
Perkataan Elenora membuat James tersentak kaget, tidak menyangka kalau Elenora berpikir bahwa dia menikahi Elenora hanya sekedar untuk mempermainkannya, dan untuk membuatnya jera karena tidak suka dengan rencana perjodohan mereka.
Ada rasa sakit yang begitu besar yang saat ini menghantam dada James begitu mendengar perkataan panjang lebar dari Elenora, yang selama ini biasanya tidak banyak bicara saat berada di dekat James.
James sungguh tidak menyangka bahwa dalam pikiran Elenora, ternyata dia adalah sosok pria yang begitu membencinya, dan sengaja ingin membalas dendam padanya, dengan memaksanya menikah dengannya, lalu menceraikannya, sehingga bisa mempermalukannya.
Selain itu, Elenora yang mengatakan bahwa dia akan pergi menghilang dari hidup James, membuat James mengeratkan giginya dengan sekuat tenaga.
Ele... tidak tahukah kamu bahwa aku melakukan semua ini karena aku begitu takut kehilangan dirimu? Dan baru saja kamu bilang kalau kamu ingin pergi dan menghilang dari kehidupanku selamanya? Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan Ele! Bisa-bisanya kamu berpikir untuk pergi dariku!
James berkata dalam hati sambil mengepalkan salah satu tangannya yang berada di atas sandaran sofa, menahan gejolak dalam hatinya, dan juga rasa sakit yang dia rasakan semakin menjadi dalam dadanya karena kata-kata Elenora yang menyebutkan bahwa Elenora bersedia pergi dan menghilang untuk selamanya dari hidup James, seolah dia bukanlah sosok yang penting bagi Elenora.
Rasanya James ingin sekali berteriak untuk menunjukkan amarahnya mendengar kata-kata Elenora yang baginya terdengar sangat tidak masuk akal, apalagi mendengar rencana Elenora ingin menghilang dari kehidupannya, membuat James merasakan otak dan hatinya memanas dalam waktu yang bersamaan.
Namun siang ini, wajah Elenora yang tampak begitu menyedihkan bagi James, dengan matanya yang mulai terlihat berair, akibat pikirannya yang begitu kacau, karena menganggap ini adalah rencana James untuk sekedar membalas dendam dan mempermainkannya, membuat James menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengerti apa yang sedang dialami dan dipikirkan oleh Elenora tentang penikahan mereka saat ini.
"Ele, bisakah kamu mengatakan padaku apa yang membuatmu menghilang dari kota Roma beberapa tahun yang lalu? Kenapa kamu tidak menepati janjimu untuk menenamiku pergi ke pesta dan justru menghilang?" Akhirnya James berusaha mengatakan pertanyaan itu tanpa menunjukkan emosinya, agar Elenora mau memberikan penjelasan padanya tentang peristiwa yang sempat membuat James sakit hati dan begitu kecewa pada Elenora.
Namun siapa sangka jika pertanyaan James justru membuat Elenora akhirnya benar-benar menangis keras, dengan kepala tertunduk, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berulang-ulang.
Pikiran Elenora yang sedang kacau, hatinya yang merasa kecewa karena berpikir James sedang mempermainkannya, dan sekarang James membuatnya terpaksa mengingat kembali kejadian mengerikan malam itu, membuat tangis Elenora pecah tanpa bisa ditahannya lagi, dengan tubuhnya yang langsung mundur menjauhi James dan wajah terlihat sedikit ketakutan.
Hal itu membuat James benar-benar kaget, karena tidak menyangka kalau reaksi Elenora akan seperti itu saat dia menanyakan tentang kejadian hari itu.
Untuk beberapa saat James terdiam di tempatnya, dengan memandang ke arah Elenora yang menangis hingga tubuhnya terlihat berguncang.
"Ele... maaf...." Akhirnya James mendekat dan berusaha merengkuh Elenora dalam pelukannya, ingin menenangkan Elenora, dan ingin agar gadis itu menghentikan tangisnya.
Namun gerakan tangan James yang terulur ke arah bahunya, justru membuat Elenora kembali menggeser duduknya, menjauhi James, dengan tangan yang bergerak, berusaha menepis tangan James yang terulur ke tubuhnya.
