My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
OMELAN ORNADO (2)



"Ad, aku...." James menghentikan bicaranya sambil memejamkan matanya.


"James, sebenarnya apa yang membuatmu begitu takut mengakui bahwa kamu mencintai Elenora, dan tidak ingin kehilangan dia? Jangan bertindak konyol dengan memikirkan hal-hal rumit dalam otakmu, sedang bagian terpentingnya kamu lupakan begitu saja! Elenora pergi darimu waktu itu, apa kamu sudah menemukan alasannya? Kenapa tidak bertanya langsung padanya?" Ornado langsung mencerca James dengan pertanyaannya tentang hal yang membuat James selama ini selalu menjadikan itu sebagai alasan untuk dia belum bisa menerima sepenuhnya sosok Elenora dalam hidupnya.


"Setiap aku membahas masalah itu, dia terlihat begitu ketakutan dan tidak nyaman." James menjawab pelan pertanyaan Ornado, berusaha membela dirinya.


"Berarti ada sesuatu yang salah yang sudah terjadi waktu itu. Kenapa pikiranmu hanya fokus poada dirimu sendiri? Kalau dia tidak bisa memberikan jawaban, kenapa kamu tidak mulai menyelidikinya? Jangan membuat otakmu kacau karena hal yang sekedar kamu duga tanpa adanya bukti. Jangan jadi laki-laki pengecut James! Mencari kesalahan Elenora, sedangkan kamu tidak pernah mencoba untuk melakukan yang terbaik untuknya!" Setiap perkataan dari Ornado, membuat dada James semakin berdetak kencang dengan rasa nyeri yang menghantam dadanya saat ini, karena rasa bersalah yang tiba-tiba datang menggerogoti pikirannya.


"Apa kamu pernah berpikir? Jangan-jangan ada seseorang yang sudah membuatnya sakit hati, takut, atau trauma, sehingga membuat dia pergi jauh waktu itu. Dan bisa jadi itu bukan karena dia ingin meninggalkanmu, tapi karena dia sedang dalam masalah. Jangan egois dengan berpikir bahwa kamu saja yang menderita waktu itu. Bisa jadi, saat itu dia lebih menderita dari kamu, tapi kamu tidak ada di sisinya, justru sibuk mengutuki kepergiannya." Ornado kembali melanjutkan kata-katanya yang membuat James merasa semakin bersalah.


A... apa yang dikatakan Ad? Apa mungkin memang ada sesuatu yang buruk yang sudah menimpa Ele waktu itu? Apa selama ini justru aku yang sudah meninggalkannya sendirian dalam menghadapi masalahnya?


James bertanya-tanya dalam hati, karena perkataan Ornado sungguh membuka pikirannya yang selama ini selalu menganggap Elenora yang sudah meninggalkannya, padahal bisa jadi, saat itu kondisi Elenora sedang terpuruk, dan membutuhkan kehadirannya.


"Kamu benar Ad. Aku... benar-benar orang yang egois...." Pada akhirnya perkataan James yang menunjukkan bahwa dia tahu dia bersalah, membuat kemarahan Ornado sedikit mereda.


"Bagus kalau kamu tahu tentang hal itu. Tapi sudahlah, semua sudah terjadi. Lebih baik kamu fokus pada pekerjaanmu di kota B, supaya kamu bisa cepat kembali pada Elenora, dan segera membereskan urusan kalian berdua dengan baik. masalah seperti ini, jangan dibiarkan berlarut-larut. Buat apa menunda kebahagiaan kalian dengan hal seperti itu. Dengarkan kata-kataku James, kalau kamu benar-benar mencintai seseorang, kamu akan menerima orang itu apa adanya, termasuk masa lalu, masa sekarang dan masa depan orang itu." Ornado berkata sambil melirik ke arah Cladia yang dilihatnya sedang duduk di tepian tempat tidur, bermaksud untuk pergi ke kamar mandi.


"Info aku jika ada perkembangan mengenai pabrik penyamakan kita. Ada sesuatu yang harus aku lakukan sekarang. Segera pikirkan cara untuk menunjukkan penyesalanmu pada Elenora." Dengan cepat Ornado menutup teleponnya tanpa perduli dengan James yang pada akhirnya diam termangu setelah menerima telepon dari Ornado, yang di bagian terakhir, terus mengomelinya karena tindakannya anehnya terhadap Elenora terkait pernikahan mereka.


