My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SALAM MANIS YANG MENYESAKKAN DADA



Serafina mendengus kesal dengan berusaha untuk tidak diketahui oleh kedua laki-laki itu, takut jika mereka tersinggung dan berakhir dengan memaksanya untuk turun di tengah jalan.


Lagipula, dia tidak tahu kemana arah Ornado dan rombongan yang lain pergi untuk melakukan perjalanan selanjutnya menggunakan helikopter.


Rasanya saat ini Serafina ingin berteriak dan memaki orang lain sepuas hatinya menyadari kondisinya yang baginya sangat memalukan saat ini.


Dengan gerakan yang menunjukkan rasa kesalnya, Serafina memukul kotak yang berukuran cukup tinggi di sampingnya yang membuat duduknya harus begitu menempel di pintu mobil jika ingin tetap ikut dalam mobil berisi penuh barang itu.


“Aduh….” Serafina berteriak kecil.


Akibat gerakannya barusan, kotak yang baru saja dipukul itu jutru miring ke arah Serafina dan menimpa kepalanya, membuatnya terpekik kecil.


“Nona baik-baik saja?” Laki-laki yang sedang menyetir di sebelahnya langsung menoleh dari balik tumpukan karton di antara dia dan Serafina yang langsung memberikan tanda gerakan ke melambai-lambai ke kanan dan ke kiri untuk mencegah laki-laki itu terus menoleh ke arahnya, karena jalan mobil jadi mengular karena dia sibuk mencari celah untuk bisa melihat ke arah Serafina, dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.


Hari ini aku benar-benar sial. Rencanaku untuk berduaan dengan James gagal total. Dan bisa-bisanya seorang model terkenal seperti aku berada dalam mobil barang seperti ini, dengan posisi terjepit barang dari segala arah. Aku ingin memesan taksi, tapi kalau aku harus menunggu taksi itu datang, jangan-jangan aku akan benar-benar tertinggal oleh mereka.


Serafina mengomel dalam hati, tanpa bisa berbuat apa-apa, karena dia tahu jika dia menolak, dia justru tidak akan memiliki kesempatan untuk ikut berlibur di pantai dan mendapat kesempatan untuk mendekati orang-orang penting itu.


Sebuah tarikan nafas yang panjang, dilakukan oleh Serafina yang hanya bisa menerima nasib ketika tadi kedua pria itu memindahkan sebagian barang, diantara dia dan pengemudi mobil, hingga dia hanya bisa duduk dengan kursi yang setengahnya terisi kotak-kotak barang, dan menghimpit tubuhnya.


Kotak-kota itu tidak bisa membuatnya bebas bergerak sampai beberapa saat, hingga membuat tubuhnya tidak nyaman dan kebas, karena harus menahan posisi tubuhnya dalam posisi yang sama untuk waktu yang cukup lama, karena tidak ada ruang untuknya bergerak.


# # # # # # #


"Hallo." Elenora yang sedang melangkah di belakang James, langsung mengangkat panggilan telepon dari Tina yang langsung menyapanya dengan suara yang terdengar begitu hangat.


"Aku baik-baik saja Tina, bagimana kabar kalian di sana?" Suara Elenora yang membalas perkataan Tina, membuat James mengernyitkan dahinya, mendengar bahwa sekarang Elenora sedang berbincang dengan Tina.


Sedangkan seingat James, Tina dan Dodi sedang mengikuti pelatihan yang diadakan perusahaan, sehingga James tahu kalau Tina mungkin saat ini juga sedang bersama Dodi, menimbulkan rasa tidak suka dalam hati James.


"O, ya? Dodi juga ikut pelatihan bersamamu? Semoga kalian menikmati kegiatan kalian kali ini." Tepat ketika Elenora menyebutkan nama Dodi, membuat James tiba-tiba menghentikan langkahnya, sehingga Elenora yang sedang fokus pada panggilan teleponnya, langsung menabrak punggungung James.


"Akh...." Sebuah teriakan kecil membuat Tina langsung mempertanyakan apa yang sudah terjadi, kenapa Elenora terpekik seperti itu.


