My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
TRAGEDI NASI GORENG (1)



Untuk kegiatan lain di luar itu, yang dianggap bukan sebagai hal utama yang harus dipelajari untuk dapat menjadikannya sukses sebagai seorang pengusaha hebat, tidak pernah diajarkan dan dilakukan oleh Ornado.


Dan kegiatan seperti membersihkan rumah, berkebun, apalagi memasak, tidak pernah sekalipun dilakukan oleh seorang Ornado Xanderson.


Bahkan boleh dikata, Ornado yang merupakan seorang pewaris tunggal dari Grup Xanderson, tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di dapur, bahkan hanya untuk melihat bagaimana para pelayan dan koki di rumahnya bekerja.


Dan sekarang, istri tercintanya yang sedang mengandung bayi mereka, tiba-riba saja memintanya untuk memasak nasi goreng untuknya? Dia yang bahkan tidak pernah kenal dan tahu nama dan bagaimana cara menggunakan peralatan masak yang ada di dapur?


Tanpa sadar Ornado menelan ludahnya sendiri begitu mendengar permintaan dari Cladia yang baginya jauh lebih sulit dari memenangkan tender bernilai triliunan rupiah, atau bahkan menembak seorang penjahat kelas kakap, sekelas mafia dari Italia.


Malam ini aku ingin sekali memakan nasi goreng itu. Nasi goreng yang harus dibuat sendiri oleh Al dengan tangannya. Ah, kenapa gara-gara masalah sekecil ini rasanya aku begitu ingin menangis? Hanya karena tidak bisa mendapatkan nasi goreng buatan Al? Kenapa aku menjadi manja sekali? Apa aku sudah menjadi wanita yang begitu merepotkan buat Al?


Cladia berkata dalam hati sambil mengalihkan wajahnya dari tatapan mata Ornado yang masih terpaku di tempatnya dengan wajah bingung.


Rasanya sejak hamil, Cladia merasa moodnya seperti roller coaster yang naik turun dan tidak bisa dia kendalikan, padahal sebelumnya Cladia merupakan sosok perempuan yang tenang dan selalu bisa mengendalikan emosinya dengan sangat baik.


(Roller coaster adalah wahana permainan berupa kereta yang dipacu dengan kecepatan tinggi pada jalur rel khusus, biasanya terletak di atas tanah yang memiliki ketinggian yang berbeda-beda. Rel ini ditopang oleh rangka baja yang disusun sedemikian rupa. Wahana ini pertama kali ada di Disney Land Amerika Serikat. Dalam hitungan detik dia akan bergerak naik turun dengan cepat sehingga memicu adrenalin. Dibanding pria, wanita secara alamiah memang rentan terhadap perubahan mood. Psikiater sekaligus penulis buku, Julie Holland, pun mengungkapkan dalam bukunya bahwa ada banyak alasan yang membuat mood wanita seringkali naik turun seperti roller coaster. Pada wanita, moody sangatlah erat kaitannya dengan hormon. Sebab dalam hidupnya, wanita memiliki banyak fase perubahan hormon dalam tubuh. Fase-fase itu antara lain masa puber, premenstrual syndrome (PMS), kehamilan, masa setelah melahirkan, dan saat menopause).


"Ah, kalau terlalu sulit bagimu, lupakan saja permintaanku barusan." Cladia berkata dengan suara pelan, namun tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan rasa kecewanya karena Ornado tidak mengiyakan permintaannya.


Dan wajah Cladia yang seperti itu, mana bisa Ornado berdiam diri tanpa melakukan sesuatu. Ornado yang begitu mencintai istrinya melebihi dirinya sendiri, tentu saja tidak akan tega membiarkan kekecewaan memenuhi wajah cantik istrinya itu.


"Tidak amore mio, biarkan aku memasaknya untukmu, tapi aku tidak bisa bertanggungjawab terhadap hasilnya nanti...." Ornado mengakhiri kata-katanya sambil mengusap tengkuknya dengan telapak tangannya, karena jujur saja, saat ini dia benar-benar bingung dengan apa yang diminta Cladia padanya.


Dan Ornado sungguh bingung bagaimana dia bisa memberikan apa yang diminta oleh Cladia, sedangkan sekalipun dia belum pernah melakukan hal seperti itu.


"Benarkah? Terimakasih Al. Kamu baik sekali padaku." Mendengar perkataan Ornado, wajah Cladia langsung terlihat cerah, seperti seorang anak kecil yang mendapatkan permen dari orangtuanya.


