
Aist… sebegitu lengkapnya peralatan masak di rumah ini yang ternyata aku tidak pernah tahu sama sekali, bahkan tidak semuanya aku tahu nama dan kegunaannya. Pasti koki rumah ini senang sekali karena memiliki fasilitas lengkap untuk memasak, Tapi tetap saja amore mio begitu menggemari masakan dari Evelyn selama masa kehamilannya ini. Kalau saja Evelyn hanyalah seorang dengan latar belakang biasa dan juga bukan adik dari Dave Alexander Shaw, pasti Cladia akan memintanya untuk menjadi koki pribadinya.
Ornado berkata dalam hati dengan mata menyelidik ke arah semua peralatan masak yang terpampang di depannya, mulai memikirkan mana peralatan yang bisa dia gunakan untuk memasak seporsi nasi goreng.
“Tuan…” Mendengar panggilan kepala pelayan itu, Ornado yang sedang memegang penggorengan yang sudah dipilih dan dipegangnya langsung menoleh.
“Berapa porsi nasi goreng yang akan Tuan masak?” Salah satu alis Ornado langsung terangkat begitu begitu mendengar pertanyaan dari kepala pelayan itu.
“Hah, tentu saja satu porsi! Apa kalian juga ingin aku memasak untuk kalian semua?” Ornado berkata dengan matanya menatap tajam ke arah kepala pelayan yang langsung terlihat gugup.
“Ti… tidak Tuan. Kami tidak akan berani bersikap tidak sopan seperti itu.” Kepala pelayan itu langsung menundukkan wajahnya dengan wajah takut, walaupun matanya masih semoat melirik kembali ke arah penggorengan berukuran besar yang sedang dipegang oleh Ornado.
Sebuah penggorengan yang bisa digunakan untuk memasak lebih dari 10 porsi nasi goreng.
“Lalu, kenapa kamu bertanya tentang banyaknya porsi masakanku?” Ornado berkata dengan sikap tidak tenang, karena saat ini sebenarnya dia betul-betul tidak tahu bagaimana dan darimana harus memulai untuk memasak nasi goreng, membuatnya begitu salah tingkah.
Bagi orang lain mungkin nasi goreng merupakan satu masakan sederhana yang tidak memerlukan keahlian khusus, yang bahkan menjadi salah satu pilihan terakhir orang yang sedang ingin memasak sesuatu yang simple dan cepat.
Tapi bagi seorang Ornado yang tidak pernah menyentuh area dapur sedikitpun, untuk memasak itu membuatnya begitu gugup dan salah tingkah, bahkan sebelum dia memulai apapun.
Dan dengan cepat Ornado langsung memutar otaknya agar paling tidak, dia tidak terlihat terlalu memalukan di depan Cladia yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di dapur, menunggunya beraksi.
"Siapkan semua peralatan yang aku perlukan untuk memasak nasi goreng, aku akan ke kamar mandi sebentar." Dengan cepat Ornado memberikan perintah kepada kepala pelayan, dan berjalan mendekat ke arah Cladia.
"Amore mio, aku akan ke kamar mandi sebentar, setelah itu aku akan segera memasak nasi goreng untukmu." Mendengar perkataan Ornado, Cladia langsung membalasnya dengan sebuah senyuman manis.
Hahhh... apa kamu tahu amore mio? Senyummu benar-benar senjata mematikan bagiku. Kalau saja aku tidak ingat begitu mengerikannya senyum manismu menghilang dari wajah cantikmu karena kecewa, rasanya aku ingin mengatakan padamu, aku tidak sanggup memasak nasi goreng untukmu. Bukannya aku tidka mau, tapi aku tidak tahu caranya.
Ornado berkata dalam hati sambil bergegas ke arah kamar mandi.
Aku harus segera memikirkan cara untuk meminta bantuan seseorang tanpa diketahui oleh Cladia.
Ornado kembali berkata dalam hati dengan tangan kanannya membuka pintu kamar mandi dan segera menutupnya rapat-rapat, sedang tangan kirinya mengambil handphone dari saku celananya.
Dengan buru-buru Ornado melakukan panggilan telepon pada seseorang yang dia tahu akan bisa memberinya jalan keluar.
