
“Kenapa denganmu? Masuklah…. Sudah aku tegaskan tadi, untuk malam ini tidurlah dengan nyaman di sini, besok aku akan mengaturkan tempat yang terbaik untuk kamu tinggal, dan yang pasti, bukan apartemen yang sudah kamu sewa itu.” James berkata sambil memandang wajah Elenora yang tampak tidak tenang.
“Aku… tidak bisa James….”
Apa maksud perkataan dari Ele? Apa yang membuatnya begitu ragu untuk masuk ke dalam?
James bertanya dalam hati dan mulai berpikir buruk bahwa Elenora sengaja mengulur-ulur waktu untuk mencari kesempatan agar bisa kabur darinya lagi.
“Kenapa?” Pertanyaan James membuat Elenora menelan ludahnya.
Maaf James, bukannya aku tidak percaya padamu, dan menganggapmu sebagai lelaki breng..sek… tapi aku sungguh tidak bisa melakukan hal seperti ini. Hal yang bertentangan dengan norma dan juga tidak sesuai dengan hati nuraniku sebagai orang yang beragama.
Elenora berkata dalam hati sambil berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan isi pikirannya pada James.
“Aku tidak mau… tidur dalam kamar yang sama, dengan… laki-laki yang bukan suami atau orang yang tidak memiliki ikatan darah denganku…. Aku tidak mau orang salah paham jika melihat ini. Maaf… kalau itu menyinggung perasaanmu.” Dengan ragu Elenora berkata, sambil berharap James tidak tersinggung atas apa yang baru saja dia katakan.
James hampir saja berpikir bahwa itu hanyalah sekedar alasan bagi Elenora untuk mencari kesempatan agar bisa melarikan diri lagi, tapi melihat wajah ketakutan, dan juga mata Elenora yang terlihat memerah seperti orang yang sedang berusaha keras menahan tangisnya, James menahan dirinya agar tidak terpancing emosi karena kata-kata Elenora sebelumnya, yang sama saja dengan menganggapnya sebagai seorang laki-laki rendahan dan tidak punya akhlak.
Sedangkan sedari awal, tidak ada sedikitpun pikiran James ke arah sana.
Sama halnya dengan Ornado, dalam keluarganya, James dididik secara keras jika itu berkaitan dengan nilai-nilai norma kehidupan dan agama.
Keluarga mereka menghormati arti sebuah pernikahan yang dianggap sacral dan begitu menentang keras adanya free sek..s ataupun hubungan sek...s sebelum menikah.
Bagi keluarga mereka yang begitu menjunjung tinggi kesucian dari ikatan pernikahan, itu adalah hal yang sangat pantang untuk dilakukan, meskipun mereka dikenal sebagai keluarga yang sangat kaya dan berpengaruh.
“Aku tahu kedua orangtuamu mendidikmu dengan cukup keras dengan aturan yang dianggap sebagian orang yang hidup di Eropa sebagai kebiasaan yang masih kolot. Tapi aku menghargai itu, asal kamu tidak berencana untuk pergi secara diam-daiam seperti yang sudah kamu lakukan seperti tadi.” Akhirnya James berkata pelan, sambil meraih handphonenya, untuk menghubungi bagian customer service hotel.
Begitu panggilan telepon terhubung, James segera meminta agar mereka menyiapkan satu lagi kamar tipe presidential suit room satu malam ini untuk Elenora, membuat gadis itu sedikit memelototkan matanya karena kaget dengan pembicaraan James di telepon.
“James.,.. tidak perlu repot-repot seperti itu….”
“Ele, coba katakan padaku, apa yang kamu mau sekarang. Kamu merasa tidak nyaman berada satu kamar denganku, meskipun kamu tahu, aku bukan laki-laki bermoral bejad seperti itu. Dan dengan kamar seluas ini, bahkan kita sebenarnya akan tidur secara terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Baru saja, aku memesankan satu kamar untukmu tapi kamu menolak juga. Aku sudah katakan apa mauku padamu. Untuk malam ini, beristirahatlah dengan nyaman dan tenang. Lupakan saja tentang apartemenmu itu.” James berkata dengan sikap tegas, menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak ingin dibantah oleh Elenora malam ini.
