
"Jer, aku mengerti sekali dengan perasaanmu, tapi apa kita tidak perlu mencoba untuk menyelidik siapa sebenarnya pengirim pesan-pesan tidak bertuan itu? Kalau dia bisa mengatakan tentang masalah kecelakaan itu, bisa jadi, dia juga mengetahui siapa dalang dibalik semua ini. Atau mungkin dia sendiri adalah pelakunya, dan sedang ingin melemparkan tanggung jawab kepada orang lain?" Niela berkata sambil mengelus lengan atas tangan kanan Jeremy, yang langsung memegang tangan Niela dengan erat, merasa bersyukur bahwa calon istrinya itu merupakan seorang wanita yang selalu bisa menjadi orang yang menguatkannya saat dia sedang menghadapi dilema.
"Aku sempat berpikir seperti itu. Dan untuk bisa mendapatkan info tentang siapa orang itu, sepertinya aku harus meminta bantuan dari Ad, yang memiliki jauh lebih banyak pengalaman dalam menemukan info yang mungkin bagi beberapa orang terdengar mustahil untuk didapatkan. Setelah Ad dan Cladia pulang dari berlibur, aku akan segera membahasnya dengan Ad." Jeremy menjawab pertanyaan Niela sambil menghela nafasnya.
# # # # # # #
James melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Sambil menghela nafas lega, James memutar tubuhnya yang sedang duduk di kursi kerjanya ke samping kiri dan samping kanan, untuk mengurangi rasa penat karena cukup lama dia duduk di kursi kerjanya untuk menyelesaikan perkerjaannya.
Setelah itu James mendongakkan kepalanya, lalu dengan sengaja memutar kepalanya ke samping kanan dan samping kiri hingga terdengar suara klek yang membuatnya justru merasa nyaman.
Begitu selesai melakukan ritual menghilangkan penatnya, James langsung memandang ke arah kaca yang ada di sebelah kanannya, untuk melihat sosok Elenora yang sedang menunggu lembaran kertas yang keluar dari printer untuk diserahkan kepada James.
James kembali teringat bagaimana tadi dia sempat memaksa Elenora untuk memakan bekal yang dikirim oleh Matilda karena James tahu pasti bahwa dia dan Elenora harus lembur agar dapat mengejar waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum berangkat ke kota B.
Awalnya Elenora mengatakan bahwa dia akan makan setelah membereskan semua pekerjaannya, namun James yang yakin jika nantinya Elenora akan melewatkan makan malamnya karena sudah terlalu malam, laki-laki itu tetap memaksa Elenora untuk makan, meskipun akhirnya James harus mengalah mereka makan secara terpisah karena Audrey yang ikut lembur, untuk membantu Elenora menyelesaikan tugas-tugasnya.
Karena alasan itu juga, untuk makan malam James sengaja meminta Matilda mengemasnya dalam kotak plastik untuk sekali pakai, dan juga membuatkannya untuk Audrey juga, agar gadis itu tidak curiga kenapa James sudah mengaturkan makan malam istimewa yang sebenarnya untuk Elenora saja.
"Hah, sepertinya sebentar lagi Ele sudah menyelesaikan pekerjaannya." James bergumam pelan sambil tersenyum, melihat Elenora yang tanpa sadar sedang diawasi oleh James, melepas kacamatanya, dan memijat bagian tengah dahinya untuk bis mengurangi rasa penat di matanya karena seharian melihat ke arah layar komputer.
Melihat Elenora melepaskan kacamatanya, tanpa sadar James bangkit berdiri, berniat mendekat ke arah Elenora, tapi begitu disadarinya hanya ada Audrey di sana, James menghembuskan nafas lega, dan kembali duduk di kursi kerjanya.
"Huft... untung saja Elenora tidak melepaskan kacamatanya di depan anak kemarin sore itu." James berkata pelan sambil mengangkat gagang telepon untuk menghubungi telepon kantor milik Elenora.
"Iya pak James." Elenora langsung menjawab panggilan telepon dari James, sebelum telepon itu berbunyi lebih dari 3 kali.