"Buonasera Ad." (Selamat malam Ad). Suara sahutan yang dari seberang sana langsung menyapa Ornado dengan hangat.
"Ah, Alvero, kali ini kamu harus membantuku dengan cepat." Alvero yang mendengar suara Ornado yang mengucapkan kata-katanya dengan nada pelan sekaligus terdengar khawatir, membuat Alvero yang awalnya sedang menandatangani surat-surat yang disodorkan oleh Deanda kepadanya langsung memundurkan kursi kerjanya, menjauhkan diri dari meja kerja yang ada di hadapannya.
"Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu sekarang." Kata-kata Ornado berikutnya membuat Alvero mengerutkan dahinya sambil sedikit menahan nafasnya.
Dari suaranya Alvero yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Ornado, dan mengenalnya dengan baik, bisa membayangkan bahwa saat ini Ornado sedang risau.
Dan itu bukan sesuatu yang mudah terjadi pada Ornado yang selama ini selalu terlihat tenang dan dingin, tapi tindakannya seringkali mengalahkan musuh-musuhnya dengan telak tanpa harus menunggu lama, dengan cara yang bahkan mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang lain.
Seperti kejadian saat Ornado membantu Alvero menggagalkan penyelundupan senjata api untuk para pemberontak. Siapa yang meyangka kalo Ornado melakukan tindakan iseng dengan mengganti senjata-sejata itu dengan batu dan mainan anak-anak.
"Hei, kenapa denganmu Ad? Apa yang sudah terjadi?" Alvero yang jarang sekali melihat sosok Ornado yang dikenalnya terlihat begitu tidak tenang seperti saat ini.
Hal itu membuat Alvero begitu penasaran, kira-kira apa atau siapa yang bisa membuat Ornado serisau itu.
"Hah! Kamu tahu kan aku tidak pernah sekalipun mengerti urusan dapur, termasuk memasak, beda denganmu yang memiliki cukup keahlian di bidang itu. Tapi hari ini sepertinya aku harus meminta bantuanmu, agar bisa mendapatkan petunjuk untuk hal seperti itu." Ornado berkata dengan nada gusar.
"Haaa?" Kali ini Alvero hampir saja tidak bisa menahan tawa gelinya karena kata-kata Ornado barusan.
"Apa aku tidak salah dengar? Kamu mau ke dapur? Untuk apa? Bukannya kamu memiliki koki pribadi dan puluhan pelayan di rumahmu? Suruh saja mereka, kenapa harus kamu yang repot-repot melakukan hal yang tidak kamu suka dan belum pernah sama sekali kamu lakukan?" Setelah menghentikan tawanya dengan nada penasaran Alvero langsung bertanya kembali.
Sejenak Alvero kembali teringat masa-masa kuliahnya di Italia bersama Ornado.
Alvero kenal betul siapa dan bagaimanan Ornado, yang memang boleh dikata hebat dalam hal bisnis dan olahraga, tapi untuk urusan kehidupan pribadi ayng berhubungan dengan kegiatan rumah seperti bersih-bersih, memasak, berkebun, dia bukan orang yang ambil pusing tentang itu, karena adanya tante Ema yang sikapnya melebihi seorang ibu kandung bagi Ornado.
Sejak kecil, semua kebutuhan Ornado, mulai dari pakaian, makanan, semuanya akan diaturkan oleh tante Ema dengan begitu baik, membuat Ornado tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu.
Siapa yang sudah berani meminta Ornado masuk ke dapur dan meminta Ornado untuk memasak? Dan yang lebih hebat lagi, Ornado berniat untuk memenuh permintaan orang itu? Sepertinya....
Alvero berkata dalam hati sambil mulai menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
Sepertinya hanya ada satu orang yang bisa membuat Ornado melakukan hal gila seperti itu, dan pastinya orang itu adalah....
Alvero masih berpikir dalam hati, ketika suara panik Ornado kembali terdengar.
"Alvero, istriku minta aku memasak seporsi nasi goreng untuknya. Harus aku sendiri yang memasak untuknya. Benar-benar celaka! Aku mana bisa membuat hal yang seperti itu...." Dengan nada frustasi Ornado mengatakan masalahnya kepada Alvero yang karena begitu kagetnya, hanya bisa melongo mendengar perkataan Ornado barusan.