Saat ini Elenora tidak tahu apalagi yang harus diperbuatnya, karena pertanyaan James sungguh mengingatkannya pada malam yang baginya selalu menjadi mimpi buruk baginya.
Dan juga kondisi emosinya yang sedang teraduk-aduk karena James baru saja memaksanya menandatangi akta pernikahan mereka, membuat Elenora benar-benar tidak bisa menahan emosi yang terasa sangat menyesakkan dadanya itu.
Elenora masih bisa merasakan betapa jijiknya dia, saat jari-jari kasar laki-laki itu menyentuh kulit dadanya, dan dengan gerakan paksa yang begitu kasar menarik gaun indah yang dikenakannya hingga terkoyak.
Dan saat ini, James menanyakan padanya tentang kejadian malam itu yang baginya merupakan trauma, sekaligus aib yang berusaha dia tutup dengan serapat mungkin, bahkan pada kedua orangtuanya.
Sehingga yang orangtuanya tahu, saat itu ada beberapa pemuda yang menyerang Elenora, tapi bagaimana Elenora bisa selamat dan siapa yang menolongnya, hingga detik ini Elenora masih membungkam mulutnya sendiri terhadap semua orang.
Rasa malu, jijik, takut, yang bercampur aduk dalam hati Elenora yang merupakan gadis pendiam, membuat dia memilih untuk bungkam.
Apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu? Apa kamu sudah mengalami sesuatu yang begitu buruk? Apa yang terjadi hingga reaksimu seperti ini? Apa ada seseorang yang sudah berani menyakitimu?
James berkata dalam hati tanpa berani mengucapkan semua pertanyaan dalam hatinya yang silih berganti memenuhi otaknya.
Melihat reaksi Elenora, akhirnya James hanya mengelus kepala Elenora dengan lembut, berharap tindakannya itu, paling tidak bisa membuat Elenora tenang, dan mengurangi rasa ketakutan Elenora.
Setelah melihat Elenora lebih tenang, namun masih sesenggukan, akhirnya James memanggil Matilda dan memerintahkan kepadanya untuk mengajak Elenora untuk beristirahat di salah satu kamar, dari 3 kamar kosong yang ada di sana, karena James bisa memastikan kalau melihat apa yang terjadi barusan, Elenora tidak akan mau tidur dalam satu kamar dengannya.
Meskipun sebenarnya James tidak akan merasa keberatan jika Elenora memilih kamar yang sama dengannya. Sayangnya, itu hanyalah sekedar angan-angan dari James.
Dan kamar yang dipilih oleh Elenora, adalah kamar yang jaraknya paling jauh dari kamar James.
Untuk keputusan Elenora saat ini, hanya bisa membuat James terdiam, sebab tidak ingin membuat situasi bertambah kacau, karena mata dan wajah bengkak Elenora akibat terlalu lama dan keras menangis masih terlihat begitu jelas.
# # # # # # #
Elenora yang sudah tidak lagi menangis hanya bisa duduk termenung di kursi, dengan mata menatap ke arah jendela kamarnya yang mengarah langsung ke arah kota dengan pemandangan langit yang mulai redup karena waktu yang beranjak malam.
Sibuk dengan pikirannya sendiri yang masih kacau dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya, membuat Elenora tidak perduli saat Matilda dan Lucy, salah satu asisten rumah tangga lainnya yang masih muda itu, sibuk keluar masuk ke dalam kamarnya untuk memasukkan dan menata barang-barang milik Elenora, termasuk puluhan pakaian yang sengaja dibelikan oleh James untuk Elenora.
Bahkan Elenora tidak sadar setelah mendapatkan perintah dari James, Matilda dan Lucy menyingkirkan semua pakaian Elenora yang ada, menggantinya dengan semua pakaian yang sudah dibelikan oleh James.
Satu-satunya yang bisa membuat Elenora bergerak dan langsung berlari ke arah Matilda adalah saat Elenora tanpa sadar melirik ke arah Matilda yang sedang berusaha membuka koper kecil yang berisi jas milik James yang selalu disimpan oleh Elenora dengan baik.