My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SULITNYA MENYANGKAL RASA DI HATI



Entah sejak kapan, tapi sejak kehadiran Elenora, tanpa sadar James menjadi orang yang sering uring-uringan dan mengomel sendiri.


Sebuah suara ketukan dari arah pintu kantornya segera menyadarkan James dari lamunannya.


Dan sebelum James mengucapkan kata-kata untuk mengijinkan orang yang mengetuk pintu masuk, dengan bergegas, James berlari menuju meja kerjanya.


James mulai berpura-pura duduk di kursi yang ada di balik meja kerjanya, dan membaca berkas-berkas yang ada di depannya dengan sikap serius.


“Masuk!” Setelah merasa posisinya sudah terlihat baik-baik saja, James segera meneriakkan kata-kata yang menunjukkan bahwa dia mengijinkan orang yang baru saja mengetuk pintu kantornya untuk masuk.


“Selamat siang Pak James….” Begitu pintu terbuka dan sosok Audrey masuk diikuti oleh Elenora di belakangnya, Audrey langsung mengucapkan salamnya kepada James.


“Selamat siang. Duduklah di sana.” James berkata sambil tangannya menunjuk ke arah dua kursi yang ada di hadapannya, dipisahkan oleh meja kerjanya.


“Eh, Audrey, tolong ambilkan berkas tentang perjanjian kerjasama kita dengan dua perusahaan yang akan melakukan jadwal meeting denganku selama aku pergi, agar Elenora bisa mempelajarinya.” James segera memberikan perintah baru kepada Audrey yang dengan sigap menganggukkan kepalanya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan James.


Elenora yang melihat Audrey pergi, sedang wajah James menunjukkan aura tidak bersahabat, membuat gadis itu duduk dengan sikap kikuk dan salah tingkah.


Untuk beberapa waktu mereka berdua bertahan dalam keheningan.


Elenora yang sedikit menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya saling bertaut di atas pangkuannya.


Sedang James sedikit menundukkan kepalanya dengan posisi menatap ke arah berkas yang terbuka di hadapannya, walaupun sebenarnya tatapan matanya tidak ada di sana.


James sengaja melakukan itu agar tidak ada yang tahu kalau dia hanya berpura-pura konsen ke arah berkas itu untuk mengendalikan dirinya sendiri di depan Elenora, sambil menunggu Audrey kembali ke kantornya.


Ist... kenapa dia hanya diam saja? Membuat suasana semakin canggung.


James berkata dalam hati setelah melirik ke arah Elenora yang diam di tempatnya.


"Maaf Pak James...." Akhirnya terdengar suara pelan dari Elenora.


"Hmmm...." Sebuah sahutan berupa gumaman pelan dari bibir James terdengar untuk menanggapi panggilan dari Elenora kepadanya.


Yes... Akhirnya... akhirnya dia memanggil namaku...


James berkata dalam hati sambil menyembunyikan senyum bangganya karena pada akhirnya Elenora yang memulai untuk membuka pembicaraan diantara mereka berdua.


Sebenarnya suara pelan dari Elenora yang memanggil namanya, membuat James inginnya segera mengongakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah wajah gadis itu, tapi egonya tetap membuatnya bertahan untuk bersikap seolah tidak menanggapi panggilan Elenora.


"Kenapa meminta maaf padaku?" Setelah beberapa detik kemudian Elenora tidak melanjutkan bicaranya, akhirnya James bertanya kepada Elenora sambil matanya seolah-olah masih sibuk membaca berkas yang ada di depannya, sehingga tidak merasa perlu berbincang kepada Elenora sambil menatap wajah gadis itu.


James sungguh berharap bahwa Elenora akan meminta maaf padanya tentang bagaimana dia yang sudah menebar pesona kepada Dodi dan Alex tadi siang di kantin.


Meskipun James tahu, bahwa tidak mungkin Elenroa tahu dan sadar bahwa tindakannya tadi siang sudah membuatnya kebakaran jenggot dan merasa hatinya tidak tenang karena peristiwa tadi siang.


"Apa maksudmu kamu berniat melepaskan posisimu sebagai sekretaris pribadiku?" James langsung memotong perkataan Elenora yang tiba-tiba membuat hatinya tersulut amarah kembali.


"Tidak... bukan begitu.... Hanya saja, saya takut melakukan kesalahan karena tidak memiliki pengalaman yang cukup." Elenora berusaha menjelaskan kepada James tentang alasannya untuk menggantikan posisinya dengan sekretaris lain yang lebih berpengalaman.


