My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PEMBERESAN DUA HATI (2)



Untuk seorang James yang sudah mengetahui rahasia tentang misteri kepergian Elenora yang terjadi bertahun-tahun yang lalu, lebih baik dia menumpahkan semua airmatanya, daripada dia harus kembali kehilangan Elenora dalam hidupnya di masa depan.


"James... apa yang terjadi? Jangan berlutut di depanku... tolong jangan lakukan ini...." Elenora berkata sambil membungkukkan tubuhnya, berniat menarik lengan James agar bangun dari berlututnya, tapi kedua lengan James langsung bergerak cepat memeluk kaki Elenora dengan erat.


"Aku sungguh bersalah padamu Ele. Maafkan aku karena sudah menyimpan kebencian padamu atas suatu hal yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Malam itu... ketika kamu tiba-tiba saja menghilang... ternyata kamu sudah mengalami hal yang begitu buruk tanpa aku tahu tentang itu, dan sepanjang waktu terus menyalahkanmu. Padahal seharusnya, hari itu menjadi awal dimana harusnya aku selalu ada di sampingmu dan melindungimu." Perkataan James membuat kaki Elenora melangkah mundur, meski hanya selangkah, karena James menahan kedua kakinya dengan sebuah pelukan yang sangat erat.


"James... darimana... kamu tahu tentang itu?" Elenora berkata dengan suara terdengar bergetar.


"Ele, kenapa kamu tidak mengatakan terus terang padaku tentang peristiwa mengerikan yang pernah kamu alami waktu itu? Maafkan aku yang terlambat untuk menyadarinya. Tolong... maafkan sikap kasar dan dinginku selama ini padamu." James kembali meminta maaf pada Elenora yang mulai menitikkan airmata harunya, karena setelah sekian lama, akhirnya dia benar-benar sadar bahwa hatinya sudah menjadi milik Elenora, dan seluruhnya terikat pada Elenora.


Bagi James berkali-kali meminta maaf pada Elenora tidak membuat rasa bersalahnya menghilang begitu saja.


"James.... tolong... jangan berlutut di depanku.... Kamu tidak bersalah." Elenora berkata sambil memegang bahu James, dan berusaha melepaskan kakinya dari pelukan kedua lengan James.


"James, kita bisa bicara baik-baik, lepaskan aku dulu."


"Tidak! Aku tidak akan melepasmu sampai kamu berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku lagi tanpa pesan. Tolong maafkan aku Ele, tapi jangan pernah meninggalkanku lagi." James berkata dengan nada penuh emosi, seperti anak kecil yang tidak ingin terpisah dari orangtuanya.


James tidak lagi perduli bahwa saat ini dia terlihat tidak sadar akan statusnya sebagai seorang Xanderson yang selama ini dianggap sebagai keluarga paling berkuasa di Italia, tidak seharusnya berlutut di depan orang lain.


Tapi bagi James harga dirinya tidaklah penting di hadapan wanita yang dicintainya itu.


Dia memilih untuk berlutut seberapa lamapun Elenora memintanya, daripada kehilangan Elenora lagi.


James langsung bangkit berdiri dan memeluk tubuh Elenora yang semakin terguncang karena tangisnya begitu James memeluknya dengan erat.


"Jangan menangis Ele, kamu semakin membuatku merasa bersalah." James berkata sambil mengelus lembut punggung Elenora yang berusaha membalas pelukan James dengan gerakan pelan dan ragu.


Namun begitu kedua lengan Elenora sudah benar-benar memeluk tubuh James, tangis Elenora terdengar semakin keras, membuat airmatanya membasahi pakaian yang dikenakan oleh James.


"James, maafkan aku karena meninggalkanmu tanpa memberitahukan apa yang sudah terjadi padaku. Waktu itu aku begitu malu dan takut karena kejadian malam itu. Aku tidak sanggup memberitahukan padamu tentang kejadian yang bagiku sungguh menjijikkan. Apalagi saat itu kamu bahkan tidak mengenaliku sama sekali, meskipun kamu menolongku dan jelas-jelas melihatku. Karena itu, begitu tiba di rumah dan menceritakan apa yang sudah aku alami, aku meminta kepada kedua orangutaku untuk pergi sejauh mungkin agar bisa melupakan semuanya. Beberapa kali aku mencoba untuk menceritakan hal itu padamu, dan mengembalikan jas yang kamu berikan padaku waktu itu, akan tapi selalu saja berakhir dengan ketidak beranianku." Elenora mencurahkan isi hatinya dengan suara parau, membuat James menghela nafasnya, dengan dadanya yang bergetar hebat, menyadari bahwa istri yang dicintainya mengalami hal yang membuatnya terpuruk seperti itu.


Sedang Elenora sendiri, saat ini tidak menyangka dia bisa berbicara selancar itu, menceritakan pada James tentang apa yang ada dalam hatinya.


Dan itu membuat sesuatu yang selama ini begitu mengganjal di hati Elenora, terasa lepas, dan membuat hati Elenora merasa begitu lega.


“Maafkan aku Ele, maaf karena aku tidak mengenalimu waktu itu dan terlambat mengetahui tentang peristiwa yang menimpamu waktu itu.” James berkata pelan.


“Tenanglah, jangan menangis lagi. Mulai sekarang, ada aku yang akan selalu berdiri di sampingmu dalam keadaan apapun. Dan mulai sekarang, jangan menyembunyikan apapun dariku. Bicaralah padaku tentang semua hal tentang kamu. Jadikan aku sebagai sandaranmu yang akan siap kapanpun juga saat kamu membutuhkan aku.” James kembali berkata pelan, membuat Elenora menarik nafas panjang untuk mencoba menghentikan tangisnya.


"James... ti amo con tutto il cuore. Sei tutto per me. sole della mia vita."  (James... aku mencintaimu sepenuh hati. Kamu adalah segalanya bagiku, matahari dalam hidupku). Perkataan Elenora membuat dada James berdegup kencang, dengan nafasnya yang sedikit memburu.


Perkataan Elenora membuat hati James begitu berbunga-bunga dan melayang tinggi. Setelah sekian lama berpikir Elenora sengaja meninggalkannya dan tidak mencintainya, baru saja James mendengar bibir Elenora yang mengungkapkan rasa cinta kepadanya, membuat detakan dada James semakin menggila.


Dengan gerakan cepat akhirnya James mendekatkan melepaskan pelukannya, sedikit mendorong tubuh Elenora ke depan dengan salah satu tangannya yang setelah itu berpindah ke arah tengkuk Elenora, dan mendekatkan wajah cantiknya, sehingga tanpa diduga-duga oleh Elenora, bibir James langsung mencium bibir Elenora dengan lembut dan penuh perasaan.