"Apa semuanya sudah selesai dicetak?"
"Hanya tinggal beberapa lembar lagi, namun Audrey masih melakukan beberapa revisi terhadap kontrak kerjasama dengan Bintang Anugrah." Elenora berkata sambil melirik ke arah Audrey yang langsung memberikan kode bahwa sebentar lagi dia sudah selesai.
"Oke, serahkan di mejaku kalau sudah selesai." James berkata sambil matanya tetap menatap ke arah Elenora dari balik jendela kantornya.
Tidak berapa lama kemudian, baik Audrey maupun Elenora sudah menyerahkan tumpukan berkas itu di hadapan James.
James berkata sambil memandang tumpukan berkas di depannya dengan pandangan sedikit malas.
Eh, bukankah masih ada berkas dari Dea yang belum aku kerjakan? Kalau begitu biarkan saja aku menunda keberangkatanku barang sehari saja.
James berkata dalam hati sambil menyunggingkan senyum karena menemukan alasan untuk menunda kepergiannya meskipun mungkin yang bisa dilakukan hanya bisa menunda kepergiannya selama sehari saja.
"Pak, semua sudah selesai, siap diperiksa dan beberapa dokumen memerlukan tanda tangan dan paraf dari Pak James." Melihat James hanya terdiam menatap tumpukan kertas di depannya, Audrey segera memberikan penjelasan kepada James tentang tumpukan kertas itu.
Karena bagaimanapun, Audrey juga sudah cukup merasa lelah dan ingin segera pulang, dan menikmati nyamannya kasur di kamarnya, apalagi hari ini, adiknya yang sedang kuliah di luar kota datang mengunjunginya.
Bahkan rasa lelah membuat Audrey beberapa kali berusaha menyembunyikan bibirnya yang hampir saja mempertunjukkan dirinya yang ingin menguap.
"Ah, ya, besok saja kita lanjutkan. Aku juga sudah sangat lelah. Kalian bisa bersiap untuk pulang ke rumah." Akhirnya James berkata sambil mengambil berkas-berkas itu, dan meletakkannya dalam laci meja kerjanya, lalu menguncinya, dan memasukkan kunci tersebut dalam tas kerjanya.
Begitu mendengar perintah dari James, baik Elenora maupun Audrey langsung menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, selamat malam Pak James." Dengan sopan Audrey berpamitan pada James, dan melalui gerakan pupil matanya mengajak Elenora untuk ikut meninggalkan ruangan James.
Melihat Elenora berjalan membututi Audrey, dengan cepat James berusaha memutar otaknya agar hari ini dia tidak perlu pulang sendirian tanpa Elenora.
Karena tidak ingin orang curiga dengan hubungan mereka berdua, James tahu kalau Elenora sengaja tidak mau terlihat bersama dengannya dalam satu mobil, baik saat berangkat ataupun pulang kerja.
Dengan sedikit bergegas, James keluar dari kantornya, dan berjalan melewati meja kerja Elenora sambil menatap tajam ke arah Elenora.
Elenora bukannya tidak sadar bahwa James sedang menatapnya tanpa henti, namun Elenora sengaja tetap menundukkan kepalanya, dan berpura-pura sedang begitu serius membereskan meja kerjanya sebelum pulang.
Dengan sedikit bersiul, James masuk ke dalam lift pribadi yang biasanya hanya dipakai oleh Ornado, Cladia, Fred, dan tentunya dirinya.
Apa kira-kira yang bisa aku lakukan agar tanpa dicurigai oleh orang lain, aku dan Ele bisa selalu bersama saat berangkat dan pulang kerja. Ah, ya... aku tahu.
James berkata dalam hati sambil tersenyum dengan wajah bangga.
Saat berada di dalam lift, sesekali James memperlihatkan senyum malu-malu di wajahnya, karena sudah berhasil menemukan bagaimana caranya agar mulai sekarang, baik berangkat maupun pulang kerja, James bisa selalu bersama dengan Elenora.