihat Ornado terlihat tenang, Jeremy yakin adik satu-satunya, yang begitu disayanginya itu memang sudah membaik kondisinya.


Amalia sebagai asisten pribadi Cladia, seringkali memberikan laporan pada Jeremy tentang kondisi Cladia yang sampai sekarang memang masih sering mengalami mual dan muntah karena kehamilannya.


"James, aku dengar ada seorang gadis cantik yang dikirimkan langsung oleh keluargamu dari Italia untuk menjadi istrimu. Apa kamu tidak ingin mengenalkannya pada kami?" Laurel segera bertanya kepada James sambil matanya berkeliling mencari sosok gadis yang kira-kira merupakan calon istri James.


Begitu mendengar perkataan Laurel, James langsung mendekat ke arah Laurel, memberikan kode melalui tangannya agar sedikit menjauh, dan mulai berbicara dengan suara pelan kepada Laurel begitu mereka berdua sudah berdiri sedikit lebih jauh dari mereka yang lain.


Sedang yang lain, begitu James mengobrol dengan Laurel, mereka sendiri akhirnya sibuk mengobrol juga satu dengan yang lain.


"Aist, cantik darimananya? Gosip darimana sehingga kamu bisa mengatakan kalau gadis itu cantik? Siapa yang mengatakannya padamu? Apa Cladia? Aku bahkan sedang mencari cara agar bisa segera memutuskan rencana perjodohan kami." James langsung mengomel di depan Laurel.


"Eh, memangnya kenapa dengan gadis itu? Sangat jelekkah? Atau kamu sudah punya gadis impianmu sendiri?" Laurel langsung membalas kata-kata James dengan wajah terlihat begitu penasaran.


"Tidak, bukan itu. Kamu tahu sampai sekarang aku masih begitu malas menjalin hubungan serius dengan gadis manapun, karena stok gadis cantik sekaligus baik seperti kamu, Cladia, Niela dan Evelyn, semuanya sudah ada yang punya." James berkata sambil tersenyum lebar, menunjukkan wajahnya yang semakin tampan karena senyum manisnya.


"Mungkin jodohku seperti kata Ad, belum dilahirkan, jadi aku masih harus menunggu lama sampai dia siap bertemu denganku. Ha ha ha ha." James kembali melanjutkan kata-katanya, diakhiri dengan sebuah tawa geli.


"Kamu ini ada-ada saja James. Memang kenapa sih dengan gadis itu? Elenora ya namanya? Apa di sepayah yang kamu katakan? Jangan-jangan kamu sebenarnya menyukainya tapi gengsi untuk mengakuinya? Aku dengar sejak kecil keluarga kalian sudah berteman?" James langsung meringis mendengar perkataan Laurel.


"Memang aku sudah kenal lama dengannya, karena itu aku tahu bagaimana sejak kecil gadis culun itu selalu seperti itu.... Yah... berpenampilan culun seperti gadis yang hidup di era tahun 60 an. Apa menurutmu masuk akal, aku yang sekeren ini harus berjalan berdampingan dengan gadis seperti itu? Apa kata dunia coba?" Kali ini Laurel tidak bisa menahan senyum gelinya mendengar penjelasan James tentang Elenora yang membuat Laurel merasa semakin penasaran dengan sosok gadis itu.


Apalagi mendengar James juga memuji dirinya sendiri dengan sikap percaya dirinya.


Mau tidak mau, Laurel harus mengakui, bahwa James yang memiliki darah Italia asli dalam tubuhnya, memang merupakan sosok laki-laki tampan yang pasti akan menjadi incaran banyak gadis.


Entah untuk sekedar dijadikan seorang kekasih yang pastinya akan terlihat membanggakan, ataupun diincar untuk dijadikan seorang suami karena selain tampan James juga merupakan laki-laki yang diikuti dengan kantong tebal karena kekayaan yang dimilikinya.