
“Maaf James….” Elenora kembali mengulang kata-katanya, walaupun James menunjukkan wajah tidak senang mendengar kata maaf dari bibirnya.
Elenora tahu, sebenarnya pekerjaan sebagai seorang asisten yang lebih banyak berhubungan dengan berkas dan juga mengatur jadwal, sekaligus memastikan semua keperluan pimpinannya siap dan terlihat sempurna, bukanlah keahliannya.
Elenora yang sedari kecil menyukai bidang IT, lebih suka dengan sesuatu yang hubungannya dengan komputer. Baik melakukan setting, maupun melakukan analisa data maupun pengkodean dalam sebuah sistem jaringan komputer.
Bahkan tanpa diketahui oleh siapapun termasuk kedua orangtuanya, Elenora begitu ahli dalam meretas data dan melakukan kloning data maupun migrasi data terhadap data dimanapaun data itu berada selama data itu memakai sistem jaringan dan internet.
(Kloning data adalah menggandakan suatu data dari satu komputer ke komputer lain, biasanya tidak disadari oleh pemilik data. Sedangkan migrasi data adalah memindahkan data dari satu tempat ke tempat yang lain, dan menghapuskan data yang ada di temapt lama).
Tidak akan lebih dari satu menit untuk Elenora dapat dengan mudah membuka password komputer yang terkunci serapat dan secanggih apapun.
Sayangnya, untuk saat ini, Elenora harus menyimpan kemampuannya, dan belajar untuk menjadi seorang asisten yang baik bagi James.
“Hah…. Sudahlah. Sekarang cepat perbaiki surat kontrak ini dan cetak kembali secepatnya sebelum aku menyerahkan pada Ornado. Dia harus segera menandatangani berkas-berkas ini.” Akhirnya James memerintahkan kepada Elenora untuk memperbaiki kembali isi dari surat kontrak kerjasama itu.
“Ba… baik. Aku akan lebih hati-hati ke depannya dan memastikan hal seperti ini tidak akan terulang lagi.” Dengan sikap ragu dan gugup, Elenora berkata sambil menggerakkan tangannya yang sedikit bergetar ke arah kertas yang harus dia revisi isinya.
“Dan satu lagi Elenora. Kita sudah sepakat bahwa selama kamu bekerja di tempat ini, tidak boleh terlihat apalagi terdengar tentang rencana perjodohan antara kita berdua. Jadi, mulai sekarang, panggil aku dengan sebutan pak James, seperti yang dilakukan oleh orang lain.” Elenora sedikit menarik nafas panjang mendengar perintah dari James barusan.
Sepertinya kamu benar-benar ingin semakin menjaga jarak denganku James. Ah… pada akhirnya mungkin aku memang harus menyerah tentang rasa cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Aku akan berusaha selama masih ada kesempatan, sampai pada akhirnya aku menyerah karena tidak lagi memiliki kekuatan dan harapan.
Elenora berkata dalam hati sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti dengan perintah James barusan.
Setelah itu dengan langkah sedikit bergegas, Elenora berjalan keluar dari kantor James.
“Aist…. Bener-benar merepotkan. Aku sungguh berharap bisa segera membuat Elenora menjauh dari sisiku dan membatalkan perjodohan kami. Tapi melihat bagaimana dia melakukan kesalahan seperti itu, bagaimana ke depannya dia bisa bekerja dengan baik di tempat lain? Kalau di perusahaan lain bisa jadi dia dimaki-maki habis oleh pimpinanya tanpa ampun. Bagaimana gadis sepintar dia dalam bidang akademik, selalu terlihat gugup dan tidak percaya diri dalam bekerja?” James bergumam pelan, sambil tangannya memijat pelan kedua keningnya yang terasa tidak nyaman akibat peristiwa barusan.
Walaupun James begitu menentang perjodohannnya dengan Elenora, bagaimanapun James sudah cukup lama mengenal Elenora dan keluarganya.
Bagi James, Elenora, merupakan seorang gadis culun yang James tahu sebenarnya adalah gadis pendiam dan baik hati, yang tidak pernah berbuat hal aneh ataupun memalukan keluarganya.
James tulus berharap, meskipun mereka tidak terikat dalam sebuah pernikahan kelak karena perjodohan, James berharap Elenora bisa hidup dengan baik bersama laki-laki yang mencintainya.
Dan James tahu, dia bukan laki-laki yang mencintai Elenora, jadi lebih baik dia segera mencari cara agar perjodohan ini segera batal agar Elenora bisa menemukan laki-laki yang mencintai dan dicintainya.