"Biarkan aku membantumu amore mio." Ornado yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Cladia dan sedang mengulurkan tangannya kepada istrinya,, membuat wanita cantik itu mendongakkan kepalanya dengan senyum cerah di wajahnya.


"Tidak perlu Al, aku bisa sendiri. Kan cuma ke kamar mandi." Cladia berkata sambil tetap tersenyum dan bangkit dari duduknya.


Namun, sebelum Cladia benar-benar berdiri tegak, dengan gerakan cepat, Ornado sudah membungkukkan tubuhnya, dengan kedua lengannya bergerak tangkas menopang bagian belakang tubuh Cladia, dan menopangnya, membuat Cladia sedikit terpekik karena kaget.


"Simpan tenagamu untuk kegiatan kita selanjutnya amore mio." Ornado berbisik pelan tepat di depan wajah Cladia yang memerah, sebelum mencium kening wanitanya itu dengan lembut.


"Al...."


"Apa yang terjadi Al? Kenapa kata-katamu terdengar menyedihkan seperti itu?" Ornado langsung menggelengkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan dari Cladia.


Saat ini hati Ornado sungguh mengharu biru, menyadari bahwa paling tidak, dia tidak pernah meninggalkan Cladia saat wanita yang dicintainya itu mengalami masa-masa sulitnya.


Meskipun di beberapa kesempatan Ornado tidak bisa hadir tepat di samping Cladia, tapi dia tetap berusaha menjaga dan melakukan semua yang terbaik untuk wanitanya itu.


"Tidak... Tidak ada yang terjadi. Hanya saja, sebagai laki-lakimu, aku tidak ingin menjadi pria yang pernah membuatmu sakit hati, atau meninggalkanmu sendirian saat kamu terpuruk, tanpa berusaha melakukan apapun untukmu. Aku mau kamu bahagia dan tidak ada penyesalan hidup bersamaku." Ornado berkata sambil menatap lurus ke arah wajah Cladia, yang merupakan sumber kebahagiaan dan segalanya baginya.


Apa yang sudah dilakukan James pada Elenora, membuat Ornado ikut was-was, dan mencoba memikirkan dan mengingat, apakah tanpa sadar dia pernah menyakiti Cladia sedemikian rupa seperti yang sudah dilakukan James pada Elenora, yang pastinya akan membawa penyesalan yang begitu dalam di kemudian hari.


"Hah...." Cladia menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar mendengar perkataan dari Ornado.


"Jika kamu mengatakan hal seperti itu, sepertinya aku yang harus bertanya padamu. Apakah kamu bahagia menikah dengan wanita sepertiku? Yang mungkin tidak seperti wanita lain. Aku yang selalu merepotkanmu, dan membuatmu harus selalu was-was saat di...." Sebuah ciuman hangat dari bibir Ornado yang sebelumnya tersenyum karena kata-kata Cladia, langsung menutup rapat bibir Cladia sehingga tidak lagi bisa meneruskan kata-katanya.


Untuk beberapa saat, Ornado terus menikmati manisnya bibir Cladia, bahkan dengan salah satu kakinya, Ornado membuka pintu kamar mandi tanpa melepaskan pagutan bibirnya dari Cladia yang masih dalam gendongan kedua lengannya.


Setelah berada di dalam kamar mandi, Ornado mendudukkan Cladia di atas meja keramik yang ada di dekat wastafel, dengan bibirnya yang masih terus melum...mat bibit Cladia dengan penuh cinta.


Satu tangan Ornado melingkar di tubuh Cladia dengan sikap posesifnya, sedang tangannya yang lain berada di tengkuk Cladia untuk menahannya, sambil mengelusnya dengan mesra.


Dengan gerakan perlahan, Cladia melingkarkan kedua tangannya di leher Ornado, membuat dada Ornado berpacu dengan cepat, disertainafas yang memburu.


Dan juga membuat ciuman Ornado semakin dalam dan menuntut, sampai mereka berdua hampir kehabisan nafas, Ornado baru menghentikan ciumannya.


"Selama itu kamu, tidak akan pernah ada penyesalan dalam hidupku amore mio." Ornado berkata lirih, dengan bibirnya yang masih tetap menempel pada bibir Cladia yang sedikit terbuka, membuatnya terlihat begitu menggoda bagi Ornado yang pada dasarnya memang begitu tergila-gila pada istrinya itu.