
Begitu melihat sosok Ornado sudah datang, Laurel segera berjalan kembali ke arah ruang santai yang ada di dekat kolam, dipisahkan oleh dinding kaca.
"Hai Ad, mana Cladia?" Begitu berada di dekat Ornado, Laurel segera menanyakan Cladia sambil matanya mencoba mencari sosok Cladia di belakang Ornado.
"Dia masih mandi. Aku pikir saat kamu menelpon tadi kalian masih di rumah sakit." Ornado berkata sambil mengambil posisi duduk di atas kursi bar, yang berjajar rapi di ruang santai itu, mengelilingi meja bar yang ada di sana.
(Kursi bar adalah kursi yang didesain khusus untuk tempat duduk di bar. Meski sekarang kursi jenis ini tidak hanya digunakan di bar saja. Kursi bar adalah kursi yang hanya cukup diduduki oleh satu orang serta memiliki kaki yang tinggi).
"Tidak Ad, aku sudah berada di dekat sini. Hanya saja tadi aku lupa menawarkan kepada Cladia apa yang sedang diinginkannya. Dia bilang dia ingin sekali makan soto ayam di jalan X. Kalau bukan itu dia tidak mau." Ornado sedikit mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari Laurel.
"Bukannya jalan itu tidak kalian lewati? Kenapa tidak membeli soto dari tempat yang lain saja supaya mudah? Kan banyak penjual soto yang lain? Lagipula, kalian keburu datang ke tempat ini. Biar aku minta sopirku untuk membelinya." Laurel langsung menarik lengan Ornado untuk menghalangi niatnya memanggil pelayannya.
"Ad, biarkan saja. Cladia ingin kami yang memberikan soto itu untuknya. Aku sudah meminta tolong Evelyn karena kebetulan dia sedang berada di dekat tempat itu, supaya Cladia merasa puas." Laurel berkata sambil tersenyum.
"Ah, jadi merepotkan kalian. Tapi kenapa Cladia jadi sedikit aneh? Kamu tahu Cladia bukan orang yang mudah meminta sesuatu kepada orang lain. Dia tipe wanita yang segan untuk meminta bantuan orang lain. Padaku saja dia masih sering bersikap segan dan pemalu." Perkataan Ornado membuat Laurel tertawa kecil.
"Aduh Ad, aku bukan orang lain bagi Cladia. Lagipula, sepertinya kamu harus bersiap, karena aku melihat, Cladia sedang mengalami ngidam karena pengaruh kehamilannya." Kali ini Ornado langsung membeliakkan matanya.
"Benarkah? Pantas saja dia bersikap tidak seperti biasanya. Selera makannya juga sedikit berubah." Ornado berkata sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
"Bukannya aku sudah pernah mengatakannya padamu beberapa waktu lalu ketika kamu bertanya tentang kebiasaannya yang agak aneh. Tapi Ad, sebenarnya aku penasaran sekali. Apa tindakan aneh yang kamu bilang tentang Cladia? Waktu itu kamu tidak mengatakannya dengan detail kepadaku." Mendengar pertanyaan Laurel, Ornado sedikit tersentak dengan wajah terlihat sedikit canggung.
Ist... bagaimana aku menceritakan tentang kebiasaan anehnya yang selalu sibk menciumiku setelah setiap aku selesai mandi? Kalau aku berani menceritakan hal seperti itu, kamu pasti akan meledekku habis-habisan. Dan jika Cladia mendengarnya, bisa-bisa malam ini dia tidak akan membiarkanku mendekatinya atau bahkan membuatku tidur di kamar lain malam ini. Padahal tidur di samping Cladia, dan menikmati keberadaannya di sisiku yang bukan sekedar mimpi merupakan hal yang selalu ingin aku lakukan setiap malam.
Ornado hanya bisa berkata dalam hati, tanpa berani menyampaikannya kepada Laurel.
"Hei, kenapa wajah kalian serius sekali? Apa yang sedang kalian bicarakan? Apa ada masalah?" Tiba-tiba Dave yang sudah selesai melakukan panggilan dengan adiknya langsung menyapa Ornado dan Laurel yang tampak serius.
"Ah, tidak, kami berdua sedang membicarakan tentang Cladia yang mulai ngidam." Laurel berkata sambil tersenyum dan menatap ke arah Dave yang langsung ikut tersenyum.
"Wah, mulai sekarang kamu harus bersiap dengan permintaan Cladia Ad. Dan jangan heran kalau sampai permintaannya kadang tidak masuk akal." Dave berkata sambil tersenyum dan menepuk lengan kanan Ornado.
"Eh, apa kamu juga mengalami hal yang sama denganku Dave?" Mendengar pertanyaan Ornado, Dave hanya tersenyum sambil melirik ke arah Laurel.
"Ingin sih merasakan hal itu seperti yang selama ini aku dengar dari para pasien klinik kandungan. Tapi sayangnya sampai sekarang Laurel tidak menunjukkan tanda-tanda ngidam." Laurel langsung tertawa mendengar perkataan dari Dave.
"Tidak semua wanita mengalami ngidam Ad, sepertinya aku salah satunya. Padahal kadang aku ingin juga mengalaminya, agar sekali-sekali bisa mengerjai Dave. Biar kalian para pria bisa sedikit merasakan repotnya kami para istri saat mengandung benih dari kalian." Laurel berkata dengan tawa masih terdengar dari bibirnya.
