
“Ele… Ad meminta aku berangkat ke pabrik penyamakan kulit di kota B untuk menyelesaikan masalah di sana. Sepertinya masalah di sana cukup pelik.” James berkata dengan wajah terlihat sedikit frustasi.
Entah kenapa, apakah karena sekarang status Elenora benar-benar sudah menjadi istrinya yang sah, sejak kemarin rasanya James ingin selalu berada di dekat Elenora.
Namun, Ornado memerintahkan padanya untuk pergi meninggalkan Elenora untuk waktu yang tidak sebentar, yang mungkin akan bisa berlangsung selama seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan.
“Ooo, iya.” Dan jawaban singkat dari Elenora sungguh membuat James merasa shock, karena merasa keberadaannya tidak dianggap penting oleh Elenora, sehingga dengan mudahnya Elenora menjawab seperti itu.
What? Ooo iya? Ha… hanya itu saja? Semudah itu Ele melepaskan aku untuk pergi jauh?
Jawaban Elenora yang singkat dan diucapkannya dengan nada suara tenang dan wajah datar tanpa emosi, apalagi dengan sedikit menunduk sehingga matanya tidak menatap langsung ke arah James, semakin membuat James bertambah frustasi.
“Kemungkinan besar, aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama, bisa jadi lebih dari 3 minggu, atau bahkan lebih dari sebulan.” James mencoba menambahkan kata-kata yang dia harapkan bisa membuat Elenora gelisah atau terlihat panik, dan merasa keberatan karena dia harus pergi untuk waktu yang lama.
“Baik. Semoga semuanya baik-baik saja di sana.” Elenora berkata sambil membereskan berkas-berkas yang ada di hadapan James, berniat untuk menyerahkannya ke bagian legal di perusahaan itu agar melanjutkan proses selanjutnya sesuai dengan standar hukum yang berlaku.
*Ele… kamu benar-benar tidak perduli dengan rencana kepergianku? Apa kamu tidak ingin aku tetap tinggal? *
James bertanya dalam hati sambil menatap ke arah Elenora.
“Ele… apa kamu sungguh membenciku? Sangat membenciku?” Elenora yang mendengar pertanyaan James langsung menatap ke arah James dengan tatapan bingung.
“Ap… apa maksudmu James?” Elenora balik bertanya karena sungguh dia begitu akget denga napa yang baru saja dikatakan oleh James.
Jika aku membencimu, aku tidak akan pernah menerima perjodohan itu, dan juga datang ke tempat ini dan harus menerima sikap anehmu itu.
Elenora berguman dalam hati.
“Tidak apa-apa. Tolong jawab saja pertanyaanku. Apak amu membenciku?” James kembali mengulang pertanyaannya, sambil menatap lurus kea rah Elenora, agar dia bisa menilai apakah Elenora akan berbohong atau jujur padanya saat menjawab pertanyaannya nanti.
“Ti… tidak… aku tidak mungkin membencimu James. Tidak ada alasan untuk aku membencimu.”
Apa kamu tidak bisa melihatnya dengan jelas James? Justru aku begitu sangat mencintaimu, sehingga dengan bodohnya aku tidak pernah bisa menolak keinginanmu, termasuk menikah dengan cara yang aneh seperti kemarin. Apapun yang terjadi ke depannya, aku adalah orang yang tidak akan pernah bisa membencimu dengan alasan apapun.
“Ke… kenapa kamu menanyakan hal seperti itu?” Elenora bertanya karena merasa panasaran dengan alasan James bertanya seperti itu.
“Ah tidak ada alasan khusus Ele. Aku senang mendengar bahwa kamu tidak membenciku, setelah banyak hal yang tidak menyenangkan sudah aku lakukan padamu, sejak pertemuan kita pertama kita, setelah kamu menghilang lama waktu itu….” James sengaja mengungkit kembali masa lalu mereka, berharap dia bisa menemukan kesempatan untuk memancing Elenora agar menceritakan kejadian waktu itu.
Tapi wajah Elenora yang tiba-tiba terlihat pucat, dan gugup, juga sikapnya yang tidak tenang, membuat James menghentikan rencananya dengan segera.
