
Bagi Dario, kehadiran sosok Cladia yang saat ini tepat berdiri di hadapannya, meski dalam jarak yang cukup jauh, membuat hatinya melayang, dipenuhi dengan angan-angan tentang impiannya yang segera menjadi kenyataan, untuk secepat mungkin menjadikan Cladia sebagai pendampingnya.
Untuk Cladia sendiri, sosok Dario mengingatkan bagaimana laki-laki itu merupakan seorang laki-laki kejam yang sudah membunuh kedua orangtuanya, seorang laki-laki yang paling tidak ingin dia lihat wajahnya untuk saat ini.
“Cladia….” Dario membisikkan nama Cladia dengan lembut, sedang Cladia masih mengarahkan pandangan matanya yang tajam kea rah Dario tanpa berniat menjawab sapaan lembut Dario untuknya.
Dengan gerakan pelan tapi terlihat tanpa terlihat ragu sedikitpun, Cladia berjalan ke arah Dario dan berhenti tepat di depannya, dengan jarak yang menurut Cladia cukup membuatnya nyaman, tapi juga tidak begitu jauh dari Dario agar dia bisa menyampaikan apa yang dipikirannya pada Dario.
Begitu melihat sosok Cladia berjalan mendekat ke arahnya, Dario segera memberikan tanda kepada kedua pelayan wanitanya untuk segera pergi meninggalkan ruangan itu, melalui kode dari tangannya.
“Kamu sudah sadar? Apa kamu baik-baik saja? Apakah ada yang kamu inginkan sekarang?” Pertanyaa-pertanyaan dari Dario yang menunjukkan perhatiannya, justru membuat Cladia menahan nafasnya karena di dadanya saat ini terasa sesak, menahan amarah karena melihat bagaimana dengan percaya dirinya, Dario mengatakan semua pertanyaan itu padanya.
Laki-laki ini benar-benar menyebalkan! Bagaimana bisa dia dengan mudahnya menanyakan keadaanku, seolah-olah dia adalah orang yang paling perduli pada kondisi di dunia ini, sedangkan dia sendiri yang sudah memaksaku datang ke tempat ini dengan cara yang menjijikkan seperti itu…. Benar tidak tahu malu!
Cladia berkata dalam hati sambil menata hati dan kekuatannya, agar dia tidak terlihat sebagai wanita lemah dan menyedihkan di hadapan Dario.
“Apa maumu dengan membawaku ke tempat ini secara paksa?” Tanpa menjawab pertanyaan Dario sebelumnya, Cladia langsung bertanya balik kepada Dario yang terlihat sedikit kaget melihat sikap Cladia yang dalam bayangannya, pasti akan bersikap lembut dan menurut padanya karena takut dan tidak nyaman di temapt asing seperti sekarang ini.
Kamu memang benar-benar mempesona Cladia…. Dengan sikapmu barusan, orang lain tidak akan pernah menduga bahwa kamu memiliki kelainan, bagaimana kamu tidak bisa bersentuhan fisik atau berada terlalu dekat dengan pria. Di balik kelemahanmu, kamu membuktikan bahwa kamu wanita yang kuat dan tidak bisa dianggap remeh. Tidak salah jika sejak dulu aku begitu menyukai dan menginginkanmu. Sayang sekali waktu itu aku tidak segera membawamu pergi bersamaku, sehingga Ornado memiliki kesempatan untuk menikahmu. Hal yang paling aku sesali sampai sekarang ini.
Dario berkata tanpa bisa menyembunyikan rasa cinta dan kagumnya pada Cladia.
“Tentu saja aku tidak akan bersedia. Dan jika sekarang kamu bertanya hal yang aku inginkan. Lebih dari apapun, aku ingin pergi dari tempat ini.” Perkataan Cladia dengan nada tegasnya membuat Dario sedikit tersentak, tidak menyangka bahwa Cladia akan mengatakan hal seperti itu padanya, tanpa ada sikap ragu sedikitpun.
“Ah… maksudku bukan seperti itu Cladia. Aku sungguh menghormati dan perduli padamu.” Dengan sikap ragu, Dario berkata, tanpa sadar sudah membuat Dante mengernyitkan dahinya, karena melihat bagaimana sosok tuannya yang terlihat tidak menunjukkan sisi keras dan kejamnya di depan wanita yang bernama Cladia itu, dan bagi Dante, itu merupakan suatu hal yang terlihat bodoh dan menggelikan, jauh dari sosok Dario yang selama ini begitu dia kagumi karena tindakan-tindakan kejam dan ekstrimnya.
“Kamu berani mengatakan bahwa kamu menghormati dan perduli padaku. Tapi, kamu sudah membunuh kedua orangtuaku. Bagaimana dari satu bibir yang sama bisa mengatakan dua hal yang sangat bertentangan seperti itu, dan berharap aku mempercayainya?” Kali ini, bukan hanya tersentak kaget.
Mendengar perkataan Cladia membuat mata Dario melotot tajam, tidak menyangka bahwa dari bibir mungil wanita cantik itu mengucapkan kata-kata yang sungguh menusuk dadanya dan membuatnya kehilangan kata-kata.
“Cla….” Sekilas terdengar suara Dario yang menyebutkan nama Cladia dengan suara terdengar memelas, membuat Dante memandang ke arah Cladia dengan tatapan sinis dan tidak sukanya.
“Jangan pernah berharap untuk aku memaafkan orang yang sudah tega-teganya membunuh kedua orangtuaku, hanya karena menolak untuk membatalkan perjodohanku dengan Ornado, yang merupakan orang yang sudah memperlakukanmu seperti saudaranya sendiri selama ini. Kamu benar-benar kejam dan….” Cladia menghentikan kata-katanya karena tiba-ptiba saja, sosok Dante berjalan dengan cepat, untuk membuatnya berhenti menyerang Dario dengan kata-katanya.
Dengan wajah tersentak kaget dan tatapan mata takut, Cladia reflek mundur dua langkah ke belakang, menjauhi sosok Dante yang mendekat ke arahnya.
“Dante!” Sebelum Dante berhasil mendekat ke arah Cladia, tiba-tiba saja Dario sudah mencegah gerakannya dengan menyarangkan tinjunya ke wajah Dante, setelah sebelumnya sempat menarik kerah pakaian Dante dengan gerakan kasar.
Tindakan Dario membuat mata Dante melotot dengan tatapan mata terlihat tidak percaya, dan salah satu tangannya mengusap pelan mulutnya, untuk membersihkan darah yang keluar dari sudut bibirnya, akibat pukulan Dario.