Namun, Elenora tidak berani menjawab pertanyaan Tina.


"Ma... maaf Pak James." Elenora berkata dengan sikap canggung, apalagi melihat akibat tabrakan tadi, pelembab bibirnya yang sedikit membawa warna, tanpa sengaja menempel di pakaian James yang kebetulan berwarna putih, pada bagian punggung, membuat mata Elenora yang baru saja melihatnya langsung terbeliak kaget, dan itu menambah sikap gugupnya.


James yang masih terdiam di tempatnya tampak sedikit mendengus dengan wajah kesal.


Karena posisi James yang tadi sengaja memperlambat langkah kakinya ketika Elenora menerima panggilan telepon tadi, James bisa mendengar dengan jelas kata-kata terakhir Tina bahwa Dodi menitipkan salam manis untuk Elenora.


Dan itu cukup membuat telinga panas dan dada James terasa sedikit sesak.


"Ma... af Pak... James." Elenora segera mengulang kembali perkataannya untuk meminta maaf kepada James dengan suara terbata-bata, dan mata tetap memandang ke arah pakaian James yang terkena pelembabnya, membentuk gambar bentuk bibirnya.


Pak James? Apa karena begitu senangnya setelah menerima salam dari Dodi, dia bahkan kembali memanggilku pak James saat tidak ada orang lain di sini. Beraninya Dodi menitipkan salam padanya! Cih... salam manis untuk Elenora? Sembarangan saja! Apa tidak ada gadis lain untuk bisa dia beri salam? Kenapa harus Elenora?


James mengomel dalam hati dengan wajah kesal, apalagi jika dia ingat bagaimana Dodi yang seringkali memanggil Elenora dengan sebutan "Elen."


"Waktu kita sudah tidak banyak untuk memulai meeting. Jangan menerima panggilan telepon di saat yang tidak tepat." Tanpa menanggapi permintaan maaf dari Elenora, James berkata dengan sikap yang menunjukkan bahwa dia tidak suka dengan tindakan Elenora barusan.


Dan tanpa menunggu jawaban dari Elenora atas tegurannya, James bergegas pergi ke kamarnya, dengan Elenora yang mengikuti di belakangnya dengan sikap merasa bersalah.


Aduh... bagaimana caraku memberitahukan kepada James tentang noda pelembab bibirku yang menempel di punggungnya? Aku takut membayangkan reaksinya. Tapi kalau aku tidak memberitahunya, dia akan menjadi bahan pembicaraan orang lain yang melihat tanda itu. Dan aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi padanya.


Elenora sibuk berbicara dalam hati, sampai tidak sadar kalau mereka berdua sudah sampai di depan pintu kamar James, sehingga hampir saja dia menabrak punggung James kembali, untung saja dia langsung memundurkan tubuhnya dengan cepat begitu tersadar.


"Masuklah sekarang!" Dengan singkat dan terkesan tidak perduli, James langsung memberikan perintah pada Elenora untuk masuk ke kamarnya, begitu pintu kamarnya terbuka.


Dengan gerakan cepat, James berjalan ke arah teras kamar, dimana sebuah meja berbentuk persegi panjang dan dua buah kursi sudah dipersiapkan oleh pihak hotel  untuk keperluan meeting James hari ini.


Begitu James berjalan ke arah teras, dengan buru-buru Elenora meraih laptop miliknya James, meletakkannya di atas meja persegi itu, dan membukanya, juga meletakkan alat tulisnya di samping laptopnya.


James yang masih berdiri di dekat kursi yang ada di samping meja itu, mengamati apa yang sedang dilakukan Elenora untuk mempersiapkan meetingnya.


"Jam... James, ma...af..." James langsung menatap ke arah Elenroa yang kembali meminta maaf kepadanya.


"Kenapa terus meminta maaf? Apa kamu melakukan kesalahan fatal padaku?"


Apa kamu sudah berani berselingkuh di belakangku?


James melanjutkan pertanyaannya dalam hati, dengan wajah terlihat tegang, membuat wajah Elenera terlihat semakin bingung, karena wajah James saat ini menunjukkan kalau dia benar-benar sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, dan terlihat begitu tegang.