Sepertinya aku harus bersabar sedikit lagi. Ah, tidak, lebih baik aku tidak menunggu apalagi memaksa Elenora untuk menjelaskan, dan langsung mencari sendiri kebenaran di balik peristiwa waktu itu.
James berkata dalam hati sambil mencoba tersenyum ke arah Elenora, agar gadis itu bisa tenang.
“Eh, Ele, sebaiknya kamu siapkan semua dokumen yang perlu aku periksa dan tanda tangani, karena aku harus segera berangkat ke kota B, jika tidak ingin maslah di sana bertambah runyam.” James langsung berusaha membicarakan hal lain, untuk mengalihkan perhatian Elenora dari perkataannya yang sebelumnya, tentang masa lalu.
“Ba… baik. Aku akan berusaha menyelesaikannya dengan cepat. Hanya saja… ada satu dokumen yang perlu aku konfirmasikan ke pihak luar, dan mereka baru menjanjikan untuk bisa bertemu denganku besok.” Elenora segera memberikan penjelasan kepada James yang hampir saja menghembuskan nafasnya dengan keras karena dari perkataan Elenora, seolah terkesan Elenora ingin segera menyelesaikan semuanya agar dia bisa segera pergi ke kota B.
“Tenang saja Ele, semuanya tidak harus diselesaikan hari ini juga, meskipun Ad bilang secepatnya aku harus pergi. Tapi itu bukan berarti aku akan pergi hari ini. Aku masih ingin menikmati waktu di apartemen baru kita bersamamu.” Mata Elenora langsung membulat sempurna mendengar perkataan James.
“Kita masih perlu banyak waktu untuk mengisi dan menata apartemen kita agar menjadi temapt yang nyaman dan sesuai dengan keinginan kita.” James segera melanjutkan perkataannya begitu melihat wajah kaget Elenora.
“A… aku akan segera… membereskan berkas-berkas ini….” Tanpa menanggapai perkataan James tentang apartemen yang sekarang mereka tinggali, Elenora berkata dengan sedikit terbata, dan langsung melangkah menjauh dari meja kerja James, ke arah pintu keluar ruangan James.
“Ele….” Panggilan dari James membuat mau tidak mau Elenora menghentikan langkahnya, dan kembali menoleh ke arah James yang langsung tersenyum manis ke arahnya, membuat Elenora harus menahan nafasnya, dan harus mengakui dengan jujur, bahwa sosok laki-laki yang saat ini berstatus sebagai suaminya itu terlihat begitu tampan dan mempesona dengan senyum ramah di wajahnya seperti yang dia tunjukkan di hadapannya saat ini.
“Ele, aku minta maaf jika beberapa waktu ini, sikapku padamu sungguh keterlaluan dan membuatmu tidak nyaman. Ke depannya aku ingin kita bisa memiliki hubungan yang baik.” Mendengar perkataan James dengan wajah yang terlihat tulus, Elenora tersenyum dengan canggung, sambil menganggukkan kepalanya pelan, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Kemudian dengan sikap buru-buru, Elenora segera keluar dari ruangan James, karena perkataan James barusan benar-benar membuat hatinya melayang, penuh dengan rasa bahagia, dan jantungnya berdetak dengan begitu kencang di dalam sana.
Mimpi… aku pasti sedang bermimpi barusan…. Kenapa James tiba-tiba bersikap begitu baik padaku hari ini? Padahal kemarin, tanpa perduli dengan perasaanku, dia memaksaku menanda tangani akta pernikahan kami berdua.
Elenora berkata dalam hati tanpa bisa menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya.
Jika Elenora tidak ingat bahwa setelah keluar dari ruangan James adalah ruangannya, dimana artinya di sana ada Dea dan Dodi yang bisa melihatnya, rasanya Elenora ingin memegang dadanya, dan juga menepuk pipinya yang memerah, memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi, sudah mendengar James meminta maaf padanya, dan juga melihat bagaimana manis dan ramahnya sikap James padanya semenjak pagi tadi.