My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
TAMU ISTIMEWA LAINNYA



Ornado sendiri tampak sedang memeluk Alberto sambil mengucapkan selamat datang kepada papanya yang langsung menanyakan bagaimana kabar Ornado pasca peristiwa penembakan oleh Ola beberapa waktu yang lalu.


Begitu mendengar dari bibir Ornado bahwa untuk saat ini, dia dan Cladia sudah dalam keadaan aman dan baik-baik saja, Alberto tampak menyunggingkan sebuah senyum lega.


"Selamat datang Uncle Alberto, Uncle Edoardo, dan Auntie Caroline, juga Elenora." James menyapa sambil tersenyum ke arah mereka.


Ornado yang baru saja melepaskan pelukannya dari Alberto langsung ikut mendekat dan ikut menyapa yang lain.


Mereka semua langsung membalas sapaan dari James dan Ornado dengan senyuman ramah, termasuk Elenora, walaupun terlihat senyumnya terlihat begitu kaku dan terlihat gugup.


Penampilan Elenora masih seperti dulu. Penampilan yang selalu membuat James memanggilnya gadis culun. Harusnya James tidak boleh melihat orang dari penampilan luar. Apalagi jika diperhatikan lebih teliti, sebenarnya secara fisik Elenora bukan gadis yang jelek-jelek amat. Ah, sudahlah, kenapa jadi aku yang repot memikirkan tentang calon istri James? Aku saja yang beruntung memiliki istri secantik boneka barbie.


Ornado berkata dalam hati sambil menoleh ke arah samping, karena tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang memasuki halaman rumahnya dan berhenti tepat di belakang mobil yang dipergunakan oleh Fred untuk menjemput Alberto dan yang lain.


"Hallo semuanya, apa aku terlambat untuk ikut berpesta?" Seorang laki-laki tampan dengan tubuh atletis dan senyum manisnya langsung menyapa mereka semua yang ada di situ.


Melihat siapa yang datang, Ornado langsung tersenyum dan berjalan mendekati laki-laki itu.


"Dario Benigno. Bagaimana kabar pengusaha sukses kita ini? Sudah begitu lama kita tidak bertemu. Aku pikir kamu sudah melupakan namaku. Aku tidak menyangka kamu juga ikut datang ke Indonesia." Ornado langsung menyapa laki-laki tampan yang baru saja datang itu.


Begitu melihat Ornado mendekat ke arahnya, Dario langsung membuka kaca mata hitam yang dikenakannya dan memeluk Ornado sambil tertawa dengan nada senang.


"Apa kabar Ad? Bagaimana bisa aku melupakan adikku yang satu ini? Tentu saja kali ini aku harus datang setelah dua kali melewatkan pesta yang kamu adakan untuk merayakan pernikahanmu dengan Cladia. Maaf, aku datang lebih lamabt dari mereka karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Tapi untungnya pada akhirnya penerbanganku tidak jauh berbeda dengan jadwal mereka, sehingga aku tidak perlu terlambat terlalu lama." Dario berkata sambil melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Ornado dengan erat.


"Aku juga tidak tahu apa yang membuatmu begitu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk menghadiri acara penting kami berdua." Ornado berkata sambil menggerakkan tubuhnya, berdiri di samping Dario sambil melingkarkan lengannya di bahu Dario, melewati punggungnya.


"Tentu saja aku sedang sibuk membangun kerajaan bisnisku. Agar bukan nama Ornado Xanderson saja yang bisa mengguncangkan dunia karena kerajaan bisnisnya." Dario berkata sambil berjalan beriringan mendekat ke arah yang lain.


Begitu tiba di dekat James, Dario langsung menepuk pundak James dengan sikap hangat.


"Apa kabar James?"


"Seperti yang kamu lihat Dario, meskipun tidak memiliki perusahaan sebesar milikmu sekarang, aku dalam kondisi baik-baik saja. Dan juga.... sehat sekali." Dario langsung tertawa mendengar jawaban konyol dari James.


Setelah itu Dario langsung mendekat ke arah Alberto, yang sudah beberapa lama ini juga tidak ditemuinya.


Alberto langsung menepuk lengan Dario dengan tatapan mata yang tidak bisa menyembunyikan rasa rindu dan bangganya melihat kehadiran Dario hari ini.


Dario Benigno, sudah seperti kakak kandung bagi Ornado walaupun boleh dikata mereka jarang bertemu setelah sama-sama dewasa.