Ah, bagaimana menyampaikan kepada James bahwa biaya satu malam di kamar tipe presidential suit di hotel ini betul-betul akan menguras kantongku?
“Kalau begitu… bisakah… kamu memesan… standard room saja untukku malam ini?” Akhirnya dengan susah payah, Elenora berhasil mengatakan isi pikirannya meskipun itu hanya tersirat, membuat James yang tidak bodoh, langsung mengerti kesulitan apa yang sedang dialami oleh Elenora.
Ele, apa karena alasan itu juga kamu dengan bodoh dan cerobohnya menyewa apartemen di daerah berbahaya seperti itu? Kamu pasti memilihnya karena biaya sewa yang murah di sana. Kalau hanya karena uang, kenapa kamu tidak mengatakan secara terus terang padaku? Kenapa setiap kali kamu membutuhkan sesuatu tidak pernah datang padaku? Lalu kepada siapa selama ini kamu mencari pertolongan? Apa Gavino?
James berkata dalam hati diikuti dengan helaan nafas lega meskipun ada sedikit rasa kesal, karena tahu pasti apa yang sedang dipikirkan oleh Elenora saat ini, bukan seperti ketakutan yang tadi sempat dia pikirkan, bahwa Elenora sedang berusaha menghindar dan melarikan diri darinya.
“Malam ini aku tetap akan memesan kamar presidential suit room untukmu. Anggap saja untuk menggantikan liburanmu yang terpaksa kita hentikan karena ada masalah di kantor.” James berkata dengan nada santai, sambil melirik ke arah dua petugas hotel yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Tapi James….”
“Tidak ada tapi-tapian. Malam ini kamu tidur di kamar yang aku pesan, atau tidur di kamarku malam ini.” Dan ancaman James sukses membuat Elenora terdiam tanpa bisa membantahnya lagi.
“Selamat malam Pak, ini kunci kamar hotel presidential suit room yang Anda pesan barusan.” Salah satu petugas hotel berkata sambil menyerahkan cardlock kamar hotel kepada James dengan sikap hormat, seolah James merupakan tamu agung bagi mereka.
Bagi para pegawai di hotel itu, dari level terendah maupun tertinggi, semuanya mengenal sosok James dengan baik, karena merupakan salah satu pelanggan hotel yang tinggal cukup lama di hotel mereka.
Dan sedikit banyak info tentang siapa James meskipun tidak seratus persen benar, membuat mereka semua yang ada di sana begitu menghormati James.
“Terimakasih.” James berkata sambil menyerahkan kunci kamar itu kepada Elenora yang terlihat ragu untuk menerimanya, tapi dengan cepat, tangan kiri James meraih tangan kanan Elenora, mengangkatnya dengan posisi telapak tangan Elenora berada di atas.
Lalu tangan kanan James yang memegang kunci, meletakkan kunci tersebut ke atas telapak tangan Elenora yang menengadah, membuat Elenora lagi-lagi sedikit tersentak.
“Kamarnya sudah siap Nona, mari kami antar ke sana.” Petugas hotel berkata sambil merentangkan salah satu tangannya, untuk mempersilahkan Elenora mengikuti mereka.
Begitu melihat wajah bingung sekaligus ragu yang membuat Elenora tidak segera bergerak dari posisinya, membuat James tersenyum geli dan kembali berbisik ke telinga Elenora.
“Apa kamu menyesal dengan keputusanmu meminta kamar lain? Mau tidur di kamarku malam ini?” Bisikan James sukses membuat mata indah Elenora membulat sempurna karena melotot kaget.
“Selamat sore James, selamat beristirahat, terimakasih untuk hari ini.” Elenora berkata dengan cepat, diikuti dengan gerakan cepat menjauhkan tubuhnya dari James yang terlihat masih mengulum senyum di wajahnya.
Untuk beberapa saat, mata James tetap mengamati sosok Elenora yang berjalan menjauh, sampai sosok gadis cantik itu menghilang di balik pintu kamar presidential suit room yang ada tepat berada di samping kamar tempat James menginap, memastikan bahwa Elenora tidak lagi berusaha untuk mengecohnya dan pergi melarikan diri seperti biasanya.