My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PERTEMUAN YANG MENGESANKAN



Deanda Federer, wanita cantik yang bukan sekedar anggun, tapi juga kuat dan lembut hatinya.


Sebuah perpaduan yang membuat siapa saja yang melihatnya akan mengakui pesonanya dan menganggapnya memang pantas menjadi pendamping raja Grecetian yang dikenal keras, tapi di sisi lain terlihat bijaksana dan berwibawa.


Begitu mereka berdiri berdampingan, dengan lembut Alvero meraih tangan Deanda, dan membuat gerakan agar lengan Deanda memeluk lengan tangan Alvero, membuat pasangan raja dan pemaisurinya itu terlihat begitu serasi dan mesra.


"Sebentar amore mio, aku akan menyapa Alvero." Ornado melepaskan rengkuhan tangannya pada Cladia dengan gerakan pelan dan lembut setelah Cladia menganggukkan kepalanya.


“Selamat datang Alvero, senang bisa bertemu denganmu di sini.” Tanpa menunggu Alvero berjalan mendekat ke arahnya,  Ornado segera berjalan mendekat ke arah Alvero, dan langsung memeluk tubuh Alvero dengan hangat, sambil menepuk-nepuk punggung Alvero.


Tindakan Ornado membuat mereka semua yang ada di situ bisa melihat bagaimana dekatnya hubungan antara Alvero dan Ornado.


Dan hal yang sama juga dilakukan oleh Alvero kepada Ornado yang sosoknya selalu saja mengingatkan pada Alvero, betapa besar dan banyaknya hutang budi yang dimilikinya kepada laki-laku hebat itu, yang merupakan satu-satunya sabahat paling dekat bagi Alvero.


“Aku yang harusnya merasa senang bisa bertemu denganmu untuk mengucapkan terimakasih secara langsung dengan apa yang sudah kamu lakukan untukku selama ini. Aku tidak akan berada di tempat ini sekarang dengan status dan kondisi yang sama seperti ini jika saja kamu tidak mendukung dan membantuku saat itu.” Mendengar pujian dari Alvero, Ornado yang sudah melepaskan pelukannya pada tubuh Alvero langsung tersenyum.


"Dengan senang hati Alvero, jangan terbebani karena masalah seperti itu." Alvero langsung tersenyum mendengar perkataan Ornado.


“Aku berhutang banyak padamu Ad. Suatu ketika, jika ada kesempatan, aku pasti akan membalas hutang budiku padamu.” Perkataan Alvero membuat Ornado mencebikkan bibirnya.


“Aku tidak suka kata-katamu barusan Yang Mulia. Bagiku, tidak ada hutang piutang diantara kita. Tidak ada hitungan hutang jika itu untuk sahabat.” Mendengar jawaban dari Ornado dengan nada menyindirnya saat menyebutkan kata “yang mulia” kepada Alvero, membuat senyum Alvero semakin lebar.


"Oke Ad, sesukamulah. Kamu rajanya di sini, karena ini  bukan Gracetian." Ornado langsung tersenyum mendengar jawaban dari Alvero.


Sebentar kemudian Ornado mengalihkan pandangan matanya dari Alvero kepada Deanda.


“Selamat datang juga untuk Anda Permaisuri Deanda.” Ornado berkata sambil memandang ke arah Deanda yang langsung tersenyum dan memandang ke arah wanita cantik yang ada di belakang tubuh Ornado dan sedang tersenyum ke arah mereka.


Mata Deanda sedikit terpaku dan melihat ke arah wanita cantik dengan rambut panjangnya yang kecantikannya seperti boneka barbie itu, membuatnya ingat pada kata-kata Alvero tentang sosok istri Ornado yang cantik seperti boneka.


“Ah, perkenalkan, istriku, Cladia Xanderson.” Ornado yang bisa melihat tatapan mata Deanda yang terlihat menatap Cladia dengan tatapan terlihat jelas adanya sebuah rasa penasaran yang begitu besar di hatinya, segera mengenalkan istrinya kepada Deanda.


“Jangan memanggil kami dengan begitu formal seperti itu Nyonya Xanderson.” Deanda berkata sambil tersenyum ramah ke arah Cladia.


