
“Ah, maaf….” Elenora yang sedang membawa piring berisi jajanan basah dan berencana untuk mencari tempat duduk langsung tersentak kaget dan meminta maaf kepada Ernest yang berada di dekatnya, dan hampir ditabrak oleh Elenora.
Dan dengan sigap Ernest langsung menahan bahu Elenora yang hampir saja terjatuh dengan satu tangannya, sedang tangannya yang lain memegang lengan bawah Elenora yang sedang memegang piring agar makanan yang ada di atas piringnya tidak terjatuh.
“Tidak apa-apa Nona, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu Nona?” Ernest berkata sambil matanya menatap dengan tatapan menyelidik untuk memastikan bahwa Elenora memang benar baik-baik saja.
“Ba… baik. Aku baik-baik saja. Maaf buat kecerobohanku barusan. Terimakasih untuk bantuannya.” Elenora berkata sambil bergerak menjauhkan diri dari Ernest yang langsung menyungingkan senyum di bibirnya.
"Tidak masalah Nona. Itu bisa terjadi pada siapa saja." Ernest berkata dengan senyum masih tersungging di bibirnya.
“Kalau begitu… saya permisi dulu.” Elenora segera berpamitan dan menjauh dari Ernest yang langsung didekati oleh Erich.
“Apa dia calon istri Tuan James?” Erich langsung berbisik ke telinga Ernest begitu Elenora pergi menjauh.
“Kalau mengingat tentang bagaimana tadi di awal tuan Ornado memperkenalkannya kepada yang mulia Alvero, memang sepertinya iya. Kenapa?”
“Kalau begitu kamu harus berhati-hati. Setelah ini lihat ke arah jam dua belas, tuan James sedang berada di sana dengan wajah masamnya.” Erich berkata sambil memperlihatkan sebuah senyum smirk ke arah Ernest yang tampak kaget dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Erich padanya.
(Senyum smirk disebut juga dengan senyum menyeringai. Senyum smirk adalah senyuman yang membangkitkan penghinaan, cemoohan, atau sombong yang menyinggung, termasuk dalam kategori yang oleh Desmond Morris digambarkan sebagai sinyal-sinyal puji-pujian yang cacat).
Haist, ternyata benar yang dikatakan oleh Erich. Tapi semoga tuan James tidak salah paham padaku, aku hanya ingin menolong nona itu agar tidak terjatuh.
Ernest berkata dalam hati setelah dengan gerakan perlahan mencuri pandang ke arah James yang memang sedang menatapnya dengan pandangan tidak ramah, dan sambil mendengus kesal berjalan meninggalkan tempatnya berdiri.
Entah karena kejadian barusan atau bukan, tapi Ernest jadi merasa sedikit bersalah, meskipun sebenarnya dia hanya berniat menolong Elenora, tidak ada maksud yang lain.
Apa semua laki-laki yang sedang jatuh cinta tidak bisa berpikir normal dan akan mudah cemburu mesti yang dilihat kadang belum tentu sesuai dengan yang terjadi sebenarnya? Ah, entahlah, aku tidak bisa berkomentar karena aku belum pernah mengalami hal seperti itu.
Ernest berkata dalam hati dengan kening berkerut.
Memikirkan itu, Ernest hanya bisa menghela nafasnya pelan.
“Ayolah, kita nikmati semua makanan enak itu daripada pusing memikirkan hal lain.” Ernest akhirnya menepuk bahu Erich untuk ikut bersamanya mendekati salah satu gubugan yang menyediakan salah satu makanan khas Indonesia berupa rendang.
Di sisi lain Deanda yang duduk di samping Alvero, berhadapan dengan Cladia dan Ornado di dalam joglo, tampak terlihat antusias melihat piring Cladia yang berisi potongan buah segar yang sebagian tentu saja merupakan buah-buahan tropis, yang beberapa lama ini membuat Deanda seringkali menginginkannya sejak masa kehamilannya.
“Apa kamu menginginkannya sweety?” Alvero berbisik pelan begitu melihat mata istrinya yang tidak bisa menyembunyikan rasa tertariknya melihat piring berisi potongan buah segar milik Cladia.
Tanpa menunggu jawaban Deanda, tangan Alvero segera melambai ke arah nyonya Rose yang duduk tidak jauh dengannya, sedang mengobrol dengan Alexis.
“Ambilkan sepiring potongan buah segar seperti milik nyonya Cladia untuk permaisuri.” Begitu nyonya Rose mendekat, Alvero langsung memberikan perintahnya.
“Sejak kehamilannya, dia memang agak sulit dalam hal makanan, dan selalu pilih-pilih makanan. Jika tidak cocok dengan seleranya, dia mudah muntah.” Ornado berkata sambil mengelus lembut punggung istrinya yang hanya tersenyum mendengar perkataannya.
Alvero sendiri langsung menahan senyum gelinya mendengar perkataan Ornado yang mengingatkannya pada saat Ornado dengan panik menghubunginya hanya untuk memintanya mengajari bagaimana membuat nasi goreng untuk memenuhi keinginan Cladia.