Dulunya, karena Alberto dan istrinya tidak cepat memiliki anak setelah mereka menikah, mereka memutuskan untuk merawat Dario yang merupakan anak dari sepupu jauh Alberto.


Setelah peristiwa kelahiran Ornado, orangtua asli dari Dario meminta ijin kepada Alberto untuk kembali merawat Dario.


Karena merasa sudah menganggap Dario seperti anak mereka sendiri, walaupun akhirnya mereka mengembalikan Dario dalam perawatan dan pengawasan orangtua kandungnya, tidak membuat Alberto lepas tangan begitu saja.


Sampai Dario dewasa dan mandiri, semua kebutuhan Dario, Alberto tetap menanggungnya, mulai dari semua biaya hidup sampai pendidikannya.


Bahkan Alberto memberikan tidak sedikit modal untuk Dario bisa memulai usahanya, hingga dia bisa menjadi sesukses sekarang.


Selain itu, kadang Dario masih mengunjungi Alberto dan tinggal di mansion milik Alberto, menjadi penghiburan tersendiri bagi Alberto yang baru sebulan sekali bisa bertemu istri dan anaknya Ornado.


Karena sejak awal pernikahan mereka, dengan kondisi kesehatan mama Ornado yang kurang baik, dia ingin tetap tinggal di Indonesia.


Hal itu membuat Alberto yang memiliki banyak bisnis di Eropa, yang berpusat di Italia, harus rela untuk bisa bertemu dengan anak dan istrinya hanya sebulan sekali saja.


"Eh, dimana Cladia? Apa saat ini dia sedang tidak ada di rumah?" Mata Dario berkeliling mencari sosok Cladia.


Kadang, saat Alberto mengunjungi istrinya dan Ornado ke Indonesia, Dario pun akan ikut bersama dengan Alberto, sehingga Dario juga mengenal baik keluarga Cladia.


"Apa kamu selalu berusaha menyembunyikan sosok nyonya rumahmu yang cantik Ad?" Mendengar candaan dari Dario, Ornado langsung tertawa kecil.


"Ah, tadi aku dan James baru saja dari kantor dan belum sempat masuk ke rumah untuk meberitahukan kepada Cladia tentang kedatangan kalian." Ornado langsung menjawab pertanyaan dari Dario, yang dulunya, dimasa kecil mereka juga pasti akan bermain bersama Cladia, Laurel dan Jeremny jika Dario ikut berkunjung ke Indonesia bersama Alberto.


"Ayolah, kita masuk ke dalam untuk menemui Cladia." Ornado langsung mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam rumahnya.


Ornado langsung mempersilahkan para tamunya untuk duduk di ruang tamu, sedang dia sendiri berjalan ke arah meja makan, mencari sosok Cladia, dimana Cladia bersama tante Ema sedang sibuk menyiapkan meja makan bersama para pelayan yang lain.


"Cla, mereka sudah datang." Cladia yang sedang serius menyiapkan meja makan tidak sadar bahwa Ornado sudah berada di dekatnya dan membisikkan kata-kata dengan suara pelan, membuat Cladia langsung menoleh ke arah Ornado, yang ternyata wajahnya berada begitu dekat dengannya.


Melihat wajah kaget Cladia, dan juga jarak wajah mereka yang begitu dekat, membuat Ornado tersenyum dan langsung mengecup bibir Cladia sekilas dengan mesra, membuat wajah Cladia langsung memerah.


"Al...." Dengan canggung Cladia hanya bisa menyebutkan nama suaminya tanpa berani menatap ke arah Ornado yang menahan senyum gelinya melihat bagaimana menggemaskannya sikap Cladia saat dia melakukan sesuatu kepada Cladia yang menunjukkan kemesraan.


"Ayo kita temui mereka sebentar sebelum makan siang dimulai." Ornado berkata sambil melingkarkan lengan Cladia ke lengannya sendiri dan mengajak Cladia ke ruang tamu.


"Selamat datang untuk semuanya. Maaf tidak menyambut kedatangan kalian di luar tadi." Sapaan dari Cladia sukses membuat semua orang yang ada di ruang tamu langsung menoleh.


Melihat sosok cantik Cladia, Dario langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekat ke arah Cladia.


"Apa kabar Cla? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Apa kamu masih ingat denganku?" Perkataan Dario membuat Cladia sedikit mengernyitkan dahinya, terlihat jelas bahwa wanita cantik itu sedang berusaha keras mengingat tentang siapa laki-laki tampan, berwajah bule yang sedang menunggu responnya tersebut.