
“Mengingat bagaimana bahayanya dulu ketika alergimu kambuh, apa kamu yakin cukup dengan obat-obatan itu kamu akan segera sembuh?” James bertanya dengan nada suara yang jauh lebih rendah dari sebelumnya.
Tatapan mata James menyelidik ke arah Elenora yang dengan gerakan pelan, menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan James.
“Sudah lama… alergiku sudah sedikit membaik. Kalaupun alergiku kambuh, dengan meminum anthistamin dan mengoleskan salep, alergiku akan segera membaik, tidak seperti dulu, bisa membuatku pingsan dan sesak nafas ketika kambuh. Sejak aku kuliah, aku tidak pernah lagi mengalami syok anafilaksis. Kata dokter daya tahan tubuhku sudah membaik dan tubuhku sedikit demi sedikit, mulai bisa menerima bahan makanan yang dulunya membuatku alergi parah.” Elenora mencoba meyakinkan kembali James dengan kata-katanya, karena wajah James barusan terlihat masih belum percaya dengan kata-katanya.
“James, tidak akan ada apa-apa denganku….” Gerakan tubuh dari James yang tiba-tiba aja bergerak cepat ke arah kiri, membuat Elenora menghentikan bicaranya.
Tanpa menanggapi apa yang dikatakan oleh Elenora, James menggerakkan tubuhnya ke samping, mengambil botol berisi air mineral yang ada di bangku penumpang bagian belakang, membuka tutupnya, dan langsung menyodorkan botol berisi air mineral itu kepada Elenora.
Melihat Elenora terdiam sambil matanya menatap ke arah botol mineral di tangan James, dengan cepat, James meraih tangan kanan Elenora dengan tangan kirinya, lalu membuatnya menerima botol minuman dari tangannya.
“Cepat minum obatmu sekarang atau aku akan tetap memaksamu untuk ke rumah sakit. Dan kita lihat apa benar seperti katamu kalau obat itu sudah cukup untuk mengobati alergimu.” Mendengar perkataan James, dengan cepat, Elenora meneguk air mineral dari botol itu, beserta dengan obat yang dibelinya tadi.
Setelah itu, Elenora mengambil salep dan mulai mengolesi kulit tangannya di bagian yang menunjukkan bentol-bentol.
Melihat Elenora yang sibuk mengoleskan salep di kulit lengannya, sambil menunggu, James mengambil handphonenya, dan melakukan panggilan dengan Alex.
“Selamat malam Pak James.” DI seberang sana, Alex langsung menjawab sapaan dari James.
Tanpa basa-basi, James segera menjelaskan tujuannya menghubungi Alex, karena dia ingin, semua anggota dari gerombolan yang berusaha menyerang Elenora tadi, mendapatkan hukuman yang setimpal.
Mendengar kabar tentang penyerangan Elenora oleh sekelompok pemabuk, membuat Alex menahan nafasnya dengan wajah yang terlihat khawatir.
Rasanya Alex ingin sekali menanyakan kondisi Elenora saat ini, apa dia dalam kondisi baik-baik saja setelah kejadian tidak mengenakkan itu.
Alex yang tahu diri bahwa James adalah pimpinannya, tentu saja tidak berani menanyakan hal seperti itu.
Meskipun Alex tidak tahu tentang status Elenora sebagai calon istri James, tapi Alex tahu bahwa Elenora juga bukan orang sembarangan, melihat bagaimana selama di Bali, meskipun belum lama, Alex bisa melihat bahwa Elenora memiliki hubungan yang baik dengan Cladia, sebagai nyonya besar, istri dari Ornado Xanderson.
Dan itu bisa dilihat dengan jelas bagaimana Cladia yang sering mendekati Elenora dan mengajaknya mengobrol, bersama dengan Laurel, dokter cantik yang merupakan dokter pribadi sekaligus sahabat dekat dari Cladia dan Ornado.
“Minta pihak berwenang di tempat ini untuk segera mencari semua rekaman cctv di sekitar tempat itu. Temukan semua anggota dari gerombolan itu. Jangan biarkan satupun lolos dari hukuman.” James memberikan perintah tegas kepada Alex.
Elenora yang mendengar rencana James terhadap para pemabuk itu hanya terdiam, karena jika dia menentang, dia takut James akan marah kembali, dan juga di lain sisi, Elenora ingin kedepannya tidak jatuh korban lain seperti dirinya.
Setelah selesai melakukan panggilan teleponnya, James kembali menunggu Elenora yang sedang mengoleskan salep ke kulitnya tipis-tipis tanpa terlihat adanya kesulitan yang timbul.
Namun, ketika Elenora berniat mengoleskan salep ke wajahnya, dia merasa sedikit kebingungan karena tidak membawa kaca untuk melihat wajahnya, agar dapat mengoleskan salep itu dengan baik.
Akhirnya dengan sikap canggung, Elenora mendekatkan tubuhnya ke arah kaca spion mobil, bertepatan dengan James yang menoleh ke arahnya, karena sebenarnya sedari tadi James sudah beberapa kali melirik ke arah Elenora untuk mengamati apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu.
Dengan gerakan cepat, tiba-tiba saja James mengambil salep dari tangan Elenora yang tampak tersentak kaget karena tindakan James.
“Lepas kacamatamu.” James berkata sambil melihat sekilas ke arah salep yang sudah berpindah ke tangannya.
“James….” Dengan gugup Elenora yang sudah menjauhkan tubuhnya kembali dari kaca spion mobil, menyebutkan nama James yang memintanya untuk membuka kacamatanya.
“Biar aku bantu mengoleskannya ke wajahmu. Kalau kamu tidak membuka kacamatamu, bagaimana aku bisa membantu mengoleskan salep dengan baik ke kulit wajahmu?” James berkata sambil memandang ke wajah Elenora yang terlihat semakin gugup.
“Aku tidak akan menerkam atau menggigitmu, kenapa wajahmu terlihat begitu ketakutan? Apa aku seseram itu?” James kembali berkata setelah melihat Elenora tetap diam dengan kepala tertunduk, kali ini James mengucapkan kata-katanya dengan menyungingkan sebuah senyum di bibirnya.
Akhirnya dengan gerakan yang terlihat ragu, Elenora melepaskan kacamatanya, dan memegang dengan erat menggunakan kedua tangannya, yang ada di pangkuannya.
“Kalau kamu menunduk begitu, bagaimana aku bisa melihat bagian mana yang harus aku olesi dengan salep ini?” James berkata dengan nada pelan, dan tanpa menunggu tindakan selanjutnya dari Elenora, tangan kiri James bergerak ke arah dagu elenora, memegangnya lembut, dan menggerakkannya ke atas, agar wajah Elenora terangkat ke arahnya.
Mau tidak mau, Elenora hanya bisa mengikuti arah gerakan tangan James yang membawa wajahnya yang tanpa kacamata untuk saling berhadapan dengan wajah James.
Elen… Elenora?
James bergumam dalam hati, dengan wajah terlihat begitu terkejut, dan mata yang melotot menatap dengan wajah tidak percaya ke arah Elenora yang akhirnya memilih untuk memejamkan matanya sambil menggigit bagian bawah bibirnya karena rasa gugup sekaligus tidak percaya diri yang sedang menerjangnya sekarang.