My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
MENGKHAWATIRKAN ELENORA



Cladia langsung mengeryitkan dahinya begitu mendengar pembicaraan Elenora dengan lawan bicaranya terlihat membuat Elenora merasa gugup dan tidak nyaman.


“Al? Kenapa dengan Elenora? Apa dia sedang dalam masalah?” Cladia berbisik pelan ke arah Ornado yang sedikit menarik tubuh Cladia dalam pelukannya agar sedikit menjauhi tubuh Elenora.


“Jangan ikut campur urusan orang lain  jika orang itu tidak ingin kamu terlibat amore mio. Jika dia butuh bantuan kita, pasti dia akan memintanya. Sementara ini kita hanya bsia pura-pura tidak tahu, karena menguping pembicaraan orang juga bukan hal yang bagus.” Ornado berbisik pelan sambil mengajak Cladia untuk terus melangkah, meninggalkan Elenora yang masih sibuk dengan panggilan teleponnya.


“Tapi Al….” Cladia berkata dengan nada khawatir, karena tadi Elenora terlihat begitu gelisah saat berbicara di telepon.


“Tenang saja, Elenora akan baik-baik saja, ada banyak pengawal kita yang berjaga di sekitar para tamu kita, termasuk Elenora. Apalagi aku lihat tadi di dekat Elenora tampak Alex yang sedang mengawasi para anak buahnya. Percayalah tidak akan terjadi apa-apa dengan Elenora.” Ornado mencoba menenangkan Cladia yang tampak mengikuti langkah-langkah Ornado untuk menjauhi Elenora, tapi beberapa kali kepala Cladia menoleh ke belakang dengan wajah khawatirnya.


“Amore mio, jangan dipikirkan. Aku akan menghubungi James, jika kamu merasa masih kurang yakin dengan Alex dan tim keamanan kita, untuk memastikan Elenora baik-baik saja.” Ornado langsung menawarkan alternatif yang bisa dia lakukan untuk membuat Cladia merasa lebih tenang tentang Elenora.


“Tidak perlu Al, aku rasa Alex dan yang lain cukup bisa diandalkan. Aku hanya merasa khawatir tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Elenora dengan orang yang menelponnya, sepertinya orang yang menelponnya bukan orang-baik-baik.” Cladia berkata sambil merapatkan tubuhnya kea rah tubuh Ornado, yang baginya seperti tempat paling aman dan nyaman baginya.


“Jangan terlalu khawatir. Seperti yang aku bilang sebelumnya, jika butuh sesuatu, dia pasti akan meminta bantuan kepada kita atau yang lain.” Ornado tetap berusaha menenangkan Cladia yang masih terlihat khawatir.


“Al, sebenarnya aku merasa khawatir dengan Elenora yang ingin tinggal sendiri. Dia masih terlalu baru di negara ini. Dan aku selalu merasa, Elenora bukanlah seorang gadis yang kuat, kadang aku melihat kegugupan dan rasa tidak percaya dirinya terlalu berlebihan. Seolah ada kejadian di masa lalu yang membuatnya bersikap seperti itu.” Ornado sedikit terdiam mendengar perkataan Cladia.


Bagi Ornado, sangat masuk akal jika Cladia melihat sosok Elenora seperti yang baru saja dia katakan, karena Cladia juga pernah mengalami trauma akibat kejadian di masa lalu yang pernah dialaminya.


"Apa kamu ingin menahannya untuk tetap tinggal bersama kita amore mio?" Pertanyaan Ornado membuat Cladia langsung menggelengkan kepalanya.


"Seperti katamu, itu akan membuat hubungan yang tidak sehat antara kita. Aku hanya ingin tahu sebenarnya kenapa Elenora menjadi gadis yang mudah gugup dan tidak percaya diri seperti itu." Cladia berkata lirih.


“Kalau begitu, coba lakukan pendekatan secara pribadi padanya, agar dia mau mengungkapkan tentang apa yang pernah terjadi, dan kamu tahu karakter asli dari Elenora.” Jawaban Ornado membuat Cladia mengangguk pelan.