"Mo cuisle..." Dave langsung menyatakan protesnya dengan menyebutkan panggilan kesayangannya pada Laurel, membuat Laurel langsung tertawa tergelak.
"Tenang Dave, mana tega aku mengerjaimu tanpa alasan. Kecuali... terpaksa." Kali ini Ornado ikut tertawa mendengar bagaimana Laurel yang ceria selalu memiliki cara untuk membuat Dave yang pendiam menjadi salah tingkah kaena godaannya.
Sore itu Cladia terlihat segar dengan gaun berpotongan sederhana sebatas lutut, berwarna biru laut.
Kedatangan Cladia langsung membuat sebuah senyuman dan tatapan mesra terlihat pada Ornado.
Begitu Cladia berjalan mendekat ke arah mereka, wanita cantik itu langsung mengambil posisi berdiri di samping Ornado yang secara otomatis langsung melingkarkan lengannya di bahu Cladia dengan mesra, membuat Laurel dan Dave langsung tesenyum.
Laurel yang melihat bagaimana Ornado yang selalu bersikap mesra jika ada Cladia di dekatnya, tanpa perduli dengan keberadaan orang lain, hanya bisa mengulum senyum di bibirnya dengan sikap canggung dan salah tingkah.
Sosok Cladia dengan rambut hitam legamnya yang lurus, sepanjang sepinggang, dengan sosoknya yang begitu cantik dan kulit putih mulusnya, jika dia berdiri di samping Ornado yang tinggi badannya jauh di atasnya membuat Cladia seperti boneka barbie sedang berdiri di samping seorang pangeran tampan.
"Bagaimana kondisimu hari ini Cla? Apakah karena amnesiamu beberapa waktu lalu membuat kepalamu kadang masih terasa sakit jika mengingat sesuatu?" Dave yang hari ini sengaja datang berkunjung sekaligus hendak memeriksa bekas luka tembak di punggung Ornado, langsung sekalian menanyakan kondisi Cladia yang baru pulih dari amnesianya.
"Tidak juga Dave, hanya saja... menurut info, seharusnya dengan usia kehamilanku yang sudah lewat 3 bulan, kenapa aku masih sering merasa mual dan kadang tidak bisa menahan diriku untuk tidak muntah? Apakah itu akan baik-baik saja untuk bayiku?" Pertanyaan Cladia membuat Laurel segera meraih tangannya.
"Sini, biar aku yang menjelaskan padamu. Dave, kamu bisa memeriksa bekas luka pada Ornado. Aku akan mengajak Cladia berbincang santai di dekat kolam renang." Dave langsung mengangguk menyetujui ide dari Laurel.
"Ok, ayo Ad, kita selesaikan dulu urusan kita. Biar aku memeriksa perkembangan kesembuhan lukamu." Dave berkata sambil menepuk kembali lengan Ornado, sambil tangannya meraih tasnya yang berisi peralatan kedokterannya, yang tadinya dia letakkan di atas meja bar ketika menerima panggilan telepond ari Bryan.
Setelah Dave melakukan pemeriksaan terhadap luka di punggung Ornado, Dave maupun Ornado kembali bergabung dengan istri mereka yang tampak sedang berbincang dengan santai di tepi kolam renang.
Sampai dengan waktu makan malam, mereka berempat tampak menikmati waktu kebersamaan mereka. Bahkan Ornado dan Cladia meminta Dave dan Laurel untuk makan malam bersama mereka, dan tidak mengijinkan mereka untuk pulang sebelum menikmati makan malam bersama.
Dan begitu Laurel dan Dave melihat bagaimana Cladia menikmati soto ayam yang tadi diantar oleh Evelyn, mereka berdua tampak tersenyum lega sekaligus senang melihat wajah bahagia Cladia.
Sedang Ornado hanya bisa melihat dengan wajah keheranan karena baru kali ini dilihatnya Cladia terlihat begitu bersemangat saat menikmati makanannya, yang hanya berupa soto ayam, yang bagi Ornado adalah makanan yang sangat sederhana, dibandingkan dengan masakan tante Ema yang tampak mewah malam itu.
Akan tetapi, tidak sedikitpun Cladia terlihat menyentuh makanan-makanan mewah itu. Berbanding terbalik dengan Laurel yang terlihat menikmati kelezatan makanan yang disuguhkan malam itu.
Benar-benar dua wanita dengan usia kehamilan yang hampir sama, yang sepertinya memiliki kebiasaan yang berbeda.
# # # # # # #
James terlihat mondar-mandir di dalam kantor Ornado, membuat Ornado yang awalnya sedang berkonsentrasi pada layar komputer di depannya mengalihkan pandangan matanya dan melihat ke arah James yang tampak tidak tenang.
"James! Kalau kamu merasa frustasi, jangan di kantorku dong." Mendengar perkataan Ornado, James langsung berlari ke arah meja kerja Ornado.
"Ad, apa kamu tahu, paling tidak menyadari kamu ada di dekatku, membuat aku merasa lebih tenang." James langsung menanggapi perkataan Ornado dengan sikap tetap terlihat begitu gelisah.