"Lalu apa rencanamu selama aku pergi?" James berkata dengan tatapan menyelidik ke arah Elenora.


"Ornado sudah mengatakan pada saya jika saya tidak ikut bersama Pak James kali ini, saya bisa mulai menjalani pelatihan bersama Fred dan juga Dodi untuk mengembangkan kemampuan saya sebagai seorang sekretaris." Tanpa sadar mata James langsung melotot mendengar kata-kata Elenora yang dalam penangkapan James, justru memilih untuk menjalani pelatihan bersama Dodi daripada pergi sebagai seketarisnya.


"Apa sebegitu tidak menyenangkannya untuk pergi bersamaku? Sampai kamu memilih untuk tetap tinggal?"


"Bukannya begitu...."


"Apa kamu tidak ingin menjadi sekretarisku lagi? Apa kamu berniat untuk kembali ke Italia? Kalau begitu, kenapa dari awal kamu tidak menolak perjodohan ini?" James berkata dengan suara tinggi, menunjukkan bahwa laki-laki itu benar-benar marah sekarang, membuat Elenora justru terdiam, dan tidak berani menjawab semua pertanyaan dari James.


Kenapa dia tiba-tiba membahas tentang perjodohan kami? Bukannya masalah kepergian besok tidak ada hubungannya sama sekali dengan perjodohan kami?


Elenora berkata dalam hati tanpa berani menatap ke arah James.


"Kenapa denganmu? Apa semua yang aku katakan benar sehingga kamu tidak berani menjawabnya? Kamu...." James langsung menghentikan bicaranya begitu mendengar sebuah ketukan dari arah pintu kantornya.


"Masuk!" James berteriak dengan cukup keras, sehinggga membuat Elenora yang duduk di depannya sedikit tersentak karena kaget.


Melihat reaksi kaget Elenora James justru sedikit mendengus kesal.


Entah kenapa kadang dia merasa begitu marah pada Elenora tanpa bisa dia kendalikan, apalagi ingatan tentang peristiwa saat Elenora ingkar pada janjinya malam itu masih tetap teringat dengan begitu jelas dalam benak James setiap dia berhadapan dengan Elenora.


“Kemarahanmu saat ini menunjukkan apa yang aku katakan adalah benar. Kalau bukan karena dia menghilang hari itu, kamu tidak akan membencinya sebesar ini. Ah… salah… sebenarnya kamu tidak pernah membencinya, sebenarnya kamu begitu takut kehilangan dia saat itu, tapi kamu mengubahnya menjadi rasa kesal dan kecewa karena kamu tidak bisa menemukan dia saat itu. Kamu marah pada dirimu sendiri karena merasa menjadi orang yang tidak bisa selalu ada untuknya, sehingga dia menghilang begitu saja."


James kembali teringat akan perkataan Ornado waktu itu perihal analisanya tentang perasaan James yang sebenarnya kepada Elenora.


Dan ingatan itu membuat James sedikit termenung, mencoba memikirkan kembali kata-kata Ornado itu.


Tidak... sungguh hal yang tidak mungkin.... Semua yang dikatakan oleh Ornado waktu itu sungguh tidak mungkin terjadi padaku. Aku? Seorang Xanderson? Jatuh cinta dan menyukai Elenora? Haist.... benar-benar hal yang mustahil bagi kami berdua. Kondisi kami sudah seperti langit dan bumi, begitu jauh dan akan sulit untuk dipersatukan.


James berkata dalam hati sambil berpura-pura kembali fokus pada berkas-berkas yang ada di depannya.


Melihat hal itu Elenora hanya bisa menahan nafasnya sebentar sambil menatap ke arah berkas-berkas yang ada di hadapan James.


Mata Elenora sedikit terbeliak melihat bagaimana posisi berkas-berkas yang sedang dibaca James ternyata dalam kondisi terbalik.


Eh, kenapa berkas-berkas itu ternyata dalam kondisi terbalik? Apa James sedari tadi hanya pura-pura serius membaca berkas-berkas itu? Kenapa dia bertingkah seaneh itu? Marah-marah tidak jelas, juga berpura-pura serius dengan file di depannya.


Elenora berkata dalam hati sambil memandang ke arah pintu yang baru saja terdengar dibuka oleh seseorang, dan suara langkah kaki Audrey segera terdengar  memasuki kantor James.