Tanpa sadar, karena merasa begitu senang, begitu Ornado menyatakan kesediaannya untuk memasak nasi goreng untuknya, Cladia langsung menabrak tubuh Ornado, berjinjit dan langsung melingkarkan kedua lengannya ke leher suaminya, dan memeluk leher Ornado dengan erat.


Bahkan tanpa ragu, Cladia bergelayut dengan manja sambil memeluk leher Ornado yang langsung tertawa kecil sambil membalas pelukan Cladia sekaligus mengelus-elus punggung Cladia dengan lembut.


Sejak kamu hamil, sepertinya karena pengaruh hormon kehamilanmu, semakin hari kamu terlihat semakin manja padaku. Dan aku sungguh menyukai perubahanmu itu amore mio. Aku berharap semakin hari kamu semakin membuka dirimu dan menjadikan aku sebagai tempat pertama yang akan kamu tuju saat kamu menghadapi sesuatu dan membutuhkan apapun.


Ornado berkata dalam hati sambil mengecup puncak kepala Cladia sekilas, sebelum akhirnya menggerakkan tangannya, memegang kedua lengan Cladia yang masih melingkar di lehernya, dan melepaskannya dengan lembut.


Cladia memandangi wajah Ornado, dengan wajah terlihat begitu ceria, setelah itu Cladia menarik lengan Ornado, dan dengan sikap sedikit menyeretnya membawanya bergegas keluar dari kamar mereka untuk pergi menuju dapur.


Begitu mereka berjalan ke arah dapur, penjaga rumah yang kebetulan melihat mereka langsung memberikan info kepada para pelayan yang sebanarnya, sebagian dari mereka sudah bersiap untuk beristirahat di kamar mereka, karena biasanya, di atas jam 10 malam para majikan mereka jarang yang keluar dari kamarnya lagi.


Namun itu dulu ketika nyonya besar mereka, Cladia belum mengalami ngidam.


Beberapa waktu ini, Cladia seringkali makan di tengah malam, walaupun hanya sekedar makanan ringan, itupun kadang dia memuntahkannya kembali ketika rasa mual menyerangnya secara tiba-tiba dan tidak bisa ditahannya lagi, sehingga Cladia sempat kehilangan banyak berat tubuhnya ketika di bulan-bulan awal kehamilannya.


“Selamat malam Tuan.” Seorang pelayan berusia setengah baya, yang merupakan kepala pelayan di rumah itu langung mendekat dengan tergopoh-gopoh begitu melihat kehadiran kedua majikannya di area dapur.


“Apa yang bisa kami bantu Tuan?” Pelayan itu langsung menyalakan semua lampu dapur sehingga ruangan itu terlihat langsung terang benderang.


Empat orang pelayan yang lain, yang sedari tadi mengikuti di belakangnya berdiri di salah satu sisi ruang dapur sambil menunggu perintah selanjutnya.


“Nyonya Cladia ingin nasi goreng.” Ornado berkata sambil matanya menatap ke arah lemari sekelilingnya, mencoba berpikir dengan cepa tapa saja peralatan dan bahan yang diperlukannya untuk bisa membuat sepiring nasi goreng untuk istrinya.


“Kalau begitu, saya akan segera panggilkan koki yang bertugas malam ini.”


“Tidak perlu, aku sendiri yang akan memasak buat nyonya Cladia.” Perkataan Ornado jelas saja membuat bukan hanya kepala pelayan, namun empat orang pelayan yang berada di ruangan itu melongo dengan wajah tidak percaya.


“Eh…?” Kepala pelayan itu terlihat semakin bingung ketika melihat bahwa apa yang dikatakan oleh majikannya benar-benar serius.


“Tunjukkan padaku dimana kalian menyimpan alat masak.” Ornado berkata sambil matanya memandang ke arah 2 kulkas berukuran besar, berupa kulkas dua pintu kanan kiri.


“Silahkan Tuan.” Kepala pelayan itu segera membuka sebuah lemari stainless berukuran besar, dimana begitu dia membukanya, tampak segala jenis peralatan masak mulai dari ukuran yang kecil sampai terbesar.


Mulai dari peralatan masak berbahan kayu sampai dengan stainless stell. Baik peralatan untuk masak atau membuat kue.


Bahkan untuk masing-masin ukuran dan bahan dari peralatan itu, tersedia lebih dari satu biji, membuat Ornado semakin kebingungan, tidak tahu bagaimana harus memilih mana yang cocok untuk memasak nasi goreng.


Dann tanpa diketahui oleh siapapun, saat ini bahkan Ornado merasa gugup dan gelisah, karena baru kali ini dia yang biasanya selalu percaya diri karena kemampuannya, merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa.