My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
FIX! MEREKA AKAN DATANG



"Dasar! Kamu merasa tenang darimana? Yang ada kamu sungguh mengganggu konsentrasi kerjaku saat ini." Ornado berkata sambil menggerakkan kursi kerjanya, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah James.


"Ayolah James, jangan terlalu khawatir, belum tentu auntie Carina serius dengan ancamannya. Bisa jadi mereka hanya datang berkunjung sekaligus ingin berlibur." Ornado yang sudah berdiri di samping James menepuk bahu saudara sepupunya itu, berusaha untuk menenangkannya.


"Hishh... aku takut, kali ini mamaku benar-benar serius. Karena sebelumnya Amadea bahkan sempat mengatakan padaku, ada kemungkinan jika dia tidak bisa menemani mama mengunjungiku, mama akan mengajak Elenora untuk menemaninya datang ke Indonesia. Benar-benar celaka." Ornado langsung menatap ke arah James dalam-dalam begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh James barusan.


"Cek saja ke Afro. Auntie Carina 2 hari lagi akan terbang ke Indonesia. Tanyakan pada Afro, apa Elenora mengajukan cutinya. Jika iya, berarti benar bahwa dia memang akan ikut ke sini." Begitu mendengar kata-kata Ornado, tanpa berpikir panjang, James segera menghubungi Afro, seperti apa yang dikatakan oleh Ornado.


Begitu selesai melakukan panggilan dengan Afro, James tampak diam termenung dengan wajah lemas, membuat Ornado sudah bisa menebak jawaban dari apa yang ditanyakan oleh James kepada Afro.


"Matilah aku kali ini Ad. Menurut Afro, bukan hanya Elenora yang akan datang ke tempat ini. Namun juga uncle Alberto dan juga kedua orangtua Elenora. Aku tidak tahu maksud kedatangan mereka, tapi aku merasakan instingku berkata bahwa aku akan mengalami malapetaka saat hari itu tiba." Ornado baru saja hendak mengecek apa yang dikatakan oleh James dengan menelpon Alberto, tapi panggilan masuk oleh Cladia membuat Ornado langsung mengangkat teleponnya.


"Hallo amore mio." Wajah serius Ornado langsung berubah penuh senyum begitu menerima panggilan telepon dari istri tercintanya.


"Al, baru saja papa menelpon, katanya 2 hari lagi papa akan datang bersama auntie Carina dan minta kita menyiapkan tempat untuk mereka semua di rumah kita. Kata papa, mereka ingin menjenguk kita setelah kejadian yang kita alami beberapa waktu yang lalu. Papa minta disiapkan 3 kamar untuk mereka di rumah kita." Penjelasan dari Cladia sudah cukup untuk membuat Ornado tersenyum dengan geli.


Sepertinya kali ini James benar-benar akan dalam posisi sulit karena kedatangan mereka. Papa meminta 3 kamar, itu artinya untuk papa, Elenora, dan orangtua Elenora. Auntie Carina pasti meminta untuk tinggal di hotel tempat James tinggal.


Ornado berkata dalam hati sambil menatap ke arah James.


"Al, kamar mana yang bisa kita gunakan untuk mereka semua? Kata papa mereka membutuhkan 3 kamar." Cladia melanjutkan bicaranya.


"Kalau begitu aku serahkan kepada nyonya rumah untuk mengatur segalanya. Minta bantuan tante Ema untuk mengatur semuanya amore mio. Tante Ema sudah lama selalu berada bersamaku, dia pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk menyambut kedatangan tamu isitimewa kita kali ini." Ornado berkata sambil melirik ke arah James yang duduk diam di sofa yang ada di kantor Ornado.


James berusaha pura-pura untuk tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Ornado dan Cladia. Tapi karena dia tahu pembicaraan itu berhubungan erat dengan nasibnya di masa depan, membuat James tetap menajamkan telinganya untuk bisa mendengar pembicaraan itu.