“O, sepertinya Cladia seleranya benar-benar berubah jadi istimewa karena efek kehamilannya. Apa nasi goreng buatan Ornado merupakan salah satu menu favoritmu?” Pertanyaan Alvero sukses membuat bukan hanya Ornado yang melotot, tapi juga Laurel.
“Benar, aku suka sekali nasi goreng buatan Orndo, sayangnya sampai sekarang aku masih hanya memiliki sekali kesempatan untuk pernah merasakannya.” Perkataan Cladia membuat Ornado tidak dapat berkata-kata, dan hanya bisa berdehem pelan, membuat Alvero tidak dapat lagi menahan senyum gelinya.
“Aih, sejak kapan Ad mau menginjakkan kakinya di dapur? Jangan-jangan itu bukan nasi goreng yang benar-benar dibuat oleh Ornado sendiri? Tapi dipesan dari restoran?” Laurel yang sejak kecil cukup dekat dan tahu karakter Ornado langsung berkomentar dengan nada menyindir, membuat Deanda tertawa geli, apalagi Ornado langsung melotot ke arah Laurel.
“Ist… sembarangan saja! Tanyakan saja pada amore mio. Dia bahkan berada di dapur dan mengawasiku saat aku memasak nasi goreng untuknya.” Ornado segera membalas perkataan Laurel sambil menatap ke arah Cladia yang langsung mengangguk.
“Dia benar-benar melakukannya untukku.” Cladia menjawab pelan, membuat Laurel semakin penasaran.
“Wahhh, benar-benar berita besar, seorang Ornado Xanderson memegang sutil dan penggorengan. Cla, lain kali, kamu harus mengajakku agar aku bisa ikut mengabadikan momen bersejarah seperti itu tentang Ornado. Ngomong-ngomong, kamu tidak sakit perut kan setelahnya dan…. Auw!”
Sebuah jitakan jari tangan Ornado ke kening Laurel menghentikan celotehan Laurel tentang kegiatan masak memasak yang pernah dilakukan oleh Ornado.
Hal itu membuat yang lain langsung tertawa termasuk Alvero dan Deanda. Mereka berdua merasa senang dengan suasana akrab dan nyaman yang dibawa oleh pasangan Ornado Cladia, dan Dave Laurel.
“Lain kali, masakkan untukku juga Ad.” Perkataan Laurel dengan nada memohonnya, membuat Ornado mencebikkan bibirnya.
“Tuh, ada tuan Shaw yang akan selalu bersedia melakukan apa saja untukmu, termasuk hanya sekedar memasak nasi goreng.” Ornado berkata sambil sudut matanya mengarah kepada Dave yang hanya tersenyum tanpa menanggapi perkataan Ornado.
“Ist, kalau itu sih, tidak istimewa. Bagaimana jika kamu yang memasak untukku Ad? Mungkin dengan begitu bayi dalam kandunganku akan begitu menyukaimu dan mau menjadi menantumu kelak.” Perkataan Laurel membuat yang lain langsung tertawa terhahak, termasuk Cladia dan Ornado sendiri.
“Ah, dokter Laurel sedang mengandung juga ternyata.” Deanda berkata sambil matanya memandang ke arah Laurel yang duduk di hadapannya, namun agak ke samping, duduk di sebelah Cladia.
“Iya permaisuri Deanda….”
“Panggil saja aku dengan Deanda, seperti Cladia memanggilku. Dan supaya adil, aku akan memanggilmu Laurel.” Deanda langsung memotong perkataan Laurel yang langsung menganggukkan kepalanya dengan wajah cerianya.
“Kamu terlihat begitu ceria dan lincah, aku sungguh tidak menyangka kalau kamu juga sedang hamil.” Perkataan Deanda membuat Laurel meringis.
“Dia wanita hamil yang tidak seperti wanita hamil pada umumnya. Tindakannya seringkali sudah seperti remaja yang baru menginjak usia 17 tahun. Terlalu energik dan tidak mau berhenti.” Apa yang dikatakan Ornado untuk menanggapi perkataan Deanda hanya bisa membuat wajah Laurel sedikit memerah.
“Tidak semua wanita hamil seperti Laurel yang tidak terlihat perbedaan antara hamil dan tidak. Juga tidak semua wanita hamil seperti Cladia yang sampai sekarang masih menderita morning sickness dan rewel dalam hal makanan. Dan mungkin Deanda juga mengalami hal yang berbeda dari yang dialami Laurel maupun Cladia.” Jawaban bijak dari Dave membuat yang lain langsung tersenyum dan menghentikan perdebatan mereka tentang kehamilan, dan mulai membicarakan tentang hal lain.
NB: Untuk para pembaca tercinta, karena kondisi kesehatan yang belum memungkinkan, beberapa waktu ini author hanya bisa up 1 episode dan lambat dalam membalas komen para pembaca. Terimakasih untuk kessetiaan dan dukungannya terhadap novel ini. 🙏🙏🙏🙏🙏