“Kenapa kamu justru tertawa Al?” Cladia bertanya dengan wajah penasarannya.


“Sepertinya kamu belum cukup mengenal dan hafal dengan karakter seorang Xanderson. Kami adalah orang yang sangat sulit untuk berpindah ke lain hati. Bagi kami, jika kami sudah jatuh cinta dengan seseorang… demi apapun kami akan tetap bertahan dan mendapatkannya sebagai pendamping hidup kami. Apapun yang terjadi, kami akan berjuang keras untuk menikahi orang itu. Itu terjadi pada semua laki-laki di keluarga Xaderson. Kamu bahkan bisa melihat contoh nyata papaku yang tidak pernah ingin menikah lagi meskipun mama sudah meninggal belasan tahun yang lalu.” Perkataan Ornado membuat Cladia mengernyitkan dahinya.


“Apa menurutmu James sebenarnya mencintai Elenora dan…”


“Pasti! Aku berani bertaruh, bahwa satu-satunya gadis yang pernah membuat James jatuh cinta hanyalah Elenora. Hanya saja si bodoh itu sampai sekarang tetap mengutamakan ego dan harga dirinya yang pernah terluka karena tindakan Elenora beberapa tahun yang lalu.” Ornado terdiam sesaat sambil membantu Cladia masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh salah satu pengawal yang berjaga di tempat parkir.


“Jangan khawatir. James tidak akan pernah bisa mengingkari perasaan cintanya. Akan ada waktunya dimana James tidak akan tahan untuk tidak mengakui isi hatinya pada Elenora. Kita tinggal tunggu waktunya saja. Dan aku harap, itu terjadi saat Elenora masih bertahan untuknya. Aku harap James tidak terlambat atau dia akan menyesali hal itu seumur hidupnya.” Ornado mengakhiri perkataannya sambil mengangkat kedua kaki Cladia agar bisa berselonjor.


Setelah itu Ornado langsung memberikan perintah kepada sopir untuk membuat sandaran kursi Cladia agar sedikit turun, sehingga Cladia bisa duduk dengan nyaman, dengan posisi sedikit berbaring.


Begitu Cladia sudah dalam posisi nyaman, Ornado segera menyusul untuk duduk di samping Cladia, dan meminta sopir menutup pintu mobil mereka agar Cladia bisa beristirahat dengan tenang.


Semua perkataan Ornado membuat Cladia tersenyum dan merasa lega sekaligus merasa beruntung dan bahagia.


Dalam banyak hal, Cladia tahu, dia bisa selalu mengandalkan suaminya itu. Sehingga Cladia merasa tenang dan yakin kali inipun, yang dikatakan oleh Ornado pasti terjadi.


“Al… apa seperti rencana kita, setelah dari Bali, kita pulang dan tidak lagi mengikuti perjalanan liburan mereka?” Ornado langsung mengangguk mendengar pertanyaan dari Cladia.


“Aku sengaja mengaturkan seperti itu agar kamu tidak terlalu lelah. Untuk selanjutnya, James yang akan menemani mereka untuk berlibur ke tempat lainnya. Kenapa amore mio? Apa kamu ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?” Pertanyaan Ornado  yang jelas menunjukkan bahwa laki-laki itu bisa menebak pikirannya, membuat Cladia tersenyum sambil tangannya meraih tangan Ornado, menggengamnya dengan begitu erat, lali membawa tangan itu mendekat ke arah wajah Cladia sendiri.


Setelah itu Cladia menempelkan punggung telapak tangan Ornado ke pipinya dengan sikap mesra, membuat Orando harus sedikit menahan nafasnya karena tindakan Cladia sukses membuat hatinya serasa hampir meledak karena merasa begitu bahagia, melihat Cladia yang semakin hari semakin menunjukkan rasa cinta dan sayang kepadanya melalui tindakan nyata padanya.