“Haist…. Kenapa aku justru mengkhawatirkan Elenora di saat seperti ini?” James berkata pelan sambil berdecih, sebelum akhirnya mengambil berkas-bekas yang lain, yang tadinya diberikan Elenora kepadanya, berharap tidak ada kesalahan lagi yang ditemukannya, atau dia akan benar-benar tidak lagi bisa menahan amarah dan rasa kecewa dengan kinerja Elenora.
# # # # # # #
Aku memang pantas dimarahi oleh James. Akh… bagaimana bisa aku bersikap seceroboh itu? Membiarkan salah penulisan bahkan bukan sekedar pada kata-kata dalam surat kontrak, tapi jumlah angka kontrak, Benar-benar kesalahan fatal.
Elenora berkata dalam hati sambil memandangi kertas dimana ada coretan tinta berwarna merah tepat di angka yang salah tadi.
Coretan yang dilakukan James sambil menunjukkan kesalahan fatal yang sudah dilakukannya di hari pertama dia bekerja sebagai asisten James.
Sungguh memalukan, Bahkan di hari pertamaku bekerja sebagai asistennya, sudah melakukan kesalahan sebesar ini.
Lagi-lagi Elenora berkata dalam hati sambil menghela nafasnya, dengan kepala yang tertunduk memandang kertas di hadapannya itu, sambil menahan kepalanya dengan kedua tangannya yang saling bertaut dan menempel di keningnya.
Bagi Elenora kemarahan James adalah sesuatu yang wajar, hanya saja ketika James meminta dia memanggilnya pak James, sungguh membuatnya merasa semakin jauh dari James.
Elenora kembali teringat tentang file surat kontrak yang diberikan oleh Dea tadi sebelum dia menyerahkannya kepada James.
Dea sebagai admin yang bertugas mengurusi bidang legal dan surat menyurat antara perusahaan dengan pihak luar, tadi mendapatkan perintah dari James untuk menyerahkan file surat perjanjian kontrak kerjasama antara Bumi Asia dan pihak luar kepada Elenora.
James ingin Elenora sebagai asistennya yang baru memang bisa menunjukkan performa kerjanya dengan baik sebagai asistennya atau dia harus mengundurkan diri karena ketidakmampuannya.
Aku tahu awalnya ketika menerima copy dari file itu memang ada kesalahan di angka kontrak yang tertulis. Dan aku sudah memperbaikinya. Tapi sepertinya aku tidak melakukan cek ulang dan tidak menyimpan perubahan file itu, sehingga saat aku mencetaknya tetap tertulis angka yang keliru itu. Dan parahnya, aku tidak mengecek hasil print itu dan langsung menyerahkannya ke meja James. Ah… memang aku terlalu teledor hari ini. Mungkin karena aku begitu senang bisa bekerja bersama James, membuat pikiranku tidak tenang dan tidak fokus. Dadaku selalu saja berdebar-debar bila berada di dekatnya.
Elenora mencoba mengingat-ingat dalam hati, kejadian yang membuatnya melakukan kesalahan itu.
Yang pada akhirnya, Elenora harus mengakui bahwa itu terjadi murni karena ketidaktelitiannya dalam bekerja.
“Elen.” Dodi memanggil nama Elenora sambil meletakkan segelas jus stroberi di atas meja Elenora.
Mendengar panggilan dari Dodi yang meletakkan gelas plastik berisi jus stroberi dengan sedotan sudah tertancap, menembus seal gelas itu, membuat Elenora langsung mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Dodi dengan tatapan sedikit heran.
“Minumlah untuk menyegarkan pikiranmu. Sepertinya, kamu suntuk sekali setelah keluar dari kantor pak James.” Dodi berkata sambil tersenyum, dengan tangannya mengarah kepada gelas berisi jus itu, dengan sikap mempersilahkan Elenora untuk meminum jus itu.
“Eh… tidak perlu repot-repot. Aku baik-baik saja. Minum saja jus itu untukmu.” Elenora berkata sambil mendorong gelas berisi jus itu ke arah Dodi.
“Ah ya, Elen. Kalau kamu menolak jus itu karena sedotan yang sudah aku tusukkan ke sana. Jangan khawatir, aku belum meminumnya kok. Itu… masih benar-benar baru. Itu bukan bekasku.” Elenora sedikit tersenyum geli mendengar perkataan Dodi yang berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa jus itu benar-benar belum dicicipinya, dan bukan bekasnya.
Padahal Elenora menolak jus itu karena merasa tidak enak hati dengan Dodi, kenapa dia harus mengorbankan jus miliknya untuk menghiburnya.