Wanita yang baru pertama kali ditemuinya, tapi sudah membuatnya merasa akrab dan nyaman berada di dekatnya, meskipun dari penampilannya, seklias Deanda bisa menilai bahwa Cladia adalah wanita yang terlihat pendiam dan tidak banyak bicara.


"Kalau begitu, jangan memangilku dengan sebutan nyonya Xanderson, cukup Cladia." Mendengar perkataan Cladia, Deanda langsung mengulurkan tangannya kepada Cladia.


Dan Cladia langsung menyambutnya, dengan menjabat tangan Deanda dengan sikap hangat.


"Deal, Cladia. Aku Deanda, senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang sering sekali diceritakan oleh Ornado kepada kami. Sampai membuatku terbawa mimpi, karena begitu penasaran dengan wanita yang sudah membuat Ornado tidak pernah tidak menyebutkan nama itu di setiap kesempatan yang ada." Kata-kata Deanda sukses membuat wajah Cladia sedikit memerah.


Meskipun tahu bahwa suaminya seringkali bersikap over dalam mengungkapkan kekaguman dan bangganya terhadap dirinya sebagai istri, tapi Cladia tidak pernah menyangka bahwa Ornado juga sudah memamerkan keberadaannya sedemikian rupa bahkan kepada raja Gracetian dan pemaisurinya, yang belum pernah dikenal dan ditemuinya sebelum hari ini.


"Tenang saja, Ornado tidak pernah sekalipun menyebutkan hal buruk tentangmu, yang ada dia selalu menceritakan bagaimana cantik dan baiknya. Betapa menggumkannya istri tercintanya. Bahkan jajaran putri Gracetian yang dibuat heboh karena kehadirannya di istana waktu itu tidak diperdulikannya sama sekali, bahkan sedikit melirik ke arah mereka pun tidak dilakukan olehnya." Perkataan Deanda bukannya membuat Cladia lebih tenang, justru wajahnya semakin memerah karena merasa malu.


Istri Ornado ternyata seorang yang pemalu dan tidak banyak bicara. Mungkin karena trauma yang pernah dialaminya, seperti yang diceritakan oleh my Al. Mereka memiliki trauma yang menyebabkan mereka tidak bisa bersentuhan dengan lawan jenis, meskipun awal mula peristiwa yang menyebabkan timbulnya trauma itu sungguh jauh berbeda.


Deanda berkata dalam hati dengan tatapan matanya melihat dengan pandangan mata terlihat begitu ramah kepada Cladia.


"Senang bertemu dan berkenalan denganmu. Seperti kata istriku, selama ini Ad selalu saja menceritakan tentangmu kepada kami di setiap pertemuan kami." Alvero menyapa Cladia sambil sedikit menundukkan tubuhnya, tanpa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Alvero bukannya tidak mau menjabat tangan Cladia, karena sebenarnya dengan keberadaan Deanda di sampingnya dan sarung tangan yang dikenakannya, dia tidak perlu terlalu mengkhawatirkan alerginya yang biasa timbul karena bersentuhan dengan wanita.


Beberapa lama ini bahkan keberadaan Deanda di sampingnya membuatnya tidak lagi terlalu memikirkan semuanya itu saat melakukan kunjungan keluar istana atau pertemuan dengan banyak orang.


Keberadaan Deanda di sisinya, sebagai obat paling mujarab bagi Alvero selama ini, akan  bisa membuatnya mengendalikan diri dan menghilangkan efek dari alergi yang ditimbulkan tubuhnya saat bersentuhan dengan wanita lain.


Namun Ornado yang pernah mengatakan bahwa Cladia menderita trauma berdekatan dengan laki-laki lain karena peristiwa yang pernah dialaminya 5 tahun lalu, membuat Alvero memutuskan untuk menyapa Cladia dengan cara lain, yang tetap sopan tanpa harus menyentuhnya dengan berjabat tangan dengannya.


Apalagi Alvero yang begitu dekat dengan Ornado, tahu dan masih ingat betul bagaimana Ornado yang sangat melindungi istrinya, tentu tidak akan membiarkan orang lain membuat masalah  dengan wanita kesayangannya itu.