Kali ini sepertinya kamu benar-benar tidak akan bisa menghindar James. Entah apa kamu bisa melarikan diri dari perjodohan kali ini, setelah kamu berusaha menundanya sekian lama. Siapa suruh kamu tidak mampu menemukan wanita yang kamu inginkan secepat mungkin.


Ornado berkata dalam hati sambil menatap James dengan penuh simpati.


Walaupun Ornado sendiri pada dasarnya tidak pernah menentang perjodohan, karena untuk kasusnya dengan Cladia memang dia begitu begitu menginginkan Cladia untuk menjadi istrinya sejak 15 tahun yang lalu.


Namun, seperti kata James, itu akan menjadi sebuah pernikahan yang penuh dengan siksaan jika tidak ada cinta diantara mereka berdua. Dan Ornado tahu bahwa pendapat James memang ada benarnya.


Siapa yang mau menikah dengan gadis yang tidak dicintainya? Ornado pun bergidik membayangkan jika dia harus dijodohkan dan menikah dengan wanita selain Cladia.


Cladia, satu-satunya orang yang dianggap sebagai seorang wanita yang sesungguhnya oleh Ornado, dimana tidak seorang wanita manapun yang bisa membuatnya tergila-gila seperti yang sudah berhasil Cladia lakukan padanya.


Bahkan seorang Ornado Xanderson, sebagai pewaris tunggal grup Xanderson yang dikenal hebat dan tidak mudah dikalahkan oleh siapapun, juga tidak akan pernah mau mengalah pada siapapun.


Akan tetapi, jika itu berkaitan dengan Cladia, dia akan tunduk tanpa syarat di depan wanita yang begitu dicintainya itu.


"James, mamamu akan datang bersama dengan papa Alberto dan juga kedua orangtua Elenora. Cladia baru saja memberi kabar bahwa papa barusan menelponnya dan minta kami menyediakan 3 kamar untuk mereka di rumah. Berarti sudah bisa dipastiakn mereka semua memang akan datang ke Indonesia berama-sama." Ornado berkata sambil mengambil posisi duduk tepat di sebelah James yang langsung menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi.


James terlihat semakin tidak bersemangat mendengar berita dari Orando yang sebenarnya sedikit banyak sudah dia dengar saat Ornado melakukan panggilan dengan Cladia barusan.


"Menurut info, mereka akan berada di sini 2-3 hari saja." James berkata sambil menoleh ke arah Ornado yang langsung mengernyitkan dahinya.


"hanya sebentar. Bisa jadi, mereka memang sekedar mampir, bukan ada niat serius untuk menemuimu dan membicarakan rencana perjodohan, seperti yang kamu takutkan." Perkataan Ornado tetap saja membuat James tidak terhibur sama sekali.


"Perasaanku mengatakan bahwa justru mereka menghindari penolakanku. Jadi sengaja hanya datang sebentar, menyampaikan niat mereka, dan pergi meninggalkanku tanpa memberiku kesempatan untuk melakukan apapun agar dapat menolak perjodohan ini." James berkata denga wajah terlihat frustasi sekaligus pasrah.


"Ah sudahlah, masa bodoh dengan perjodohan itu. Ad, aku ijin siang ini untuk pulang cepat. Aku mau mendinginkan otakku terlebih dahulu." James berkata sambil bangkit dari duduknya.


"Ok, tapi ingat, jangan bertindak bodoh. Dengan pikiran tidak tenng jangan mengendarai kendaraan dengan kecepatan terlalu tinggi, jangan melamun. Tidak ada untungnya jika sampai terjadi apa-apa denganmu, sedangkan kamu belum merasakan indahnya sebuah pernikahan. Kamu pasti akan menyesal." Peringatan dari Orando sekaligus godaannya hanya dibalas dengan sebuah anggukan kecil dan senyum dipaksakan oleh James.